HERMENEUTIK DALAM ILMU-ILMU ALAM (Bag. 2)


Hermeneutik dalam Ilmu Alam

Dalam ilmu-ilmu alam – misalnya fisika, biologi, dan kimia – aspek historis, tradisi, dan budaya seringkali tidak diperhitungkan dalam analisis teori-teori dan penjelasannya.[1] Para ilmuwan cenderung menggunakan pendekatan formal dalam bidang ilmunya, meyakini bahwa ilmu alam adalah metodologi yang singular, yang akan membawa kita pada hasil yang objektif dan realistik terhadap pengamatan suatu fenomena. Pandangan ini merupakan pandangan para penganut positivisme, yang diperkuat oleh penemuan-penemuan dalam ilmu alam yang berhasil menyingkap banyak fenomena-fenomena alam.

Namun demikian dalam perkembangannya, muncul beberapa pandangan filosofis mengenai ilmu alam yang sedikit berubah dan rumit. Sejumlah pertanyaan filosofis yang cukup penting berkisar pada isu tentang perubahan keilmiahan (scientific change). Adakah suatu pola yang jelas terhadap cara gagasan-gagasan ilmiah berubah dari waktu ke waktu? Kapankah ilmuwan memutuskan meninggalkan teori lama ketika muncul teori yang baru? Apakah teori-teori yang baru secara objektif lebih baik dibandingkan teori-teori yang lama? Atau apakah konsep objektivitas masih tetap relevan? Sebagai contoh, apakah dengan adanya mekanika kuantum, maka lalu mekanika Newton kemudian ditinggalkan?

Diskusi paling modern yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah yang diberikan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions pada tahun 1963.  Kuhn berargumentasi bahwa ilmu alam bukanlah suatu metodologi yang singular, tetapi beragam disiplin yang kompleks yang tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan konteks sosial. Menurut Kuhn, kurangnya perhatian para ilmuwan terhadap sejarah ilmu alam menyebabkan mereka – para penganut positivisme – membentuk perspektif kegiatan ilmiah yang tidak akurat dan naif.[2]

Seperti judul buku yang ditulisnya, Kuhn sangat tertarik dengan apa yang ia sebut sebagai revolusi ilmiah atau revolusi ilmu pengetahuan (scientific revolutions) – yaitu suatu periode ketika suatu teori lama digantikan oleh suatu teori baru yang cukup berbeda atau revolusioner. Contoh revolusi ilmu pengetahuan adalah kemunculan teori Copernicus tentang tata surya yang menggantikan teori Ptolomeus, mekanika Newton yang menggantikan mekanika Kartesian, dan teori relativitas Einstein serta teori kuantum yang menggantikan mekanika Newton untuk “dunia yang sangat besar’ dan “dunia yang sangat kecil”.

Perubahan-perubahan dalam ilmu pengetahuan ini tidak lain adalah perubahan-perubahan interpretasi para ilmuwan terhadap fenomena alam yang dihadapinya. Sebelum sebuah interpretasi baru diterima sebagai pengganti interpretasi lama, maka interpretasi baru tersebut akan diuji dengan sangat kritis. Sebagian besar pengujian bukan difokuskan pada bagaimana latar belakang dan metode dari interpretasi baru tersebut, melainkan pada apakah interpretasi baru ini bisa menjelaskan fenomena alam dengan lebih memuaskan atau tidak (memiliki ruang lingkup yang lebih luas). Sebagai gambaran yang sudah sangat populer, ketika Newton menyaksikan buah apel jatuh dari pohonnya, Newton memberikan hipotesis bahwa ada gaya gravitasi yang bekerja antara dua buah benda. Para ilmuwan tidak mempedulikan cara Newton yang hanya dengan melihat buah apel jatuh saja bisa sampai pada hipotesis itu. Contoh lainnya, ilmuwan Belgia bernama Kekule, pada tahun 1865 menyatakan bahwa molekul benzena memiliki struktur heksagonal setelah ia bermimpi tentang ular yang sedang menggigit ekornya sendiri. Yang kemudian diuji oleh para ilmuwan lain adalah kebenaran struktur heksagonal tersebut, bukan kebenaran dari mimpi Kekule itu sendiri.

