PERANAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI SUPERVISOR (Bab III)


BAB III  PEMBAHASAN

A.    Peranan Kepala Sekolah SMP Islamiyah Weru Cirebon (Normatif)

1.      Pengertian Peranan

Kata dasar teori supervisi tentang peranan supervisor menurut Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir adalah mengembangkan kinerja personel, dan meningkatkan kompetensi profesional guru. Secara organisasi, prinsip mengembangkan kinerja personel dan kompetensi profesional guru yang dilakukan oleh kepala sekolah SMP Islamiyah Weru sudah berjalan walaupun dengan kemampuan yang terbatas, dalam arti berjalannya kinerja personel dan peningkatan kompetensi itu hanya berawal dari kesadaran guru yang ditimbulkan oleh teguran antar guru itu sendiri, namun pada tataran beban moral kepala sekolah, kinerja profesioinal dan peningkatan kompetensi itu belum berjalan dengan baik, karena kepala sekolah cenderung lebih mengandalkan kekuatan struktural sehingga yang terjadi berjalan apa adanya, lebih parah lagi bila tidak disertai kehadiran kepala sekolah maka kesadaran itu akan menurun tajam. Adapun sisi keberhasilan dalam kinerja personel dan peningkatan kompetensi guru adalah kepala sekolah telah mampu mengkondisikan struktur organisasi, sehingga setiap yang duduk di struktur organisasi bisa berjalan dan saling tegur satu sama lain.

2.      Tujuh Peranan Kepala Sekolah

Dari ketujuh peran utama kepala sekolah menurut teori Depdiknas, paling tidak ada 2 poin yang sudah terlaksana yaitu poin administrator dan poin wirausahawan, indikasi dari dua poin ini bahwa kepala sekolah cukup mampu untuk memberi kesejahteraan bagi guru dan melengkapi beberapa fasilitas sekolah yang diperlukan siswa. Adapu poin yang lainya tidak berjalan dengan maksimal dan bisa dikatakan tidak dijalankan secara sistematis. Indikasinya, kepala sekolah lebih sering dan cenderung konsen dan serius membahas tentang administrasi (anggaran dan keuangan) dibanding bagaimana menegur guru yang malas mengajar dan berada di kantor pada waktu jam mengajar. Selain itu, kepala sekolah juga belum pernah mengajar karena latar belakang pendidikannya bukan keguruan.

Dari landasan normatif menurut teori Depdiknas, semestinya kepala sekolah mampu melaksanakan EMASLIM-F dan menjalankan visi dan misi sekolah dengan baik. Paling tidak ada tiga aspek penting dari misi dan visi sekolah yaitu yang pertama, lulusan yang berakhlak terpuji. Upaya kepala sekolah dalam rangka menghasilkan lulusan yang berakhlak terpuji kurang maksimal, karena dari tahun ketahun akhlak siswa SMP Islamiyah weru tidak terlepas dari akhlak buruk seperti kasus minuman keras, melawan kepada guru, perkelahian, ngetrek (meminta uang secara paksa), tawuran, dan seterusnya. Yang kedua, berkarakter rajin belajar. Peran kepala sekolah dalam meningkatkan karakter rajin belajar sangat kurang, diantaranya kepala sekolah kurang memperhatikan siswa-siswi yang tidak mampu untuk memiliki buku LKS, jarang sekali menegur guru yang tidak masuk dan malas mengajar, tidak sama sekali mengadakan kegiatan yang meningkatkan kulitas kognisi siswa, perlombaan-perlombaan yang bernuansa ilmiah kurang diperhatikan. Yang ketiga, berprestasi dalam bidang keilmuan. Dalam hal keilmuan, memang siswa-siswi SMP islamiyah ini sangat lemah sekali bila dibandingkan dengan sekolah swasta lainnya, kejadian ini tidak lepas dari kurangnya perhatian kepala sekolah terhadap peningkatan kualitas keilmuan siswa.

B.     Kepala Sekolah SMP Islamiyah Weru dan Supervisi

1.      Pengetahuan Kepala Sekolah Tentang Supervisi

Kepala sekolah SMP Islamiyah cukup baik dalam kaitan perbaikan situasi sekolah yang berkeanaan dengan fisik (bangunan). Terbukti semenjak digulirkan banyak bantuan dari pemerintah kondisi fisik sekolah banyak menunjukan kemajuan dan perkembangan, dari hanya 1 tingkat bangunan sekarang menjadi 2 tingkat bangunan sekolah. Namun, kepala sekolah kurang memperhatikan dalam pembinaan situasi pembelajaran dan kurang konsen terhadap fungsi dari bangunan-bangunan tersebut.

