BERPIKIR FILSAFAT ? SALAH ? SESAT ?


Jika kita sudah merasa yakin dengan kemampuan berpikir logis kita dan memiliki sebuah ide-ide filsafat yang mendasar, maka tidak ada salahnya untuk mengikuti berbagai diskusi dan perdebatan. Banyak manfaat yang bisa kita peroleh, pertama kita bisa mendapatkan perspektif yang berbeda dari rekan diskusi kita. sehingga dengan demikian kita dapat merumuskan persoalan-persoalan baru yang bisa dipecahkan untuk menyempurnakan ide-ide filsafat tersebut.

Misalnya saja kita mempunyai pandangan bahwa “Tuhan adil terhadap seluruh umat manusia” dimana “Ia menciptakan manusia secara sempurna”. Namun rekan diskusi kita bakal mengkritik pandangan itu. Kritik karena nyatanya Tuhan juga menciptakan orang-orang yang cacat. Apakah Tuhan adil dalam hal ini? Atau misalkan pandangan bahwa “Shalat itu tidak wajib” padahal nyatanya sejak zaman dahulu sudah jelas dalil yang mengatakan tentang kewajiban shalat.

Maka pertanyaan demikian membuat kita perlu berpikir lebih keras untuk mempertahankan pandangan tersebut. Dengan demikian harus kita jelaskan apakah yang dimaksud dengan keadilan Tuhan atau argumen tentang shalat tadi. Bagaimanakah keadilan menjadi mungkin dengan kenyataan bahwa orang-orang terlahir cacat dan shalat menjadi tidak wajib dengan kenyataan adanya dalil-dalil yang menyatakan kewajibannya dan umat Islam tetap melaksanakannya?

Namun kadang, tidak semua diskusi tentang filsafat berlangsung dengan menyenangkan. Kadang berakhir dengan debat kusir. Seperti yang pernah saya alami ketika berdiskusi dengan sekelompok aktivis kampus ketika saya masih kuliah di Jakarta. Dimana mereka memiliki keyakinan bahwa hanya pemikiran Marxlah satu-satunya kebenaran. Tentunya pendapat ini sangat rentan dengan kritik.

Maka saya coba mendebat pendapat tersebut dengan metoda bertanya kritis. Mengapa ramalan muncul masyarakat tanpa kelas tidak terjadi di Eropa Barat? Mengapa Lenin yang berusaha mengimplementasikan pemikiran Marx malah menciptakan bentuk Negara yang diktator yang tidak sesuai dengan harap Marx yang mengimpikan masyarakat tanpa Negara? Dan akhirnya gagal? Jika kemudian dikatakan bahwa proyek Lenin adalah interpretasi keliru dari pemikiran Marx, seperti apakah bentuknya? Atau barangkali ide-ide Marx hanya terlihat tepat dalam penjelasan di atas kertas namun tidak demikian ketika akan diterapkan.

Awalnya diskusi ini berlangsung dengan baik. Di mana masing-masing berusaha untuk mempertahankan pendapatnya dengan memaparkan argumen-argumen yang masuk akal. Namun situasi diskusi berubah 180 derajat saat rekan-rekan aktivitas tersebut mulai terpojok oleh pertanyaan saya. Maka mereka mulai melakukan intimidasi dan diskusi dipenuhi suara-suara melengking dan bantingan meja. Dan karena saya tidak bisa menerima pendapat mereka sepenuhnya, mereka memvonis saya tidak mengerti Marx. Akhirnya diskusi tersebut berakhir dengan suasana yang kurang menyenangkan.

Dalam diskusi filsafat maka sebuah pendapat yang disampaikan haruslah didukung dengan argumen. Sebuah pendapat bisa disampaikan melalui cara berpikir deduktif maupun induktif. Intinya pendapat yang kita sampaikan merupakan kesimpulan yang kita ambil mengacu dalam proses berpikir yang logis.

Namun dalam perdebatan yang kurang sehat, proses beradu argumen secara logis berubah mendadak ketika seseorang merasa terpojok, kemudian mencoba mempertahankan pendapatnya dengan cara-cara yang menyimpang, bertujuan menciptakan penerimaan secara emosional daripada secara logis.