Revolusi ilmu pengetahuan relatif tidak sering terjadi. Sebagian besar sejarah ilmu pengetahuan diisi oleh apa yang oleh Kuhn disebut sebagai “normal science“, yaitu kegiatan para ilmuwan hari demi hari. Dalam keseharian para ilmuwan, mereka memiliki apa yang oleh Kuhn disebut paradigma, yaitu sekumpulan asumsi teoretis yang fundamental yang diterima atau disepakati oleh kalangan ilmuwan pada saat itu. Paradigma juga dapat diartikan sebagai jawaban-jawaban yang diberikan oleh para ilmuwan akan berbagai pertanyaan ilmiah, yang didasarkan pada asumsi-asumsi.

Paradigma menjadi semacam arah bagi para ilmuwan dalam normal science untuk mencari paradigma baru yang lebih cocok dengan fenomena yang menjadi objeknya. Aktivitas ilmuwan dalam normal science membawa mereka pada penemuan tentang ketidaksesuaian dan anomali suatu paradigma, sehingga paradigma tersebut perlu diperbaiki. Meskipun kesesuaian antara paradigma dengan objek fenomena alam tidak pernah sempurna – selalu terdapat hal yang tidak dapat dijelaskan oleh paradigma tersebut – tetapi para ilmuwan tidak menolak atau meninggalkan paradigma yang berlaku tersebut. Mereka menyebut ketidakcocokan tersebut sebagai rintangan (obstacle) yang dapat diatasi tanpa harus meninggalkan paradigma yang ada. Pada suatu saat akan terjadi krisis di mana sebuah paradigma baru yang benar-benar berbeda yang dapat menjelaskan ketidaksesuaian dan anomali paradigma lama yang diajukan untuk melawan paradigma lama. Dalam krisis ini – yang oleh Kuhn diibaratkan dengan krisis politik – tidak ada bukti-bukti logis yang dapat menyelesaikan peperangan antarparadigma tersebut. Dengan kata lain, pendapat Kuhn tersebut menyebabkan science menjadi irasional, subjektif, dan relatif. [3]

Berdasarkan uraian di atas mungkin akan muncul pertanyaan: bagaimana dengan perbedaan antara Naturwissenscaften atau ilmu-ilmu alam dan Geistesswissenscaften atau ilmu-ilmu sosial yang telah dengan sangat tegas dibedakan oleh Dilthey? Peter Winch dalam bukunya The Idea of Social Science and Its Relation to Philosophy (1958) berpendapat bahwa pemisahan tersebut dapat dipahami sebagai suatu dikotomi linguistik di antara keduanya. Kuhn sendiri, dalam pengantar kumpulan artikelnya Essential Tension (1970) menyatakan: What I as a physicist had to discover for myself, most historians learn by example in the course of professional training. Consciously or not, they are all practitioners of the hermeneutic method. In my case, however, the discovery of hermeneutics did more than make history seem consequntial. Its most immediate and decisive effect was instead on my view of science.[4]

Kuhn menyatakan dalam kumpulan artikel Essential Tension (1970) bahwa pengamatan-pengamatan selalu diinterpretasikan dalam konteks pengetahuan sebelumnya yang telah dimiliki. Beberapa contoh dalam sejarah ilmu pengetahuan alam menunjukkan bahwa apa yang dilihat oleh seorang pengamat tergantung pada objek yang dilihatnya dan juga pada pengalaman visual-konseptual yang telah diajarkan padanya.[5]

Pada tahun 1925 Heisenberg menulis sebuah artikel berbahasa Jerman yang menyampaikan gagasan mekanika kuantum sebagai re-interpretasi kuantum teoretis akan hubungan kinematika dan mekanika. Menurut Heisenberg, mekanika kuantum bukanlah penyelesaian baru dalam mekanika lama, tetapi mekanika baru yang sensitif terhadap intrinsic dependence objek-objek kuantum yang diukur, sesuai dengan fisika klasik daripada fisika kuantum yang baru. Re-interpretasi yang dilakukan Heisenberg ini mencontoh pada apa yang dilakukan Einstein ketika menyelesaikan masalah kontraksi panjang dan dilatasi waktu dengan melakukan re-interpretasi karakter ruang dan waktu. Apa yang dilakukan Heisenberg dan Einstein ini menunjukkan bahwa interpretasi – hermeneutik - juga terdapat dalam fisika, dan tentu saja juga dalam ilmu-ilmu eksperimental lainnya, yang memberikan kontribusi pada perspektif filosofi baru tentang fisika yang boleh jadi telah dibayangkan oleh Einstein dan Heinsenberg.[6]