2.      Usaha Kepala Sekolah Dalam Pelaksanaan Supervisi

Usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka peningkatan kompetensi dirinya sangat sedikit sekali, ini dibuktikan dengan jarangnya kepala sekolah mengikuti kegiatan rapat-rapat antar kepala sekolah atau mengikuti seminar-seminar tentang kependidikan. Namun, perannya cukup baik dalam membiayai guru dalam peningkatan kompetensi yaitu berupa mengikutkan guru dalam kegiatan MGMP, walaupun hanya kegiatan yang formal saja yang diadakan oleh Dinas Pendidikan, tapi kurang memperhatikan guru dalam bidang kegiatan peningkatan kompetensi yang tidak formal, seperti seminar-seminar yang diadakan oleh LSM atau perguruan tinggi (PT) atau kegiatan seminar atau pelatihan yang diadakan di sekolah. Belum lagi kegiatan pelayanan secara konsultatif, sampai sejauh ini belum ada guru yang diajak bicara atau konsultasi tentang bagaimana pelaksanaan KBM yang baik, yang pernah dilakukan adalah panggilan karena pelanggaran guru dalam melaksanakan tugasnya.

C.    Peran Kepala Sekolah SMP Islamiyah Weru Sebagai Supervisor

1.      Pelaksanaan Fungsi Supervisor

Berdasar pada teori Edmonds di atas semestinya kepala sekolah mampu menciptakan suasana sekolah yang efektif dan mampu memaksimalkan sumber daya yang ada. Namun, pada prakteknya kepala sekolah SMP Islamiyah Weru ini tidak bisa menciptakan suasana sekolah yang efektif, indiksasinya adalah jam kerja kepala sekolah hanya 3 jam saja dalam sehari (datang jam 9 pulang jam 12), dan keberadaannya hanya 5 hari saja karena di hari juma’at libur baginya untuk melaksanakan kegiatan keagamaan di rumah. Ketidakefektifan ini pula didukung dengan jarangnya kepala sekolah mengadakan koordinasi dengan guru untuk membicarakan kemajuan sekolah (seperti rapat). Namun, bila efektif sekolah dilihat dari sisi fasilitas, maka kepala sekolah telah mampu memenuhi segala fasilitas yang dibutuhkan oleh pihak kurikulum atau siswa itu sendiri (dalam konteks swasta) dan mampu mendatangkan guru-guru yang berijazah strata satu.

2.      Pelaksanaan Tiga Hal Yang Menjiwai Supervisor

Menurut teori ada 3 hal yang menjiwai kepala sekolah sebagai supervisor yaitu: pertama, suatu perbuatan yang telah diprogramkan secara resmi oleh organisasi. Kedua, suatu perbuatan yang dilakukan oleh supervisor (kepala sekolah) dan secara langsung berpengaruh terhadap kemampuan profesional guru. Ketiga, mempengaruhi kemampuan guru yang pada gilirannya meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik. Pada prakteknya, dalam pelaksanaan supervisi pendidikan, Kepala Sekolah SMP Islamiyah Weru telah mampu memiliki prinsip mempengaruhi kemampuan guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun dalam hal ini, kepala sekolah baru mampu menciptakan iklim yang bisa mempengaruhi perubahan dalam peningkatan kualitas belajar siswa melalui staf-stafnya atau pembantu-pembantu yang bernaung di bawahnya belum secara langsung. Padahal prinsip yang semestinya penting dipegang oleh kepala sekolah adalah kegiatan supervisi yang dilakukan secara terprogram dan secara langsung dilakukan oleh kepala sekolah. Hal ini tidak menjadi prinsip kepala sekolah, karena kepala sekolah tidak memiliki data lengkap mengenai hasil supervisi, kekurangan dan perkembangan guru dalam mengajar.

3.      Pelaksanaan Peran Pokok Kepala Sekolah

Peran pokok kepala sekolah sebagai supervisor adalah: melaksanakan penelitian, mengadakan observasi kelas, melaksanakan pertemuan individual, menyediakan waktu dan pelayanan bagi guru, menyediakan dukungan dan suasana kondusif, melaksanakan pengembangan staf, melaksanakan kerjasama dengan guru untuk mengevaluasi hasil belajar, menciptakan team work yang dinamis dan profesional, menilai hasil belajar peserta didik secara komprehensif.

