SEBUAH PENGANTAR MENUJU LOGIKA KEBUDAYAAN (Umberto Eco)


1. Rancangan Teori Semiotika

Rancangan semiotika umum harus mempertimbangkan (a) teori kode dan (b) teori produksi tanda. Yang terakhir ini harus memperhitungkan ruang lingkup gejala, yaitu pemakaian bahasa, evolusi kode, komunikasi estetik, tipe-tipe tingkah laku dalam interaksi yang komunikatif, penggunaan tanda-tanda untuk menyebutkan sesuatu atau keadaan dunia, dan sebagainya.

Pada dasarnya semiotika signifikasi memerlukan bantuan teori kode, sedangkan, semiotika komunikasi memerlukan bantuan teori produksi tanda. Teori semiotika umum dianggap kokoh berdasarkan kemampuannya merumuskan definisi formal yang tepat untuk tiap-tiap jenis fungsi tanda, baik definisi itu telah diperikan dan dikodekan maupun belum.

Suatu penelitian semiotik umum akan dihadapkan pada berbagai batas bidang kajian. Eco mengemukakan tiga batas sehubungan dengan penelitian semiotik, yaitu “batas politik”, “batas alam”, dan “batas epistemilogis”. Karena pengertian “batas” seperti dikemukakan Eco lebih menekankan semacam kategorisasi dan istilah “politik” dikhawatirkan menimbulkan konotasi yang menyesatkan, maka di sini digunakan istilah “ranah budaya”, yang terdiri dari 3 tipe, yaitu ranah akademis, ranah kerja sama, ranah empiris, kemudian “ranah alam” yang mencakup semua gejala alam yang tidak dapat didekati dengan pendekatan semiotik, dan “ranah epistemologis”.

2. Semiotika: Bidang Kajian atau Disiplin Ilmu

Kajian mengenai batas-batas dan hukum-hukum semiotika harus dimulai dengan menentukan apakah yang dimaksud dengan istilah “semiotika” adalah suatu disiplin ilmu yang khusus dengan metodenya sendiri dan objek tertentu; ataukah semiotika adalah bidang kajian-kajian. Jika semiotika itu dipandang sebagai bidang kajian, maka ragam bidang kajian semiotik harus dibatasi secara jelas. Sebaliknya, jika semiotika dipandang sebagai disiplin ilmu, para peneliti harus merancang suatu model penelitian semiotika secara deduktif sebagai parameter yang menjadi dasar peluasan atau penyempitan ragam kajian bidang semiotika.

3. Komunikasi dan/atau Signifikasi

Proses komunikasi sering didefinisikan sebagai penerimaan isyarat; tidak selalu harus tanda; dari suatu sumber melalui pemancar dan saluran ke tujuan. Sistem signifikasi adalah konstruk (construc) semiotika yang otonom, yang mempunyai model eksistensi abstrak, bebas dari kemungkinan tindak komunikatif yang dimungkinkannya. Mungkin sekali, jika tidak diperlukan; membangun semiotika signifikasi yang bebas dari semiotika komunikasi. Sebaliknya, tidak mungkin membangun semiotika komunikasi tanpa semiotika signifikasi. Jelas bahwa dua pendekatan itu terkadang harus mengikuti langkah metodologis yang berbeda dan memerlukan seperangkat kategori yang berbeda pula. Akan tetapi, dalam proses budaya, dua pendekatan itu secara metodologis berjalin erat.

4. Ranah Budaya: Bidang Kajian (Political Boundaries)

Karena sangat luas, daerah pnelitian kontemporer yang berikut, mulai dari proses komunikatif yang nampaknya lebih “alamiah” dan spontan sampai pada sistem budaya yang lebih kompleks, dapat dianggap termasuk bidang semiotika. Berbagai bidang yang dapat dipertimbangkan sebagai kajian semiotika adalah sebagai berikut.

  1. Semiotika Binatang (Zoosemiotics)
  2. Tanda-tanda Bauan (Olfactory Signs)
  3. Komunikasi Rabaan (Tactile Communication)
  4. Kode-kode Cecapan (Code of Taste)
  5. Paralinguistik (Paralingusticts)
  6. Semiotika Medis (Medical Semioticts)
  7. Kinesis dan Proksemik (Kinesics and Proxemics)
  8. Kode-kode Musik (Musical Codes)
  9. Bahasa yang Diformalkan (Formalized Languages)
  10. Bahasa tertulis, Alfabet tak dikenal, Kode Rahasia
  11. Bahasa Alam (Natural Languages)
  12. Komunikasi Visual (Visual Communication)
  13. Sistem Objek (Systems of Objects)
  14. Struktur Alur (Plot Structure)
  15. Teori Teks (Text Theory)
  16. Kode-kode Budaya (Cultural Codes)
  17. Teks Ekstetik (Aesthetic Texts)
  18. Komunikasi Massa (Mass Communication)
  19. Retorika (Rhetoric)

5. Ranah Alami: Dua Pengertian Semiotika

Saussure

Menurut Umberto Eco dari kedua definisi antara Saussure dan Peirce, menurutnya definisi Saussure lebih penting dan telah berhasil meningkatkan kesadaran semiotik. Menurut Saussure, tanda mempunyai dua entitas, yaitu signifer dan signifed atau wahana  ‘tanda’ dan ‘makna’ atau ‘penanda’ dan ‘petanda’. Jika hubungan antara penanda dan petanda itu ditetapkan berdasarkan sistem kaidah yang dinamakan la langue, maka tak dapat disangkal bahwa semiologi Saussure akan menjadi semiotika signifikasi.