Argumen sesat timbul pendapat didukung dengan peryataan yang tidak masuk akal dan tidak berkaitan dengan pendapat ingin anda pertahankan. Cara-cara demikian perlu dihindari ketika berfilsafat. Adapun beberapa bentuk argumentasi yang tidak tepat dalam mendukung sebuah pendapat biasa disebut sebagai Fallacious Arguments.

Pertama, mementahkan sebuah pendapat dengan menyerang pribadi si empunya pendapat dari pada mencari kelemahan pada argumennya. Misalnya, “Menurut saya pemikiran Anda tentang feminisme tidak tepat buktinya Anda sendiri bercerai”. “Saya tidak bisa menerima pendapat si Fulan tentang pemotongan anggaran, karena dia adalah seorang koruptor di mata saya”.

Tentunya dalam perdebatan yang perlu anda buktikan adalah mengapa ide feminisme tidak tepat secara argumentatif dan tidak mengaitkan dengan kegagalan hidup pribadi yang menjalankan prinsip feminisme tersebut. Meskipun mungkin saja ide feminisme mendorongnya bercerai namun dalam perdebatan hal tersebut tidak bisa digunakan untuk menggugurkan pendapatnya.

Kedua, adalah dengan mengambarkan bahwa diri kita adalah seorang yang lebih tahu dari rekan debat kita sehingga pendapat kita lebih benar. Misalnya, “Menurut saya adalah kita perlu mengembangkan pabrik senjata tepat 100%, karena saya memahami betul apa itu militerisme, saya berkarir di bidang itu sudah 30 tahun”. Bukankah sebuah keahlian perlu ditunjukkan dengan bagaimana ia mampu menyampaikan argumen secara logis? Atau “Pendapat saya haruslah kamu dengar karena saya lebih tua dari kami dan lebih banyak pengalaman”. Apakah benar pendapat orang yang lebih tua akan selalu lebih baik dari seorang yang lebih muda.

Ketiga, adalah dengan menyatakan jika pendapat tidak benar maka konsekuensi buruk bakal terjadi misalnya. “Menurut pendapat saya pemerintah militer terbaik, karena jika tidak maka negara akan selalu dalam ancaman. Atau seorang terdakwa pembunuh harus diputuskan bersalah oleh pengadilan, karena kalau tidak akan mendorong suami lainnya untuk membunuh istrinya.

Metoda ini menurut saya mirip dengan metoda intimidasi, “Jika anda tidak mendukung saya maka akan terjadi kekacauan”. Meskipun layak dipertanyakan apakah ada hubungan antara militer dengan keamanan negara. Dalam sebuah diskusi pendapat, sebaiknya tidak didukung oleh sesuatu hal yang belum tentu terjadi.

Keempat, menyatakan bahwa sesuatu benar karena yang salah belum dapat dibuktikan. Misalnya “menurut saya Tuhan itu ada karena anda belum bisa membuktikan bahwa Tuhan tidak ada”. Atau “Indonesia adalah negara yang bebas korupsi karena anda tidak dapat membuktikan bahwa korupsi ada di Indonesia”. Apa yang belum dapat dibuktikan belum tentu tidak ada.

Kelima, mengatakan bahwa sesuatu pendapat benar jika sesuatu yang diharapkannya terjadi. Misalnya saya jamin bahwa pemikiran Marx ini tepat dan mensejahterakan, jika orang yang menjalankannya menafsirkan pemikirannya dengan tepat. Pertanyaannya apakah jika pemikiran Marx diterapkan sebagaimana seharusnya dijamin pasti akan mendatangkan kesejahteraan?

Keenam, mengatakan bahwa pendapat kita benar atau pendapat kita tidak benar karena hal sebaliknya benar atau salah. Misalnya, kebanyakan orang dewasa tidak suka sayur maka pendapat saya masuk akal jika kebanyakan anak-anak suka sayur. Atau “pendapat yang mengatakan bahwa kebanyakan orang dewasa mengalami kesulitan belajar karena, umumnya anak-anaklah yang mengalami kesulitan tersebut, sehingga orang dewasa tidak bermasalah terhadap hal tersebut”.

