ISLAM DAN FEMINISME


Definisi Feminisme

Feminisme adalah sebuah ideologi sekaligus sebuah gerakan pembebasan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak antara dua jenis manusia: laki-laki dan perempuan, yang dikembangkan oleh kalangan Eropa Barat.[1] Istilah feminisme ini atau sering juga di sebut gender menurut Dr. Mansour Fakih, belum ada uraian yang mampu menjelaskan secara singkat dan jelas. Mereka menghendaki pemisahan gender dan seks. Artinya secara kodrati tidak perlu dipermasalahkan tetapi secara sifat itu yang perlu diperhatikan. Bagi mereka, konsep gender sendiri yaitu suatu sifat yang melekat pada lawan laki-laki maupun perempuan yang dikonstuksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan itu dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa.[2]

 

Kata feminisme ini sendiri barasal dari kata latin femina yang artinya memiliki sifat keperempuanan.[3] Femninisme diawali dari persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki. Dari sebuah persepsi inilah timbul bebagai upaya untuk mengkaji penyebab ketimpangan-ketimpangan tersebut dan ingin mencoba menemukan sebuah formula penyetaraan hakperempuan dan laki-laki di segala bidang dengan adanya potensi mereka sebagai manusia.

 

Asal Mula Feminisme

Gerakan ini lahir pada abad 19, gerakan ini cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Pada saat itu perempuan di negara-negara Eropa ingin memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukan bahwa secara umum kaum perempuan (feminim) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki, khususnya pada masyarakat yang sifatnya patriarki. Dalam feminisme ada bebrapa gelombang, gelombang pertama terjadi di negara Eropa,[4] pada saat itu dimana kaum perempuan merasa dirugikan baik dalam bidang pendidikan sosial, maupun dalam bidang politik. Sedangkan gelombang kedua ini lahir pada tahun 1960, yaitu ditandai dengan puncaknya hak suara perempuan diikut sertakan dalam parlemen. Pada tahun 1960 inilah sebuah awal bagi perempuan untuk mendapatkan hak suara didalam parlemen dan hingga ikut serta dalam kancah perpolitikan negara.

 

Pada tahun 1960-an ini gerakan ini cukup mendapatkan momentum sejarah. Untuk menunjukan bahwa sistem sosial masyarakat modern dimana memiliki struktur cacat akibat budaya patriarkal yang sangat kental. Marginalisasi peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik, merupakan bukti konkret yang diberikan kaum feminis.[5] Gerakan feminisme ini berjalan terus, sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini, namun tetap saja terlihat banyak mengalami halangan.

 

Feminisme gelombang kedua ini merupakan suatu proyek transformasi radikal dan bertujuan untuk menciptakan dunia yang difeminiskan. Dengan adanya operasi penindasan dalam berbagai kehidupan, ketidak adilan dalam ranah politik dan kekuasaan dan kemudian hal itu menjadi kajian para feminisme gelombang kedua, karena itulah pada dekade tersebut lahir apa yang disebut dengan politik feminisme. Politik feminisme yang dimaksud dalam konteks global yaitu memperjuangkan hak ikhwal terhadap perempuan. Dalam dekade sekarang ini ada banyak aliran-aliran bermunculan dipanggung sejarah pemikiran dan praktik politik, diantaranya kita kenal dengan aliran feminisme liberal,[6] feminisme radikal, feminisme marxis, feminisme anarkis, dan terakhir feminisme postmodern.[7]

 

Perkembangan Feminisme Dari Barat Hingga Islam

Dewasa ini, memang tidak bisa dipungkiri, bahwa seluruh aspek kehidupan kaum muslim saat ini sedang berada dalam kondisi terpuruk akibata dari rendahnya taraf berpikir mereka. Munculnya sebuah gagasan tentang feminisme di dunia islam ini, adalah salah satu bagian kecil dari fenomena al-ghazwu al-fikri. Dimana hal ini tidak hanya melibatkan banyak pihak tetapi kaum muslimah juga ikut terlibat, jelas ini berarti bahwa kondisi kaum perempuan sangat buruk, termasuk juga didalamnya melibatkan perempuan muslim, sehingga pada akhirnya para aktifis perempuan merasa terdorong untuk melakukan berbagai analisis yang kemudian melahirkan isu-isu turunan, contohnya: isu kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan terutama dibidang politik,[8] dan lain sebagainya.

 

Kaum feminisme tetap percaya bahwa dengan mewujudkan ide kesetaraan gender ini merupakan hal yang niscaya, bahkan merupakan sebuah keharusan jika keterpurukan perempuan ingin cepat diselesaikan. Namun mereka mengakui bahwa tidak mudah memperjuangkan kesetaraan gender ini. Ada sebuah istilah yang kita kenal yaitu istilah pemberdayaan (empowerment), yang artinya adalah sebagai salah satu proses yang bertujuan untuk mengubah arah dan sifat dari kekuatan-kekuatan sistemik yang memarjinalkan perempuan dan kelompok rentan lainnya. Adapun maksud istilah kekuatan sistemik yaitu mencakup seluruh struktur kekuasaan diberbagai level dan bidang, baik darai level bidang pemerintahan, negara, maupun masyarakat.

 

Adanya kemunculan politik islam telah menarik minat pada kedudukan dan peran perempuan dalam masyarakat muslim. Namun minat ini tidak sepenuhnya baru, sebab sebutan kata “islam” didunia barat ini lebih cenderung menarik perhatian khusus pada kedudukan perempuan. Perbedaan penafsiran dan pemahaman tentang islam oleh kaum tradisional. Modernisasi dan sekularis, yang didasarkan pada klaim Al-qur’an dan Hadits. Itu jelas memperhatikan bahwa masalah-masalah yang muncul adalah sebagian dari sesuatu yang masih ada dalam kerangka acuan islam. Alternatifnya, usaha untuk memahami peran perempuan dalam islam dari perspektif non muslim dan memasukkan prinsip-prinsi liberal barat yang sekuler kedalam islam.

