REVIEW ATAS PENAFSIRAN ILMIAH TERHADAP AL-QUR’AN (Bag. 1)


Foto Keluarga Zaman Baheula

A. MUKADIMAH

Pada saat Al-Qur’an diturunkan, Nabi Muhammad saw. yang berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan kepada para sahabatnya tentang arti dan kandungan Al-Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar (Mutasyabihat). Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya Rasulullah hingga kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dan tabi’in. Kegiatan tersebut menjadi penting disebabkan tidak semua ayat Al-Qur’an dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. disamping tuntutan zaman yang terus berkembang.

Pada mulanya, usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah bahasa serta arti yang dikandung oleh satu kosakata. Namun sejalan dengan laju perkembangan masyarakat, berkembang dan bertambah besar pula porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an sehingga muncul berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya. Sebagaimana di ungkap oleh Muhammad Arkoun yang dikutip Quraish Shihab (1992: 72) bahwa: “Al-Qur’an memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas…. Dengan demikian, ayat selalu terbuka (untuk interprestasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interprestasi tunggal”.

Salah satu dari beberapa corak penafsiran  yang dikenal selama ini adalah corak penafsiran ilmiah sebagai usaha muffasir untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tulisan ini merupakan kajian ulang (review) atas metode tafsir ‘ilmi dalam rangka me-refresh perkembangan pemikiran umat Islam sehingga Al-Qur’an dapat senantiasa menjadi hudan li al-naas pada masa dan zaman yang tidak terbatas.

B. METODOLOGI TAFSIR ‘ILMI

Al-Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan li al-naas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kebodohan (kegelapan) menjadi manusia yang berperadaban (QS. 38:1). Agar Al-Qur’an berguna sesuai dengan fungsinya, diperintahkan kepada umat manusia untuk mempelajari dan memahaminya (QS. 38:29), sehingga mereka dapat menemukan melalui petunjuk-petunjuknya yang tersurat dan tersirat yang dapat mengantar mereka menuju terang benderang (manusia yang berperadaban).

Jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui penafsiran-penafsirannya mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat, sekaligus penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka. Berikut ini akan dikemukakan selayang pandang tentang metodologi/corak tafsir ‘ilmi dan posisinya dalam perkembangan ilmi tafsir, serta bagaimana metodologi tafsir ‘ilmi tersebut di gunakan dalam menafsirkan Al-Qur’an dan peranannya dalam kehidupan masyarakat pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi serta era globalisasi dan informasi.

1. Tafsir ‘Ilmi dalam Pohon Metodologi Tafsir

Bermacam-macam metodologi tafsir dan coraknya telah diperkenalkan juga diterapkan oleh pakar-pakar Al-Qur’an. Setidaknya ada tiga poin penting dalam bahasan ilmu tafsir, yaitu : (1) Metodologi; (2) Etika, adab dan syarat kelayakan; dan (3) Kaidah-kaidah penafsiran.

Poin pertama dan kedua merupakan aspek teoritis yang berbicara bagaimana metodologi yang diterapkan ketika akan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta bagaimana etika dan adab seseorang dalam menafsirkannya, juga berbicara apakah orang tersebut layak dan pantas untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan syarat-syarat kelayakan yang sudah ditetapkan para ulama.

Aspek aplikatif dalam penafsiran Al-Qur’an terdapat pada poin ketiga, yakni kaidah-kaidah penafsiran. Ini berbeda dengan poin metodologi, dimana kaidah penafsiran merupakan suatu bentuk rumusan atau sistematika yang dapat memudahkan pemahaman Al-Qur’an dengan baik dan ia berada dalam tahap proses penafsiran, sedangkan metodologi berada pada tahap perencanaan, yakni dengan prinsip apa Al-Qur’an akan ditafsirkan dan bagaimana aplikasinya serta model atau corak apa yang akan diambil.

Terlepas dari dua poin terakhir di atas, metodologi penafsiran Al-Qur’an mempunyai tiga aspek penting yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Prinsip Penafsiran (Al-Manhaj al-Asasi)

Prinsip penafsiran di bagi menjadi tiga macam, yaitu tafsir bi al-Ma’tsur yang menafsirkan Al-Qur’an dengan riwayat-riwayat yang ditemukan dalam hadis Nabi dan atsar sahabat; tafsir bi al-ra’yi yang lebih mengandalkan penggunaan rasio dan logika; dan metode gabungan yang menerapkan penggunaan rasio dengan diimbangi penafsiran dalam hadis dan atsar.