Dari sejumlah peran pokok kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi di atas, setelah diadakan pengamatan yang mendalam ternyata kepala sekolah SMP Islamiyah telah melaksanakan beberapa peranan berupa: menyediakan dukungan dan suasana kondusif, melaksanakan pengembangan staf, menciptakan team work. Adapun peranan yang belum dilakukan adalah melaksanakan penelitian, mengadakan observasi kelas, melaksanakan pertemuan individual, menyediakan waktu dan pelayanan bagi guru, melaksanakan kerjasama dengan guru untuk mengevaluasi hasil belajar dan menilai hasil belajar peserta didik secara komprehensif.

Diantara peranan yang sudah dan belum dilaksanakan, bisa dinilai bahwa kepala sekolah SMP Islamiyah menggunakan gaya supervisi yang mendayagunakan kemampuan orang lain tanpa melaksanakan supervisi yang berkenaan langsung dengan dirinya.

Menurut E. Mulyasa (2004), seorang kepala sekolah harus mampu melaksanakan kegiatan kunjungan kelas yang selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu dalam melaksanakan pembelajaran. Bila merujuk pada teori ini yang dikaitkan dengan pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah SMP Islamiyah bisa dikatakan tidak berjalan sama sekali karena kepala sekolah tidak pernah terjun ke kelas apalagi sampai mengevaluasi metode dan bahan ajar guru. Saran teori ini pula tidak dilaksanakan oleh staf dan pembantu kepala sekolah, alasan tidak terlaksananya kegiatan ini (evaluasi kelas) karena ada kesan tidak enak antar sesama guru.

4.      Pemahaman Kepala Sekolah Tentang Kurikulum

Apalagi apabila dikaitkan dengan teori Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Kepala sekolah SMP Islamiyah kurang mampu menguasai teori kurikulum. Indikasinya, selain kepala sekolah tidak diberi jam mengajar, tidak ada evaluasi mengajar bagi guru, sempat juga kepala sekolah diberi tugas untuk membuat RPP untuk persiapan sertifikasi semuanya telah disiapkan oleh pembantu (PKS) kearsipan sehingga dalam pelaksanaan mengajarnya pun kurang baik hasilnya.

Menurut Sergiovani dan Starrat (1993), dalam sistem organisasi pendidikan modern diperlukan supervisor khusus dan kemampuan kepala sekolah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Di dalam pengamatan, kepala sekolah sudah mampu melakukan pengawasan walaupun kurang maksimal yaitu berupa menyinggung guru yang malas mengajar di rapat tertentu walaupun tidak secara langsung, sudah mengawas tiap-tiap ada pantauan bangunan walaupun dari jauh tidak langsung ke kelas-kelas. Tapi, kepala sekolah sama sekali tidak mengadakan kontrol dan pengendalian dalam bidang materi (bahan) ajar dan kegiatan mengajar guru di kelas sehingga kepala sekolah tidak mengerti apakah pelajaran sudah selesai atau belum dan sudah sesuai dengan tujuan pendidikan atau tidak sesuai.

5.      Lima Prinsip Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Menurut teori Sergiovani dan Starrat, ada 5 prinsip kepala sekolah sebagai supervisor: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis; (2) dilaksanakan secara demokratis; (3) berpusat pada tenaga kependidikan; (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan; dan (5) merupakan bantuan profesional. Bila teori ini diakitkan dengan praktik kepala sekolah SMP Islamiyah sebagai supervisor maka bisa disimpulkan bahwa secara prinsip kepala sekolah telah memegang penuh prinsip-prinsip tersebut. Namun, ada dugaan meskipun sudah memegang prinsip-prinsip yang tidak bersandar pada pengetahuan tentangnya, karena dalam praktiknya kepala sekolah tidak melaksanakan teknis dari perananya sebagai supervisor. Indikasi lain adalah terjadinya praktik kekurang-profesionalan kepala sekolah dengan mengangkat anaknya sebagai BP dengan gaji yang tidak semestinya.

Fakta di atas tepatnya diistilahkan dengan hanya kebetulan saja, yaitu kebetulan saja apa yang dilakukan kepala sekolah itu sesuai dengan prinsip supervisor, indikasi kebetulan ini tercermin ketika kepala sekolah ditanya tentang konsep-konsep supervisi yang semestinya diketahui oleh kepala sekolah yaitu: pengertian berhubungan dengan apa yang dimaksud dengan supervisi pendidikan, tujuan berhubungan dengan apa yang ingin dicapai dengan melaksanakan supervisi pendidikan, prinsip berhubungan dengan bagaimana supervisi pendidikan harus dilakukan, serta metode dan teknik berhubungan dengan cara-cara supervisi pendidikan dilaksanakan. Jawabannya hanya tersenyum dan sapaan hangat saja.

This entry was posted in cirebon, makalah, Pendidikan, Penelitian and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s