LINGUISTIK DAN BAHASA PUITIK (Roman Jakobson)


Pokok bahasa puitik adalah differentia specifia (kekhususan yang membedakan) dari seni verbal dalam hubungannnya dengan seni-seni yang lain dan perilaku verbal dari jenis-jenis seni yang lain. Karena itu, dalam studi sastra, bahasa puitik menduduki tempat yang utama.

Bahasa puitik ada hubungannya dengan masalah yang ada dalam struktur verbal. Karena linguistik merupakan pengetahuan yang menyeluruh tentang struktur verbal, maka bahasa puitik dapat dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari linguistik. Ternyata sarana-sarana yang digunakan dalam bahasa puitik tidak terbatas pada seni verbal saja.

Ciri-ciri bahasa puitik tidak hanya termasuk dalam ilmu bahasa, tetapi juga termasuk dalam semua teori mengenai tanda, yaitu semiotika umum. Pernyataan ini berlaku bagi semua variasi bahasa karena dalam bahasa ada beberapa wilayah yang erat kaitannya dengan sistem-sistem tanda yang lainnya, bahkan dengan semua sistem itu (ciri-ciri pansemiotik).

Berbeda halnya dengan linguistik, kadang-kadang kita mendengar bahwa bahasa puitik ada kaitannya dengan evaluasi. Sesungguhnya setiap perilaku verbal mempunyai tujuan, tetapi tujuan itu berbeda dan kecocokan sarana yang digunakan dengan efek yang diinginkan merupakan masalah yang senantiasa menyibukkan peneliti berbagai jenis komunikasi verbal. Ada hubungan yang lebih erat yang tak terduga oleh para kritikus antara masalah fenomena linguistik yang berkembang dalam ruang dan waktu dan terentangnya model-model sastra dalam ruang dan waktu, bahkan penyebaran yang terputus-putus sebagai halnya pemunculan kembali penyair-penyair yang dilupakan dan yang terlupakan pada masa kini.

Kerancuan dalam terminologi “studi sastra” dan “kritik” menggoda pengkaji sastra untuk menggantikan deskripsi nilai-nilai intrinsik sebuah karya sastra dengan putusan akhir yang subjektif dan penuh pertimbangan sebutan “kritikus sastra” untuk seorang peneliti sastra sama kelirunya dengan sebutan “kritikus tatabahasa (atau leksikal)” untuk seorang linguistik.

Peneliti sintaksis dan morfologi tak dapat diganti oleh tatabahasa normatif, begitu juga tidak ada pernyataan untuk menyembunyikan selera dan opini seorang kritikus tentang sastra yang kreatif yang dapat dipergunakan sebagai pengganti sebuah analisis seni verbal yang ilmiah dan objektif.

Studi sastra dengan bahasa puitik sebagai bagian yang paling fokal seperti halnya linguistik mempunyai dua perangkat masalah” sinkronik dan diakronik. Deskripsi sinkronik menggambarkan tidak saja produksi sastra dari taraf tertentu, tetapi juga bagian dari tradisi sastra yang bagi taraf itu dianggap vital atau yang dihidupkan kembali. Sejarah bahasa puitik yang luas dan mendalam atau sejarah bahasa sepenuhnya merupakan supertruktur yang harus dibangun di atas serangkaian deskripsi sinkronik yang berurutan.

Desakan untuk memisahkan bahasa puitik dari linguistik hanya dibenarkan bila bidang linguistik nampaknya betul-betul terbatas. Vogelin telah menjelaskan dengan gamblang bahwa dua masalah terpenting dan berkaitan yang dihadapi oleh linguistik struktural adalah apa yang disebut sebagai revisis “hipotetsis monolitik bahasa” dan kekhawatiran mengenai “interdepensi struktur-struktur yang berbeda di dalam suatu bahasa”. Tak dapat disangkal bahwa untuk setiap masyarakat verbal, untuk setiap pembicara, ada suatu kesatuan bahasa, tetapi kode yang menyeluruh ini menyajikan suatu sistem subkode yang saling berkaitan: setiap bahasa mencakup berbagai pola yang sejalan, yang masing-masing ditandai oleh fungsinya.

Bahasa harus diteliti dalam semua jenis fungsinya. Sebuah skema fungsi-fungsi memerlukan penelitian yang ringkas tentang faktor-faktor pembentuk dalam setiap situasi ujaran, dalam setiap komunikasi verbal.

