KONTROVERSI PEMIKIRAN TENTANG KETUHANAN, METAFISIKA DAN ALAM


Judul buku         :  Segi-Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam

Editor                   :  Dr. Ahmad Daudy, MA

Penerbit              :  Bulan Bintang, Jakarta

Tahun Terbit     :  1984

Tebal                    :  v + 109 halaman

Ibn Sina (filosof muslim di Timur) dan Ibn Rusydi (filosof muslim di Barat, Maghribi) adalah dua orang filosof abadi dalam sejarah pemikiran Islam yang menduduki tempat khusus dalam sejarah pemikiran dunia. Keduanya telah berhasil memadukan akidah al-Qur’an dengan filsafat Yunani.

Jika dalam kalangan para mutakallimin (teolog) terdapat kecenderungan berdalil dengan “baharu alam” sebagai bukti adanya Tuhan, maka itu disebabkan suatu pendirian bahwa alam itu dijadikan Allah sesuai dengan iradah-Nya yang azali. Tanpa kehendaknya alam ini tidak akan pernah terjadi. Dengan begitu, alam ini baharu  sedangkan Allah adalah qadim, tidak berawal.

Berbeda dengan konsepsi Ibnu Sina yang tidak tertarik dengan dalil tersebut. Sebab, dalil tersebut mengandung dalam dirinya suatu pengakuan bahwa seolah-olah ada suatu zaman dimana Allah tidak berbuat apa-apa dan baru kemudian Allah berbuat , lalu alam ini pun terjadi. Pendirian seperti ini, menurut Ibnu Sina, tidak benar karena Allah pernah menganggur dan kemudian bekerja. Hal ini hanya dapat berlaku pada manusia, tidak pada Allah Yang Maha Sempurna. Watak kesempurnaan mengharuskan Allah berbuat atau mencipta sejak azali, tidak hanya pada suatu waktu tertentu saja. Karenanya, Ibnu Sina mengajukan dalil lain sebagai bukti adanya Allah yang sesuai dengan sifat kesempurnaan-Nya, yaitu dalil wajib dan mungkin atau yang juga dikenal dengan dalil ontologi. Jika diandaikan alam ini mungkin hakiki, sebagai wataknya yang hakiki, maka ia tidak akan ada dalam kenyataan empiris seandainya tidak ada sebab yang wajib yang tidak mengandung dalam dirinya kemungkinan, karena mustahil ada padanya daur dan tasalsul sebab yang dimaksud adalah Allah.

Dalil tersebut tidak diterima oleh Ibnu Rusydi karena pembagian wujud kepada dua jenis itu (wajib dan mungkin) tidak dapat menjangkau semua jenis wujud. Sedangkan alam ini yang berwatak baharu sebagai dalil para mutakallimin juga ditolaknya karena kebaharuannya itu didasarkan pada konsep jauhar fard. Selanjutnya, Ibnu Rusydi mengajukan dalil lain yang sesuai bagi semua tingkatan manusia, yakni dalil ‘inayah yang didasarkan pada suatu kenyataan bahwa semua yang ada ini adalah sesuai dengan kebutuhan manusia, dan dalil ikhtira’ yang didasarkan pada segala sesuatu yang di langit dan di bumi adalah diciptakan, bukan terjadi dengan sendirinya.

Mengenai bagaimana alam ini diciptakan, Ibnu Sina menjelaskan dengan teori emanasi yang dalam filsafat Islam dikenal dengan nazhariyyatul faidh. Dalam teori ini, alam melimpah dari Tuhan, bukan karena kehendak-Nya, yang selanjutnya dikenal dengan adanya akal pertama dan terus hingga akal kesepuluh. Karena terjadi dengan melimpah, maka alam ini adalah qadim, namun karena ia hasil limpahan maka ia adalah baharu. Dengan kata lain, dari segi zatnya alam ini baharu dan dari segi zaman ia adalah qadim.