Metode hermeneutik yang sebenarnya menjadi salah satu metode dalam ilmu-ilmu sosial berlawanan dengan metode explanatory yang biasanya digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Metode explanatory mengarah pada konstruksi model-model matematis dari variabel-variabel yang terukur maupun teoretis. Model-model ini dapat ditolak atau pun diterima didasarkan pada hasil-hasil percobaan yang dilakukan. Namun demikian tidak dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu sosial (atau ilmu tentang manusia) secara eksklusif bersifat interpretatif, juga tidak dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu alam secara eksklusif bersifat explanotary. Penggunaan metode hermeneutis dalam ilmu-ilmu alam seringkali tidak disadari oleh para ilmuwan sendiri, yang boleh jadi ini disebabkan karena begitu kuatnya keinginan ilmuwan untuk bersikap objektif dan rasional. Ilmuwan pada umumnya akan merasa malu dan bersalah jika menyampaikan suatu gagasan tanpa ada bukti-bukti empiris atau pun bukti-bukti logis. Penggunaan metode hermeneutis secara sengaja, dalam sejarahnya, hanya secara berani dilakukan oleh tokoh-tokoh ilmuwan tertentu yang memiliki karisma cukup besar di bidangnya, misalnya, Einstein yang menyampaikan interpretasi tentang cahaya yang bisa melengkung (yang pada akhirnya terbukti benar).

Usaha keras untuk mencari arti (meaning) dan pemahaman (understanding) dapat dilakukan dengan berbagai cara; metode ilmiah dalam ilmu alam bukan satu-satunya cara. Ilmu alam juga tidak dapat diklaim dapat memberikan jawaban akhir, melainkan hanya berupa pendekatan pemahaman yang lebih baik akan objek-objek alam semesta sebagai fungsi dari waktu dan usaha yang telah dilakukan.[7] Pendekatan pemahaman lama baik atau cocok untuk waktu dahulu, sedang pendekatan yang baru baik untuk waktu yang sekarang.

Kembali mengacu kepada pergeseran paradigma dalam ilmu alam sebagaimana yang disebutkan oleh Kuhn, maka dapat dikatakan bahwa terjadi diskontinuitas makna dalam ilmu alam, yaitu dari makna lama dalam paradigma lama ke magna baru dalam paradigma baru. Dalam hermeneutik, makna baru yang benar-benar berbeda tidak harus menggantikan makna lama, sebab, meskipun berbeda, mungkin keduanya valid dalam konteks historis dan budaya. Tentu saja, meskipun model formal keduanya benar-benar tidak dapat didamaikan, kita sering mendapatkan dalam ilmu alam bahwa pemahaman lama berdampingan dengan pemahaman yang baru, misalnya mekanika Newton dengan mekanika kuantum, termodinamika statistik dengan termodinamika fenomenologis.

Beberapa contoh berikut akan mencukupi untuk menunjukkan bagaimana ilmu alam menyertakan interpretasi atau hermeneutik di dalamnya. Dalam astronomi dan kosmologi, peranan hermeneutik sangat signifikan, dikarenakan dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain dalam ilmu alam, objek-objek yang dipelajari oleh astronomi tidak dapat diakses melalui eksperimen langsung dan terkontrol, dan juga sulit dimanipulasi.  Dalam kosmologi kontemporer, masalah kerumitan kuantum dan berbagai parameter kosmologi seringkali menimbulkan berbagai spekulasi yang non-empiris, misalnya gagasan tentang string-theory, yaitu teori yang ingin menggabungkan mekanika kuantum dengan teori relativitas, walaupun teorinya sendiri sebenarnya sampai saat ini belum dapat disusun. Teori ini diharapkan dapat menjelaskan peristiwa apa yang terjadi sesaat setelah Big Bang (Dentuman Besar).

Hal lain yang cukup menarik adalah teori multiverse, yang memberikan kemungkinan adanya jagat raya lain di luar jagat yang kita tempati ini. Sir Martin Rees, seorang kosmologis dari Inggris, dalam suatu kesempatan wawancara menyatakan:[8]

We can perhaps find intimations of the existence of these other universes. They may affect some detail of the quantum mechanics; there may be gravitational interaction between our universe and another separated by a few millimetres in some other dimension. One of the challenges of 21st-century physics, in my opinion, is to understand the relationship of gravity to the other forces and thereby give us a firmer picture of the initial tiny fraction of a second of our Big Bang. When we have that understanding, we will know whether our Big Bang has unique properties or whether it was part of some ensemble which could display variety. I think it will be attractive if it turns out that there is a multiverse allowing a variety of big bangs.

