FISHBONE KAORU ISHIKAWA SEBAGAI ALAT PENGENDALI MUTU


PENDAHULUAN

Total Quality Management (TQM) masih menjadi sesuatu kontroversial, karena kesulitan dalam hall mempraktekkannya. Ada yang mengatakan TQM sebagai alternatif baru manajemen, tapi ada pula yang melihatnya sebagai lompatan manajemen menuju kesuksesan. Faktor-faktor penyebab keberhasilan atau kegagalan penerapan TQM sangat sulit diidentifikasikan, karena penerapan TQM sangat spesifik dengan kondisi perusahaan yang menerapkannya.

Konsep mutu dan pengendalian mutu dimulai dari industri yang memproduksi senjata dan peralatan militer pada perang dunia kedua. Setelah kalah perang, Jepang mulai lagi membangun negaranya dengan mempelajari konsep pengendalian mutu di negara-negara barat, terutama Amerika. Pada tahun 1950 Edward Deming dari Amerika datang ke Jepang untuk memperkenalkan teknik-teknik pengendalian mutu produk. Masyarakat industri dan ilmuan Jepang sangat antusias sehingga pengendalian mutu dikembangkan secara lebih baik. Pada masa-masa ini muncul Kaoru Ishikawa yang selanjutnya menjadi tokoh terkemuka di Jepang yang konsisten dalam pengembangan kendali mutu bagi perusahaan-perusahaan Jepang.

BIOGRAFI ISHIKAWA

Kaoru IshikawaKaoru Ishikawa (Ishikawa 石川馨 Kaoru) (1915-1989), seorang ilmuwan yang dilahirkan di Tokyo, Jepang merupakan anak tertua dari delapan bersaudara Ichiro Ishikawa. Pada Tahun 1939 beliau meraih gelar sebagai sarjana  teknik bidang kimia terapan dari Universitas Tokyo. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai teknisi kapal (1939-1941) kemudian pindah bekerja di Perusahaan Bahan Bakar Cair Nissan (Nissan Liquid Fuel Company) sampai tahun 1947.

Pada tahun 1960, Ishikawa menjadi professor tetap pada Fakultas Teknik, Universitas Tokyo. Profesor yang juga merupakan salah seorang murid dari Edward Deming ini aktif dalam pergerakan mutu di Jepang dan merupakan anggota dari Union of Japanese Scientist and Engineers (JUSE).

Setelah Perang Dunia II, Jepang terlihat mengubah sektor industrinya, tetapi pada saat itu Amerika Utara masih memandang Jepang sebagai produsen mainan murah dan kamera dengan kualitas rendah. Merupakan keahliannya dalam mengerahkan banyak orang ke arah tujuan yang lebih spesifik dengan tanggung jawab yang semakin besar untuk peningkatan kualitas di Jepang. Ishikawa menterjemahkan, menggabungkan serta memperluas konsep manajemen Deming dan Juran ke dalam Japanese system.

Pada saat itulah Ishikawa memperkenalkan konsep Quality Circles (Lingkaran Kualitas). Konsep ini dikembangkan sebagai percobaan untuk menemukan pengaruh kepemimpinan manajer perusahaan terhadap kualitas produksi. Meskipun banyak perusahaan diundang untuk berpartisipasi, hanya satu perusahaan—Nippon Telephone and Telegraph—yang menerimanya.

Diantara usahanya untuk meningkatkan kualitas adalah menyelenggarakan Konferensi Tahunan Peningkatan Mutu bagi Top Manajemen (1963) dan menulis beberapa buku tentang Quality Control. Dia adalah seorang ketua dewan redaksi majalah bulanan Statistical Quality Control. Ishikawa juga terlibat dalam kegiatan standardisasi internasional.

Atas jasa-jasanya itu dan konsistensinya dalam peningkatan mutu, Ishikawa mendapatkan sejumlah penghargaan yaitu, Deming Prize, the Nihon Keizai Press Prize, the Industrial Standardization Prize untuk karya tulisnya mengenai quality control, dan the Grant Award yang diperoleh dari American Society for Quality Control untuk program pendidikan mengenai quality control.

Ishikawa meninggal dunia pada tahun 1989. Sebagai penghargaan, di tahun kematiannya itu Juran mengatakan:

“Banyak hal yang harus dipelajari dengan mempelajari bagaimana Dr. Ishikawa berhasil kesuksesan dalam kehidupan pribadinya. Dia mendedikasikan dirinya untuk melayani masyarakat bukan sebaliknya, melayani dirinya sendiri”.

SISTEM KENDALI MUTU

Kaoru Ishikawa, seorang pakar kendali mutu terkemuka di dunia yang berasal dari Jepang mendefinisikan kendali mutu sebagai berikut , “Melaksanakan kendali mutu adalah mengembangkan, merancang, memproduksi dan memberikan jasa produk bermutu yang paling ekonomis, paling berguna, dan selalu memuaskan bagi konsumen”. Berdasarkan definisi ini kendali mutu selalu berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan dalam hal pendidikan berarti pelayanan yang dapat memuaskan para peserta didik. Ishikawa  percaya  bahwa  inisiatif  untuk  mencapai peningkatan kualitas yang berkesinambungan haruslah berasal dari organisasi secara keseluruhan.