2. Aplikasi Penafsiran (Al-Manhaj al-Tathbiqi)

Dalam aplikasinya, penafsiran mempunyai sistematika: 1) Tahlili (runtut berdasarkan urutan ayat dalam mushaf Al-Qur’an); 2) Maudhu’i (berdasarkan tema tertentu tanpa terikat susunan ayat dalam mushaf); 3) Ijmali (membahas secara global dan ringkas dengan fokus yang dinilai paling penting); 4) Muqorin (membandingkan beberapa pendapat mufasir terhadap penafsiran ayat Al-Qur’an).

3. Model Pengembangan (Al-Manhaj al-Tathwiri)

Model penafsiran dapat dikategorikan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, aspek tafsir lughowi (kebahasaan), hukmi (hukum), shufi (tasawuf), tarbawi (pendidikan), ‘ilmi (sains dan teknologi), ijtima’i (sosial kemasyarakatan), dan lain-lain. Model-model penafsiran ini umumnya dilakukan dengan metode maudhu’i (tematis) meskipun dapat juga dilakukan dengan metode lainnya.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa posisi tafsir ‘ilmi berada dalam ranah metode  tafsir bi al-ra’yi al-maudhu’i karena ia hanya akan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan (sains) dan tentu lebih mengandalkan pengunaan akal (rasio) ketimbang hadis-hadis nabi dan riwayat para sahabat.

2. Penerapan Model Tafsir ‘Ilmi

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa model tafsir ‘ilmi diterapkan dengan menggunakan metode maudhu’i. Metode maudhu’i, walaupun benihnya telah dikenal sejak masa Rasulullah saw., namun ia baru berkembang jauh sesudah masa beliau. Dalam perkembangannya, sebagaimana dijelaskan Quraish Shihab (1998: xii) dalam pengantar bukunya, metode maudhu’i mengambil dua bentuk penyajian. Pertama, menyajikan kotak (tema) yang berisi pesan-pesan Al-Qur’an yang terdapat dalam satu surat saja. Misalnya, surat Al-Kahfi yang arti harfiahnya adalah “Gua”. Dalam uraiannya, gua tersebut dijadikan tempat perlindungan sekelompok pemuda. Dari nama ini diketahui bahwa surat tersebut bisa memberi perlindungan bagi yang menghayati dan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Dari sini, setiap ayat atau kelompok ayat yang terdapat dalam surat Al-Kahfi diupayakan agar terkait dengan makna perlindungan tersebut.

Bentuk kedua adalah menyajikan ayat-ayat tertentu berdasarkan tema atau pokok/fokus penafsiran dan tidak hanya dalam satu surat saja, tetapi keseluruhan ayat dalam Al-Qur’an. Metode seperti ini baru berkembang pada tahun enam puluhan dan semakin banyak dipakai dewasa ini. Salah satu sebab munculnya bentuk kedua ini adalah semakin meluas dan mendalamnya perkembangan aneka ilmu pengetahuan, serta semakin kompleksnya persoalan yang memerlukan bimbingan Al-Qur’an.

Tafsir ‘ilmi merupakan salah satu model atau corak penafsiran Al-Qur’an yang membahas ayat-ayat tentang ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi, seperti penciptaan alam, penciptaan manusia, pergantian siang dan malam, ilmu-ilmu astronomi, dan lain-lainnya hingga teknologi komputer dan sistem informasi. Dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut, Al-Farmawi menjelaskan tahapannya (1977 : 62) sebagai berikut:

  1. menetapkan masalah (topik/tema) yang akan dibahas, dalam hal ini yaitu tentang sains dan teknologi;
  2. menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut;
  3. menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya disertai pengetahuan tentang asbab al-nuzul-nya;
  4. memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surat masing-masing;
  5. menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline);
  6. melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan;
  7. mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian sama, atau mengkompromikannya antara yang ‘am (umum) dan yang khash (khusus), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan.

Selanjutnya :

REVIEW ATAS PENAFSIRAN ILMIAH TERHADAP AL-QUR’AN (Bag. 2)

This entry was posted in makalah, Pemikiran, Tafsir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s