Al-’Ilal Al-Hadis


Kata al ‘ilal adalah bentuk jamak dari kata al ‘illah yang secara etimologis berarti al maradh (penyakit atau sakit).[1] Sedangkan menurut terminologi ahli hadis adalah sebab terembunyi yang mencacatkan hadis walaupun secara lahiriah tampak terhindar dari cacat.[2]

Hadis yang ber-illat adalah hadis yang kelihatan sudah memenuhi criteria ke-shahih-an hadis, baik sanad maupun matan, tetapi setelah dilakukan penelitian secara mendalam dan dibandingkan dengan hadis lain yang semakna ternyata ditemukan kecacatan.[3] Oleh karena itu, muhaddisin menyimpulkan, sebagaimana ditulis oleh Ibn Al Shalah, orang yang mampu meneliti illat hadis hanyalah orang yang cerdas, memiliki hafalan hadis yang banyak, paham hadis yang dihafalnya, mendalam pengetahuannya tentang berbagai tingkat ke-dhabit-an periwayat dan ahli di bidang sanad dan matan hadis. [4]

Sementara menurut Al Hakim, syarat utama yang harus dimiliki orang yang melakukan penelitian illat hadis adalah hafalan, pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang hadis.[5] Dengan persyaratn yang cukup berat untuk melakukan penelitian illat hadis menunjukkan bahwa penelitian illat hadis sangat sulit.[6]

Diantara para ulama yang menulis ilmu ini adalah Ibn Al Madini (234 H), Ibn Abi Hatim (327 H). kitab beliau ini dinamai Kitab ‘Ilal Al Hadis. Dan diantara yang menulis kitab ini pula, Al Imam Muslim (261 H), Al Daruqutni (375 H) dan Muhammad Ibn ‘Abdillah Al Hakim.[7]


[1] Munzir Suparta dan Utang Kanuwijaya. Ilmu Hadis (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hal. 29.

[2] Bandingkan dengan Fath Al Mughits karya Al ‘Iraqi, juz I hal. 106 – 107.

[3] Bustamin dan M. Isa H. A. Salam. Metodologi Kritik Hadis (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 58.

[4]  Ibn Shalah. Muqaddimah Ibn Al Shalah fi ‘Ulum Al Hadis (Beirut: Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyah, 1989), hal. 7 – 8.

[5]  Ibn Shalah. Muqaddimah Ibn Al Shalah fi ‘Ulum Al Hadis, hal. 42.

[6]  Bustamin dan M. Isa H. A. Salam. Metodologi Kritik Hadis.

[7]  Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997), hal. 140.

This entry was posted in Hadis, makalah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s