Yang dinamakan fungsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim, menunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakan. Fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seru dan terasa pada seluruh ucapan: baik pada tataran bunyi, gramatikal, maupun leksikal.

Orientasi pada penerima, yaitu fungsi konatif, menghasilkan ekspresi gramatikal yang paling murni dalam bentuk vokatif dan imperatif yang secara sintaksis, morfologis, dan bahkan juga sering kali secara fonemis menyimpang dari kategori nominal dan verbal lainnya. Kalimat imperatif pada pokoknya berbeda dengan kalimat deklaratif. Pada kalimat deklaratif dapat dikenakan tes kebenaran, sedangkan pada kalimat perintah tidak.

Perangkat untuk mencari kontak ini menurut istilah Malinowski bernama fungsi fatik, yaitu fungsi yang dapat diperagakan dengan tukar-menukar ritus formula, dengan dialog yang lengkap semata-mata untuk memperpanjang komunikasi.

Dalam logika modern dibedakan antara dua tingkatan bahasa: “bahasa objek” yang membicarakan benda dan “metabahasa” yang membicarakan bahasa. Metabahasa bukan hanya alat ilmiah yang digunakan oleh ahli logika dan linguis; metabahasa juga memainkan peranan yang penting dalam percakapan sehari-hari.

Perangkat tentang pesan, yang difokuskan pada pesan itu sendiri, disebut fungsi puitik bahasa. Fungsi puitik bukan merupakan satu-satunya fungsi dalam seni bahasa tetapi hanya merupakan fungsi yang paling menentukan, yang paling dominan, yang di dalam kegiatan verbal lainnya hanya merupakan fungsi pelengkap saja.

Studi linguistik tentang fungsi puitik harus melampaui batas puisi, dan di lain pihak pengkajian linguistik terhadap puisi tidak terbatas pada fungsi puitiknya saja. Kekhasan jenis puisi yang berbeda menyiratkan partisipasi fungsi bahasa yang lain, yang ada bersama dengan fungsi puitik yang dominan.

Fungsi puitik memproyeksikan prinsip ekuivalensi dari poros seleksi ke poros kombinasi. Ekuivalensi ditingkatkan menjadi sarana konstitutif sekuen. Ada pertentangan diametsir antara puisi dan metabahasa. Dalam metabahasa, sekuen dipakai untuk membangun suatu persamaan, sedangkan dalam puisi, persamaanlah yang dipakai untuk membentuk sekuen.

Dalam puisi dan dalam batas tertentu dalam pernyataan tersembunyi dari fungsi puitik, sekuen yang dibatasi oleh batasan kata dapat diukur, hubungan yang terdapat antara sekuen itu dapat dilihat, baik pada waktu yang bersamaan maupun secara bertahap (gradisi). Pengukuran sekuan adalah suatu sarana yang di luar fungsi puitik tidak dapat digunakan dalam bahasa.

Analisis sajak sepenuhnya berada dalam kompetensi puitik; kepuitisan ini bisa didefinisikan sebagai bagian dari linguistik yang memberlakukan fungsi puitik dalam hubungannya dengan fungsi bahasa yang lainnya. Kepuitisan dalam arti yang lebih luas ada hubungannya dengan fungsi puitik, tidak saja dalam puisi lainnya, tetapi juga diluar puisi, tempat fungsi yang lainnya menindih fungsi puitik.

This entry was posted in Informasi, makalah, Penelitian and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to LINGUISTIK DAN BAHASA PUITIK (Roman Jakobson)

  1. dinda says:

    “Yang dinamakan fungsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim, menunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakan. Fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seru dan terasa pada seluruh ucapan: baik pada tataran bunyi, gramatikal, maupun leksikal.”

    bisa minta tlg dijelaskan kalimat terakhirnya mas,,,yg ini : baik pada tataran bunyi, gramatikal, maupun leksikal.”…krg paham nih…

    makasih pnjelasannya,,,

  2. Shin says:

    Terima kasih atas penjeasan yg sangat menarik ini,..
    Saya download dari link yang anda berikan di atas, dan saya sangat tertarik pada penjelasan tentang keberadaan Roman Jakobson, kalau boleh tolong share sumber datanya,..
    butuh kemantaban penguasaan teori buat tugas akhir, :’)
    dan artikel anda sangat membantu saya untuk berfikir detail..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s