Posisi Tafsir Tarbawi Berdasarkan Pohon Metodologi Tafsir


Oleh : Miftahul Khaer, S.Th.I

Al-Qur’an sebagai sumber keilmuan dalam ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin memerlukan penafsiran dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Tafsir dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar (kata benda) dari fassara yang berarti menjelaskan, menerangkan. Menurut Imam al-Zarkasyi, tafsir adalah suatu ilmu yang digunakan untuk memahami al-Qur’an, menjelaskan, mengeluarkan hukum-hukum, peraturan-peraturan dan ajaran-ajaran darinya dengan menggunakan perangkat ilmu-ilmu lainnya. (Al-Itqan: Juz 1, 436).
Pada prinsipnya, penafsiran terhadap al-Qur’an dapat dilakukan dengan dua macam metode, yaitu metode bil ma’tsur yang referensi penafsirannya terfokus hanya pada al-Qur’an itu sendiri—yakni penafsiran suatu ayat dengan ayat lainnya—dan hadis Nabi Muhammad saw. metode selanjutnya yang digunakan dalam penafsiran al-Qur’an adalah metode bil ra’yi yang lebih mengedepankan penggunaan akal untuk menafsirkan Kitab Allah agar sesuai dengan perkembangan serta kebutuhan masyarakat pada masa mufassir menafsirkan al-Qur’an.
Namun demikian, dalam praktek penafsirannya kedua metode tersebut menjadi berkembang. Setidaknya mufassir menggunakan 4 metode atau model aplikasi lanjutan, yakni pertama Model Penafsiran Ijmali, yang penafsirannya terhadap al-Qur’an lebih global dalam arti betul-betul terfokus pada ayat-ayat Allah dan hadis-hadis Nabi dalam penafsirannya. Kedua, Model Penafsiran Tahlili, yaitu tafsir al-Qur’an yang penafsirannya menggunakan cara ayat per ayat sesuai dengan urutan surat dan ayat di dalam al-Qur’an. Model ini lebih banyak digunakan oleh para ulama mufassir konvensional. Ketiga, Model Penafsiran Muqarin, adalah penafsiran dengan metode perbandingan ayat yang ditafsirkan dengan ayat lainnya yang seusai dengan pembahasan/maksud ayat tersebut. Keempat, Model Penafsiran Maudhu’i, adalah penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan cara tematis, yakni pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an yang sesuai dengan tema/materi yang akan dibahas. Pada model penafsiran yang keempat ini, kemudian berkembang menjadi berbagai jenis model penafsiran sesuai dengan ilmu-ilmu yang sedang berkembang saat ini. Diantaranya terdapat model tafsir tarbawi yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an tentang pendidikan, model tafsir hukmi yang menjelaskan ayat-ayat tentang hukum, model tafsir falsafi yang menjelaskan ayat-ayat tentang filsafat, model tafsir sufi yang menjelaskan ayat-ayat tentang sufi dan tasawuf, dan lain sebagainya.
Berdasarkan pemaparan di atas, kedudukan atau posisi model tafsir tarbawi dalam corak dan metode penafsiran al-Qur’an adalah terdapat pada corak penafsiran maudhu’i (tematis) yang merupakan salah satu hasil perkembangan pemikiran umat Islam dalam bidang tafsir pendidikan.

This entry was posted in makalah, Pemikiran, Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s