Konsepsi limpahan tersebut telah mengundang reaksi keras Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Dalam karyanya Tahafut Al-Falasifah, Al Ghazali menyanggah penafian iradah Tuhan karena alam ini melimpah maka ia terjadi dengan sendirinya tanpa kehendak-Nya, dan hal ini bertentangan dengan ajaran agama yang menetapkan iradah sebagai salah satu sifat Tuhan. Karenanya, Al Ghazali mengkafirkan orang yang mengatakan alam ini qadim karena selain syirik, juga menafikan Allah sebagai Pencipta alam ini.

Terhadap kritik Al Ghazali tersebut, Ibnu Rusydi telah menjawaqb dengan membela konsep Ibnu Sina. Baginya, kesempurnaan Tuhan harus dilihat dari sisi perbuatan-Nya sejak azali dan sejak itu pula iradah-Nya sudah berlaku.jika tidak, maka kita harus mengakui bahwa Tuhan pernah menganggur pada zaman tertentu, sesuatu yang tidak sesuai dengan sifat kesempurnaan-Nya. Walaupun begitu, ia tidak dapat menerima konsep Ibnu Sina bahwa karena Tuhan itu Esa, maka yang melimpah dari-Nya juga harus satu, yakni akal pertama. Menurut Ibnu Rusydi, yang melimpah dari Tuhan itu tidak hanya satu, tapi juga lebih dari satu.

Buku ini, Segi-Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam, merupakan rangkuman dan terjemahan empat makalah ilmiah dalam filsafat Islam yang ditulis para ahli. Makalah pertama yang ditulis Dr. M. Yusuf Musa berjudul “Ketuhanan dalam Pemikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi” (Al Ilahiyyat baina Ibn Sina wa Ibn Rusydi) Makalah kedua yang berjudul “Allah dan Alam dalam Konsepsi Ibnu Sina” (Allah wl Al ‘Alam;Al Silah bainahuma ‘inda Ibn Sina wa Nasibi Al Wasaniyah wa Al Islam fiha) yang ditulis oleh Dr. Muhd. Tsabit Al Fandi. Kedua makalah ini diseminarkan di Baghdad tahun 1952 yang menjelaskan secara detail pemikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi mengenai ketuhanan dan penciptaan alam berikut perdebatan antara keduanya.

Makalah ketiga berjudul “Tahafutul Falasifah Karya Al Ghazali” (Tahafutul Falasifah lil Ghazali) yang ditulis Dr. Ahmad Fuad Al Ahwany dan dimuat dalam Turats Insaniyah, Kairo, 1966, Nomor 11. Dan makalah terakhir ditulis oleh Dr. Muhd. Tsabit Al Fandi untuk “Seminar Al Ghazalil” di Damaskus tahun 1961 yang berjudul “Filsafat  Agama dalam Pemikiran Al Ghazali” (Min Falsafati Al Din ‘inda Al Ghazali). Kedua makalah ini berusaha menampilkan sosok Hujjatul Islam Al Ghazali dengan argumentasinya mengenai masalah ketuhanan dan metafisika beserta argumentasi sanggahannya terhadap konsep Ibnu Sina, Ibnu Rusydi dan Al Farabi.

Buku ini sangat menarik dan dalam kajiannnya. Walaupun kecil dan singkat, tetapi cukup jelas dan dapat merangsang para pembaca untuk berpikir tentang masalah-masalah yang diketengahkan atau lainnya yang sejenis ataupun dapat menemukan suatu alternatif lain dari penyelesaian yang ditawarkan, mengingat masalah-masalah yang dibahas erat kaitannya dengan ajaran dasar agama Islam.

Namun demikian, karena buku ini merupakan kumpulan makalah yang diterjemahkan, maka tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan atau kekurang cocokkan dalam penerjemahannya sehingga bisa menyimpang dari makna aslinya. Sehingga disarankan kepada pembaca agar dapat merujuk kembali kepada tulisan aslinya.

About these ads
This entry was posted in filsafat, Pemikiran, Resensi Buku and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s