 

Persoalan gender dan peran perempuan sudah merupakan bagian integral dari sistem nilai dan pandangan dunianya.[9] Kaum feminis berpendapat bahwa wanita dalam bahasa Jawa yaitu “wani ditoto” yang artinya berani ditata. Namun dalam Prasasti Gandasuli ditemukan kata serapan yaitu “Parpuanta[10] yang artinya yang dipertuan atau dihormati bisa juga dikatakan sebagai gelar kehormatan yang berarti tuan. Untuk itu kaum feminisme tidak mau menggunakan istilah wanita, tetapi lebih memilih istilah perempuan. Persepsi meraka bahwa istilah wanita mengandung makna bias patriarki, mereka juga berpendapat bahwa pola hidup perempuan itu sebenarnya sama dengan laki-laki, namun perempuan diberikan kelebihan potensi untun mengandung dan menyusui anak, oleh sebeb itu potensi ini tidak dimiliki oleh laki-laki.

 

Jika dilihat dari sudut pandang Feminisme Barat maupun islam, hijab sepertinya merupakan penghalang utama yang mencegah perempuan muslim dan secara umum masyarakat muslim untuk menjadi beradab. Feminisme Barat juga merupakan produk modernisme dan posmodernisme. Gerakan dan madzhab pemikiran ini secara fundamental dan prinsipil barada dalam konflik yang serius dengan pandangan-pandangan islam.[11] Namun dengan demikian banyak persoalan tertentu yang diajukan feminisme dalam kesepahaman dengan pandangan-pandangan islam mengenai perempuan.

 

Selanjutnya, menurut seorang pendapat aktifis perempuan, Musdah Mulia memandang Islam dan Feminisme menurut buku yang beliau tulis mengenai perempuan dan politik. Berdasarkan analisa dan fenomena diatas, berkaitan dengan hak perempuan, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hak perempuan itu selalu tertindas dan dibatasi. Menurut  bukunya Musdah Mulia ini dijelaskan bahwa perempuan selalu mengalami lebih banyak halangan ketimbang laki-laki.[12] Disinilah perempuan harus membuktikan bahwa dirinya memang pantas dan bisa diandalkan. Salah satu kuncinya ada tiga unsur yang merajut kepemimpinan dalam diri seseorang, yaitu kekuasaan, kompetensi diri, dan agresif kreatif adalah unsur-unsur kemampuan memimpin seseorang. Menurut beliau untuk memperhatikan fenomena ini sangatlah penting bagi kita khususnya kaum perempuan, baik dalam perspektif barat maupun islam.

 

Daftar Pustaka

Agustino, Leo. Perihal Ilmu Politik: Sebuah Bahasan Memahami Ilmu Politik,  Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Ahmed, Leila. Wanita dan Gender dalam Islam: Akar-akar Historis Perdebatan Modern, Jakarta: PT. Lentera Basitama, September 2000.

Gembala, A. H. Jemala. Membela Perempuan: Menakar Feminisme dengan Nalar  Agama, Jakarta: Al-Huda, Juli 2005.

Mulia, Siti Musdah, dkk. Perempuan dan Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,   2005.

Okbah, Farid Achmad. Feminisme Dalam Timbangan, diakses pada 14 Maret  2010. http://www.alislam.or.id

Sidah, Na’jma, dkk. Revisi Politik Perempuan: Bercermin Pada Sahabiyat r. a, Jakarta:  CV. Idea Pustaka Utama, Oktober 2003.

S. Ansori, Dadang. Membincangkan Feminisme: Refleksi Muslimah Atas Peran Sosial  Kaum Wanita, Jakarta: Pustaka Hidayah, November 1997.

Yamani, Mai. Feminisme dan Islam: Perspektif Hukum Dan Sastra, Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, April 2000.           

 


[1] Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik: Sebuah Bahasan Memahami Ilmu Politik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), Cet. I. h.236.

[2] Farid Achmad Okbah, Feminisme Dalam Timbangan, diakses pada 14 Maret 2010. http://www.alislam.or.id.

[3] Dadang S. Ansori, Membincangkan Feminisme: Refleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita, (Jakarta: Pustaka Hidayah, November1997), Cet. I. h.19.

[4] Leila Ahmed, Wanita dan Gender dalam Islam: Akar-Akar Historis Perdebatan Modern, (Jakarta: PT. Lentera Basitama, September200), Cet. I. h. 10.

[5] Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik…, h. 237.

[6] Dadang S. Ansori, Membincangkan Feminisme…, h. 24.

[7] Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik…, h. 243.

[8] Najma Saidah dan Husnul Khatimah, Revisi Politik Perempuan: Bercermin Pada Sahabiyat r. a, (Jakarta: CV. Idea Pustaka Utama, Oktober2003), Cet. I, h. 20.

[9] Mai Yamani, Feminisme dan Islam: Perspektif Hukum dan Sastra, (Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, April 2000), Cet. I. h. 326.

[10] Najma Saidah dan Husnul Khatimah, Revisi Politik Perempuan…, h. 121.

[11] A. H. Jemala Gembala, Membela Perempuan: Menakar Feminisme dengan Nalar Agama, (Jakarta: Al-Huda, Juli 2005), Cet. I. h. 36.

[12] Siti Musdah Mulia dan Anik Farida, Perempuan dan Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), Cet. I. h. 2.

About these ads
This entry was posted in makalah, Pemikiran, Penelitian and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s