Ketujuh, mementahkan pendapat seseorang dengan membuat karikatur yang nyeleneh terhadapnya. Misalnya “Mengakui hukum evolusi sama saja dengan menganjurkan agar saya dengan Saudara harus bertarung untuk dapat bertahan hidup”. “Membenarkan percintaan antara seorang wanita dengan pria yang lebih muda sama saja berarti seorang kakak berpacaran dengan adiknya”.

Kedelapan, mengatakan suatu pendapat karena belum ada kepastian tentang data informasi yang lebih tetap tentang sesuatu hal. “Misalnya dengan mengatakan bahwa tidak benar Indonesia terancam kelaparan, karena saat ini belum ada data yang pasti tentang korban busung lapar dan gizi buruk”. Korban kelaparan itu ada meskipun akurasi datanya masih diperdebatkan.

Kesembilan, mendukung sebuah pendapat dengan membuat dikotomi. Menurut saya mengapa kita harus fokus terhadap masalah pendidikan saja, karena kita tidak bisa menyelesaikan masalah pengangguran tanpa terlebih dahulu mengatasi masalah pendidikan masyarakat” atau “Kita harus terlebih dahulu mengatasi korupsi sebelum memikirkan soal pertumbuhan ekonomi”. Meskipun kedua masalah tersebut bisa diatasi secara bersamaan.

Kesepuluh, mendukung sebuah pendapat dengan mengatakan bahwa pendapat tersebut sesuai dengan pandangan para ahli. Misalnya, “mengapa wanita lebih baik tinggal di rumah, karena menurut para ahli psikologi wanita idealnya menjadi ibu di rumah”. Tentunya perlu dipertanyakan ahli yang mana dan siapa, karena pendapat ahlipun tidak selalu benar.

Kesebelas, mendukung sebuah pendapat menggunakan pandangan seseorang yang tidak sesuai dengan topik yang sedang dibahas. “Menurut saya, Perekonomian Indonesia menuju kehancuran, hal ini didukung pendapat Bapak Fulan, dosen kedokteran”. Tentu Bapak Fulan bukan ahli di bidang ekonomi sehingga pendapatnya tidak dapat dijadikan acuan.

Keduabelas, membuat generalisasi berlebihan. Misalnya “menurut saya wanita lebih mudah ditarik masuk ke agama suaminya dibandingkan sebaliknya dalam perkawinan beda agama, karena saya punya Saudara yang mengalami hal tersebut”. Tentunya apakah pengalaman Saudaranya cukup untuk menyatakan bahwa wanita cenderung lebih mudah ditarik masuk agama suaminya dari pada sebaliknya. Atau kesalahan ini lazim terjadi dalam berpikir secara induktif.

Ketigabelas, mendukung sebuah pendapat dengan memperhalus kata. Misalnya, “ Pemerintah tidak salah dalam hal ini, bahwa polisi tidak melakukan anarkis terhadap mahasiswa, melainkan tindakan preventif”. Meskipun buktinya ada korban di kalangan mahasiswa, bahkan termasuk yang tidak ikut demonstrasi.

Di atas merupakan beberapa contoh kesesatan berpikir yang perlu hindari jika ingin menjadi filsuf sejati. Untuk mencegahnya syaratnya mudah, dengan membiasakan menyampaikan pendapat dengan didukung argumen yang masuk akal. Di fokuskan pada pendapat bukan pada pribadi di luar pendapat atau hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan logis atau tidak logisnya pendapat tersebut. Dengan berdiskusi secara positif akan sangat bermanfaat bagi membangun pemikiran kita. Semoga.

This entry was posted in filsafat, Pemikiran and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to BERPIKIR FILSAFAT ? SALAH ? SESAT ?

  1. Azhari Mohamad says:

    Dari uraian bung tadi benar sekali. Kesesatan berpikir akan berakibat pada kesesatan bertindak. Untuk itu, jangan terburu-buru untuk mengambil satu kesimpulan.
    Slam kenal, Bung.

  2. Ya..FIlsafat memang sesat.. dari filsafat itulah muncul beragam ideologi kafir dan lainnya, seperti: Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme. Mari tinggalkan filsafat, dan kembali kepada Al-Qur’an, Hadits dan Ijma’ Sohabat Nabi SAW. dengan sumber yang benar, maka pemahaman akan benar, tindakan pun akan benar.. sedangkan sumber yang salah akan mengakubatkan sebaliknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s