Hadis Pendidikan : Mimbar Sebagai Media


حَدَثَناَ قُتَيْـَبةُ بْنُ سَعِيْدٍ قَالَ حَدَّثَناَ يَعْقُوْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْقَـارِيُّ الْقُرَشِيِّ الْإِسْكَنْدَارَنِيُّ قَالَ حَدَّثنَاَ أبُوْ حَازِمِ بْنِ دِيْنَارٍ أنَّ رِجَالاً أتَوْا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيُّ وَقَدْ امْتَرَوْا فِى اْلمِنْبَرِ مِمَّ عُوْدُهُ فَسَـألُوْهُ عَنْ ذَلِكَ وَاللهِ إنِيّ لَأعْرِفُ مِمَّا هُوَ وَلَقَدْ رَأيْتُهُ أوَّلَ يَوْمٍ وًضِعَ وَأوَّلَ يَوْمٍ جَلَسَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى فُلَانَةَ امْرَأةٍ مِنَ اْلأنْصَارِ قَدْ سَمَّاهَا سَهْلٌ مُرِيْ غُلاَمَكِ النَّجَّارَ أنْ يَعْمَلَ لِي أعْوَادًا أجْلِسُ عَلَيْهِنَّ إذَا كَلَّمْتُ النَّاسَ فَأمَرَتْهُ فَعَمِلَهَا مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ ثُمَّ جَاءَ بِهَا فَأرْسَلَتْ إلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأمَرَ بِهَا فَوَضَعَتْ هَا هُنَا ثُمَّ رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلىَّ عَلَيْهَا وَكَبَّرَ وَهُوَ عَلَيْهَا ثُمَّ رَكَعَ وَهُوَ عَلَيْهَا  ثُمَّ نَزَلَ اْلقَهْقَرَى فَسَجَدَ فِى أصْلِ اْلِمنْبَرِ ثُمَّ عَادَ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلىَ النَّاسِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِـتَأْتمَوُّاْ وَلِتُعَلَّمُوْا صَلاَتِي —  رواه البخاري [1

Mufradat

امْتَرَوْا               : Ragu-ragu, berselisih, berbeda pendapat

أعْوَادًا              : Potongan kayu-kayu

اْلقَهْقَرَى            : Kembali ke belakang, mundur

Terjemah Hadis

Dari Qutaibah ibn Sa’id, ia berkata, dari Yakub ibn Abdurrahman ibn Muhammad ibn Abdullah  ibn Abdul Qari Al Qurasiy Al Iskandaraniy, ia berkata, dari Abu Hazim ibn Dinar sesunguhnya orang-orang mendatangi Sahal ibn Sa’d As Sa’idiy dan mereka berbeda pendapat tentang kebiasaannya (berdakwah) di mimbar. Mereka menanyakan hal itu kepadanya. Demi Allah sesungguhnya saya mengetahui hal itu. Saya mengetahui pertama kali hal itu ditetapkan dan pertama kali Rasulullah saw. duduk di atasnya.  Rasulullah saw. mengirim surat kepada seorang perempuan Anshar bernama Sahal (yang berisi), “Perintahkanlah pelayanmu (dari) Bani An Najjar  supaya ia membuatkan untukku kayu-kayu (mimbar) yang saya duduki ketika saya berbicara di depan manusia.” Maka ia (Sahal) menyuruh ghulam-nya dan ia mengerjakannya dari kayu-kayu hutan. Kemudian ia datang membawanya dan mengirimkannya kepada Rasulullah saw. Rasul menyuruh (untuk meletakkan) nya, maka diletakkanlah (mimbar itu) di sini. Lalu saya melihat Rasulullah shalat di atasnya seraya bertakbir sedang beliau di atasnya. Kemudian ruku’ dan beliau berada di atasnya. Kemudian beliau turun menuju ke belakang dan sujud di pangkal mimbar lalu kembali (ke mimbar). Ketika selesai, beliau menghadap manusia dan berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya saya melakukan ini agar kalian menyempurnakan dan mempelajari sholatku.” (HR. Bukhari).

Penjelasan Hadis

Matan hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bukunya Shahih Bukhari pada kitab Al Jum’ah bab Al Khutbah ‘alal minbar. Di dalam syarah-nya disebutkan bahwa sanad dan matan madis tersebut sangat baik (jayyid) dan hadis ttersebut bersambung langsung (marfu’) kepada Rasulullah.[2] Hadis yang senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nasa’i, Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal dan Ad Darimi.[3]

Pada masa Rasulullah saw. media pengajaran telah menjadi salah satu aspek pendidikan yang menjadi perhatianRasul, yakni dengan dibuatnya panggung (mimbar) untuk praktek shalat yang diajarkan langsung oleh Rasulullah agar semua yang ikut dalam proses belajar dapat melihat dengan jelas gerakan-gerakan shalat yang diperagakan Rasulullah di atas panggung. Hal ini menegaskan betapa pentingnya suatu media pengajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan cepat.

Para ahli berbeda pendapat tentang pengklasifikasian media pembelajaran/pengajaran. Gagne mengelompokkannya menjadi tujuh macam, yaitu benda untuk didemonstrasikan (contohnya: mimbar/panggung dalam hadis di atas), komunikasi lisan, gambar cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara dan mesin belajar.


[1] Bukhari, Shahih Bukhari (Beirut: Dar Al Fikr, 1994), Juz 1, hal 273.

[2] Ibn Hajar Al Asqalani, Fathul Bari.

[3] A. W. Wensick, Al Mu’jam Al Mufahras Li Alfadzi Al Hadis Al Nabawi (Leiden: Maktabah Baril, 1936).

This entry was posted in Hadis, Pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s