Dalam bidang fisika, khususnya dalam mekanika kuantum, dikenal istilah interpretasi Copenhagen (Copenhagen Interpretation). Sebagai teori tentang atom, mekanika kuantum mungkin merupakan teori yang paling sukses dalam sejarah ilmu alam. Mekanika kuantum memungkinkan fisikawan, ahli kimia, dan para insinyur mengembangkan berbagai teknologi baru melalui pemahaman akan objek-objek atomik. Namun demikian, teori mekanika kuantum ini juga menjadi tantangan bagi imajinasi kita. Mekanika kuantum sepertinya melanggar beberapa prinsip dasar fisika klasik yang telah cukup lama diyakini kesahihannya. Oleh karena itu, interpretasi mekanika kuantum diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran-pelanggaran ini. Salah satu perintis interpretasi mekanika kuantum adalah interpretasi Copenhagen, yang terutama dilakukan oleh Niels Bohr, Werner Heisenberg, dan Max Born. Sebenarnya, Bohr dan Heisenberg tidak pernah secara penuh sepakat pada bagaimana memahami formulasi matematis mekanika kuantum, dan tidak satu pun dari mereka yang pernah menggunakan istilah interpretasi Copenhagen. Bohr bahkan menjauhkan dirinya dari apa yang ia sebut interpretasi subjektif Heisenberg.[9]

Ketika ilmu alam menemui kebuntuan untuk menjelaskan satu fenomena secara formal, metode interpretasi menjadi salah satu alternatif untuk menjawabnya, walaupun sebagian besar ilmuwan yakin bahwa jawaban ini sebenarnya bukan jawaban yang memuaskan. Ketika para ahli fisika tidak dapat menjelaskan apa makna fisis simbol ψ (“psi”) dalam persamaan fungsi gelombang Schroedinger, walaupun penyelesaian matematisnya bisa ditemukan. Akhirnya dilakukanlah suatu interpretasi yang menyatakan bahwa kuadrat dari ψ sebagai rapat probabilitas menemukan partikel pada posisi dan waktu tertentu.[10]

Dalam bidang biologi molekuler, genom makin sering dirujuk sebagai teks atau kode, yang selanjutnya diinterpretasikan sebagai pembeda antara satu organisme dengan organisme yang lain.[11] Genom menjadi sangat masuk akal – tetapi menimbulkan kebingungan untuk menafsirkan pada awalnya – menjadi book of life, dan menimbulkan keinginan untuk menafsirkannya lebih jauh. Kadang-kadang, genom dikaitkan dengan probabilitas ada tidaknya penyakit keturunan.

Dalam teori evolusi yang diajukan oleh Darwin, masih tetap diperdebatkan apakah evolusi berkaitan dengan keyakinan keagamaan ataukah karena memang ada aturan ilmiahnya seperti yang diusulkan oleh Darwin. Karena para peneliti hanya dapat melakukan simulasi, dan tidak dapat membawa teori evolusi ke laboratorium dan diverifikasi, maka para peneliti tidak dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Argumen-argumen yang ada tersebut tetap akan dalam status sebagai interpretasi di mana fakta-fakta empiris dan argumen-argumen logis dikemukakan untuk mendukung masing-masing pendapat dengan derajat kepuasan yang berbeda-beda.

Dalam bidang medis, hermeneutik juga berperan dalam praktiknya. Salah satu pendekatan hermeneutik yang mungkin dalam bidang medis melibatkan pandangan pasien sebagai teks yang harus diinterpretasikan. Meskipun pandangan ini bukan tanpa penolakan, satu cara untuk menerapkan hermeneutik ke dalam bidang kedokteran adalah dengan mengasumsikan keluhan pasien sebagai teks. Keluhan pasien kemudian diinterpretasikan melalui berbagai sumber kedua yang pada akhirnya membentuk catatan medis pasien tersebut. Metode interpretasi untuk praktik pengobatan adalah melalui rencana treatment (perlakuan). Kualitas rencana treatment ini didasarkan pada pengalaman medis sebelumnya dan pendidikan yang diperoleh oleh tenaga medis. Seiring dengan berjalannya waktu, tenaga medis tersebut dapat memverifikasi hasil interpretasinya melalui progress yang dicapai pasien. Pada akhirnya, interpretasi memungkinkan pasien mendapatkan hidup baru dari awal dengan tubuh atau jiwa yang sudah sehat.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, dapat disebutkan bahwa walaupun pendekatan hermeunetik tidak begitu memuaskan para ilmuwan dalam rangka menjelaskan berbagai fenomena alam, namun ternyata pendekatan ini memiliki kontribusi yang cukup penting dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu alam. Pendekatan hermeneutik sebagai metode alternatif juga ikut mendukung terjadinya scientific revolution sebagaimana yang disebutkan oleh Thomas Kuhn. Ilmu-ilmu alam yang oleh penganut paham positivism dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang benar-benar objektif, ternyata juga memiliki sedikit sifat subjektif dan tidak benar-benar terbebas dari aspek historisnya.