Buku Ishikawa yang berjudul Guide to Quality Control (1982) dianggap klasik karena menjelaskan secara mendalam mengenai quality tools serta ilmu statistik yang terkait. Beberapa tool yang diperkenalkannya adalah user friendly control, Fishbone cause and effect diagram, emphasised the ‘internal customer’. Ishikawa juga yang pertama memperkenalkan 7 (seven) quality tools: control chart, run chart, histogram, scatter diagram, pareto chart, and flowchart yang sering juga disebut dengan “7 alat pengendali mutu/kualitas” (quality control seven tools).

Tool Ishikawa  yang  menjadi  sangat  populer  serta digunakan di seluruh dunia adalah diagram sebab akibat (Ishikawa Cause and Effect Diagram). Sering kali disebut sebagai fishbone diagram dikarenakan bentuknya yang menyerupai tulang ikan. Dalam penerapannya diagram ini digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap faktor yang menjadi penyebab masalah. Fishbone diagram tergolong praktis dan memandu setiap tim untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan.

Fishbone Picture 1

Penggunaannya dapat dilihat pada gambar di atas. Misalnya, ada masalah utama berupa peningkatan produksi (bagian kepala). Kemudian ada beberapa faktor masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai tulang besar, yaitu manajemen, material/bahan baku, sumber daya manusia (manpower), mesin dan metode. Selanjutnya, berdasarkan faktor masalah pada tulang besar itu dicari penyebab-penyebab (tulang kecil) yang mempengaruhi peningkatan produksi (kepala) dari masing-masing sisi (tulang besar). Secara ringkas, hasilnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Fishbone Picture 2

Dengan menerapkan diagram Fishbone ini dapat menolong kita untuk dapat menemukan akar “penyebab” terjadinya masalah, khususnya di industri manufaktur  atau organisasi pendidikan dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan. Apabila “masalah” dan “penyebab” sudah diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah perbaikan akan lebih mudah dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan kita untuk dapat melihat semua kemungkinan “penyebab” dan mencari “akar” permasalahan sebenarnya. Melalui diagram ini Ishikawa mengajarkan kita untuk melihat “ke dalam” dengan bertanya tentang permasalahan yang sedang terjadi dan menemukan solusinya dari dalam juga.

Penyelesaian masalah melalui fishbone dapat dilakukan secara individu top manajemen maupun dengan kerja tim. Seperti dengan cara mengumpulkan beberapa orang yang mempunyai pengalaman dan keahlian memadai menyangkut problem yang terjadi. Semua anggota tim memberikan pandangan dan pendapat dalam mengidentifikasi semua pertimbangan mengapa masalah tersebut terjadi. Kebersamaan sangat diperlukan di sini, juga kebebasan memberikan pendapat dan pandangan setiap individu. Ini tentu bisa dimaklumi, manusia mempunyai keterbatasan dan untuk mencapai hasil maksimal diperlukan kerjasama kelompok yang tangguh.

Solusi instan yang hanya mampu memandang sampai tingkat gejala, tidak akan efektif. Masalah mungkin akan teratasi sesaat, namun cepat atau lambat akan datang kembali. Kaoru Ishikawa yang juga penggagas konsep implementation of quality circles ini sangat percaya pentingnya dukungan dan kepemimpinan dari manajemen puncak (top management) dalam suatu organisasi/perusahaan didukung oleh kerjasama tim (teamwork) yang solid sangat berperan dalam pembuatan produk unggul dan berkualitas.

PENUTUP

Total Quality Management semakin marak diterapkan berbagai macam tipe organisasi, baik dalam dunia industri maupun dunia pendidikan. Bagi Kaoru Ishikawa, Top Manajemen merupakan unsur terpenting dalam keberlangsungan organisasi. Diagram fishbone yang diperkenalkannya dapat membantu para manajer dalam melaksanakan tugasnya sebagai pimpinan organisasi. Sebagai tokoh TQM di Jepang, ia memiliki falsafah, “utamakan membangun manusianya, baru kemudian membuat barang”.

REFERENSI

Fattah, Nanang.1999. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://wikipedia.com

Ishikawa, Kaoru. 1992. Pengendalian Mutu Terpadu. Diterjemahkan oleh Budi Santoso. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Quality Management Center Newsletter. Edisi 16/V/Februari/2009. Jakarta: Universitas Bina Nusantara.

This entry was posted in makalah, Pemikiran, Pendidikan, Penelitian and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to FISHBONE KAORU ISHIKAWA SEBAGAI ALAT PENGENDALI MUTU

  1. Salam kenal untuk Pak Miftah.
    Artikel ini bagus, mau mnta ijin saya sarikan dan akan saya loading di blog saya, dimana blog ini merupakan wahana komunikasi kami di keluarga besar PT KTSM.
    Atas ijinnya saya ucapkan terima kasih.
    semoga pak Miftah sukses selalu.
    salam.
    Agung Nugroho

  2. Junaidi Berutu says:

    Ishikawa QC sangat perlukan pada problematika pendidikan……. sekolaaaah

  3. Pingback: Manajemen Mutu Pendidikan Pesantren | utawijaya

  4. Pingback: Aliran Sesat | utawiabuilmi1965

  5. Pingback: Pesantren Syumuliyah | Repository Jurnal Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

  6. Pingback: Download Prosiding Kesehatan Internasional | Terbaru 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s