PERANAN KONTEKS, KEBUDAYAAN, DAN IDEOLOGI DI DALAM SEMIOTIKA (Aart van Zoest)


1. Penggolongan Lambang-lambang dalam Hubungan dengan Interpretan Mereka

Di dalam tipologi lambang dari Peirce, lambang itu disebut rheme bilamana lambang itu terhadap interpretannya adalah sebuah first. Rheme itu harus mendapat tempatnya dalam hubungan dengan kata-kata lain dan dalam kombinasi itu rheme tersebut berubah dari lambang yang potensial menjadi lambang yang nyata. Jadi, sebuah rheme adalah sebuah lambang yang sedang tidur, yang sedang menunggu untuk dibangunkan. Sebuah rheme terletak dalam bidang firstness, siap untuk dibawa kebidang secondness, dunia hal-hal yang benar-benar ada.

Bilamana antara lambang itu dan interpretannya terdapat suatu hubungan yang benar, maka lambang itu merupakan suatu second, yaitu sesuatu yang termasuk dunia yang ada. Peirce telah menyebut tipe lambang ini dengan nama dicent sign dan juga dicisign. Dia juga menyebutnya proposition dan kata itu memperlihatkan bahwa dia terutama adalah seorang ahli logika.

Jika proposition membentuk suatu kesatuan yang bersangkut-paut, bilamana berkat adanya suatu “hukum” mereka menunjukkan adanya hubungan antara yang satu dan yang lain, maka mereka bersama membentuk sebuah argument. “Hukum” itu, peraturan yang sering tersirat tanpa dapat dilihat, mempunyai nama yang sering bagus di dalam logika: leading principle.

2. Peranan Konteks dalam Interpretasi

Konteks adalah lingkungan semiotis. Konteks adalah hal yang mengangkat lambang rhematis di atas satus kemungkinannya.

Konteks dapat verbal dan non-verbal, linguistis dan non-linguistis. Dapat terjadi bahwa konteks lunguistis sudah mencukupi untuk mencapai interpretasi yang baik dari sebuah kata. Konteks non-verbal yang dalam kesusastraan dari masa yang lain, dari kebudayaan lain, memainkan peranan sangat penting adalah latar belakang sejarah-geografis yang tidak fiktif.

3. Definisi Semiotik dari Kata “Kebudayaan”

Secara semiotik, kebudayaan merupakan reaksi dari competence yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat untuk mengenal lambang-lambang, untuk menginterpretasi, dan untuk menghasikan sesuatu. Kebudayaan dalam batasan itu akan mengejawantah terutama sebagai ferformance, sebagai sutu keseluruhan dari kebiasaan-kebiasaan tingkah laku dan hasil-hasil darinya.

4. Jenis-jenis Kebenaran Dilihat secara Semiotik

Kebenaran dari proposition bersifat ekstern. Itu berarti bahwa proposition dapat dihadapkan pada semacam tes empiris. “Hari ini hujan” dapat dibuktikan benar tidaknya dengan melihat keluar. Proposition dapat diselidiki kebenarannya atau dapat dipalsukan secara ekstern, seperti yang telah dinyatakan oleh Popper. Hal ini berhubungan dengan tabiat secondness dari proposition, yang berhubungan erat dengan kenyataan di luar kita.

5. Tiga Jenis Argument

Dalam logika tradisional dibedakan jenis argument deduksi dan induksi. Sementara menginterpretasikan melalui jalan deduksi itu sesuai untuk ilmu pasti dan logika, maka induksi itu sesuai untuk ilmu-ilmu empiris, yang harus memanfaatkan pengamatan yang berulang-ulang dilakukan. Titik permulaan pada induksi adalah suatu pernyataan adanya sesuatu, yang kemudian dikombinasikan dengan pernyataan yang lain sehinga orang akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang berbentuk suatu aturan umum.

Pada deduksi, semuanya tergantung dari leading principle; pada kesimpulan itu dapat juga dekenakan tes intern untuk mendeteksi kebenarannya. Pada induksi semuanya tergantung dari pengamatan-pengamatan (dan dari penarikan kesimpulan dengan baik) sehingga tes untuk mendeteksi kebenaran adalah ekstern.

6. Ideologi dan Mite

Peranan konteks dalam proses semiotik sudah nyata. Amat sering orang sama sekali tidak dapat melakukan interpretasi bilamana tidak diketahui konteks yang dibutuhkan. Peranan ideologi di dalam semiopsis jauh lebih kurang nyata, bahkan sering praktis tidak kelihatan, dan jauh lebih menyelinap.

Mite adalah suatu ceritera yang didalamnya sebuah ideologi berwujud. Dapat dimengerti bahwa mite-mite, yang rangkai-merangkai menjadi mitologi-mitologi, memainkan peranan yang penting di dalam kesatuan-kesatuan kebudayaan; mite-mite memungkinkan inkarnasi dari hal-hal yang kalau tidak demikian akan tetap abstrak dan tak dapat disentuh. Di dalam mite-mite lama tertanam ideologi-ideologi lam dan pastilah akan merupakan tugas yang sangat menarik hati bagi peneliti-peneliti teks untuk menggalinya di bawah bentuk yang tampak.

This entry was posted in Informasi, makalah, Penelitian and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to PERANAN KONTEKS, KEBUDAYAAN, DAN IDEOLOGI DI DALAM SEMIOTIKA (Aart van Zoest)

  1. Gumono says:

    Mengkaji bahasa, bak menjelajah pikiran penuturnya!
    Keep posting Mas!
    Sukses

  2. rea says:

    halu….
    thannks bgt tulisannya membantu skripsi saya. kalo boleh tau, referensinya apa ya?

    • Senang bisa membantu, kalau referensi saya lupa. Yang saya ingat tulisan ini ditulis ketika kuliah semester 2 (7 tahun lalu) merupakan resume dari sebuah buku semiotika/hermeneutika yang judul dan pengarangnya juga saya lupa. Mohon maaf tuk itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s