DAFTAR  PUSTAKA

Bernstein, Richard, J., Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1985.

Cherfas, Jeremy, The Human Genome, Dorling Kindersley, London, 2002.

Esfeld, Michael, “Quantum Holism and the Philosophy of Mind, dalam Journal of Consciousness Studies 6, 1999.

Grassie, William, J., “Hermeneutics in Science and Religion”, Contribution to Encyclopedia of Religion and Science, Vol.1, Macmillan Reference, 2003.

Hardiman, F. Budi, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2003.

Heelan, Patrick, A., “After Postmodernism: The Scope of Hermeneutics in Natural Science”, dalam Studies in the History and Philosophy of Science (Cambridge)

Malhotra, Yogesh, Role of Science in Knowledge Creation: A Philosophy of Science Perspective, BRINT Institute, 1994, (URL:  http://www.kmbook.com/science.htm”title=”http://www.kmbook.com/science.htm” target=”_blank”http://www.kmbook.com/science… )

Okasha, Samir, Philosophy of Science: A very Short Introduction, Oxford University Press, Oxford, 2002.

Sir Martin Rees, dalam wawancara dengan editor Encarta, Latha Menon, dalam Microsoft Encarta Encyclopedia 2006 Edition, 2005.

Sumaryono, E, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Penerbit Kanisius, 1999.

Tjahjadi, Simon, P., Petualangan Intelektual, Penerbit Kanisius, 2004.

Usher, Peter, D., “Astronomy and The Canons of Hermeneutics: Mercury and Elusiveness of Meaning, dalam The Astronomy Quarterly, Vol. 3, Pachart Publishing House, Tucson, 1979.

Wilson, Jerry, D., Buffa, Anthony, J., Physics, 3rd Ed, Prentice-Hall Inc., New Jersey, 1990.

SEBELUMNYA : HERMENEUTIK DALAM ILMU-ILMU ALAM (Bag. 1)

Sumber : www.erlangga.co.id

Endnote :


[1] Heelan, Patrick, A., “After Postmodernism: The Scope of Hermeneutics in Natural Science”, dalam Studies in the History and Philosophy of Science (Cambridge)

[2] Okasha, Op. Cit., Hal. 81-84.

[3] Bernstein, Richard, J., Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1985, Hal. 22.

[4] Ibid., Hal. 30-31.

[5] Malhotra, Yogesh, Role of Science in Knowledge Creation: A Philosophy of Science Perspective, BRINT Institute, 1994, (URL: http://www.kmbook.com/science.htm” title=”http://www.kmbook.com/science.htm” target=”_blank”http://www.kmbook.com/science… )

[6] Heelan, Op. Cit.,

[7] Usher, Peter, D., “Astronomy and The Canons of Hermeneutics: Mercury and Elusiveness of Meaning, dalam The Astronomy Quarterly, Vol. 3, Pachart Publishing House, Tucson, 1979.

[8] Sir Martin Rees, dalam wawancara dengan editor Encarta, Latha Menon, dalam Microsoft Encarta Encyclopedia 2006 Edition, 2005

[9] Esfeld, Michael, “Quantum Holism and the Philosophy of Mind, dalam Journal of Consciousness Studies 6, 1999.

[10] Wilson, Jerry, D., Buffa, Anthony, J., Physics, 3rd Ed, Prentice-Hall Inc., New Jersey, 1990, Hal. 870-871.

[11] Cherfas, Jeremy, The Human Genome, Dorling Kindersley, London, 2002, Hal. 28.

About these ads
This entry was posted in filsafat, Pemikiran, Tafsir and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s