Peirce

Menurut Eco, definisi-definisi yang diberikan oleh Peirce lebih luas dan secara semiotis lebih berhasil. Sebagaimana telah dikutip oleh Eco, semiotika bagi Peirce adalah suatu tindakan, pengaruh, atau kerja sama tiga subjek, yaitu tanda, objek, dan interpretan. Menurut Peirce, tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Eco sepakat dengan Peirce dalam mengartikan interpretan sebagai suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter, hanya saja harus difahami secara non-antropomorfis.

Secara sekilas kedua definisi yang diberikan oleh Saussure dan Peirce sama, tetapi jika dikaji lebih dalam, definisi Peirce menawarkan sesuatu yang lebih. Definisi Peirce tidak menuntut kualitas keadaan yang secara sengaja diadakan dan secara artifisial diupayakan.

6. Ranah Alami: IOnferensi dan Signifikasi

Tanda Alamiah

Ada dua tipe tanda yang terlepas dari batasan komunikasi, yaitu (i) kejadian atau peristiwa fisik yang berasal dari sumber alam, dan (ii) perilaku manusia yang secara tidak sengaja dipancarkan oleh pengirimnya. Bukan suatu hal yang kebetulan jika filsafat kuno sering menghubungkan signifikasi dengan inferensi. Mungkin identifikasi langsung inferensi dan signifikasi ini meninggalkan banyak perbedaan yang tidak dapat dijelaskan. Identifikasi itu hanya perlu diluruskan dengan menambah ungkapan “jika hubungan ini secara kultural diakui dan secara sistematis dikodekan.

Tanda Non-intensional

Perilaku manusia yang mengisyaratkan sinyal meskipun perilakunya itu tak disadarinya. Dalam hal tertentu, perilaku itu memungkinkan diketahuinya latar budaya pelaku karena perilakunya mempunyai konotasi yang jelas.

7. Batas Alami: Ambang Bawah

Stimuli

Jika peristiwa kemanusiaan dan non-kemanusiaan yang tak disengaja dapat menjadi tanda, maka semiotika telah diperluas ranahnya melebihi batas ambang: tanda-tanda yang terpisah dari benda dan tanda-tanda artifisial dari ranah alamiahnya. Segala  sesuatu dapat difahami sebagai tanda hanya jika ada konvensi yang memungkinkannya berlaku untuk sesuatu yang lain, dan karena beberapa tanggapan behaviour tidak diperoleh melalui konvensi, rangsangan (stimuli) tidak dapat difahami sebagai tanda.  Semiotika hanya berurusan dengan tindakan yang bertujuan. Peristiwa non-kemanusiaan dan kemanusiaan yang tidak bertujuan bukanlah tanda.

Isyarat (Signal)

Objek sebenarnya dari teori informasi selayaknya tidak dianggap sebagai tanda, melainkan hanya sebagai satuan-satuan transmisi yang dapat dihitung secara kuantitatif, terlepas dari kemungkinan maknanya. Dengan demikian, sebaiknya objek teori informasi itu disebut isyarat dan bukan tanda. Di sini isyarat merupakan hal yang penting bagi pendekatan semiotik.

Informasi Fisik

Informasi fisik, seperti gejala neuro-psikologis dan genetis, sirkulasi darah, atau gerak paru-paru tidak boleh dianggap sebagai permasalahan semiotika. Meskipun semiotika menggunakan alat-alat yang diambil dari disiplin ilmu yang berkaitan dengan ambang bawah ini, tidaklah dapat diabaikan begitu saja. Fenomena ambang bawah harus dilihat sebagai penunjuk timbulnya fenomena semotika dari sesuatu yang non-semiotis, sebagai missing link antara dunia isyarat dan dunia tanda.

8. Batas Alami: Ambang Atas

Dua Hipotesis tentang Budaya

Penelitian semiotika ditentukan oleh hipotesis tentang kebudayaan, yaitu (a) keseluruhan dan keutuhan budaya harus dikaji sebagai gejala semiotika, dan (b) semua aspek budaya dapat dikaji sebagai isi aktivitas semiotika.

Alat (tools)

Kebudayaan lahir bila tercipta tiga kondisi sebagai hasil proses semiotik. ketiga kondisi itu adalah (1) adanya pemikiran yang mapan tentang fungsi baru sebuah benda, (2) adanya pengetahuan tentang kegunaan suatu benda, dan (3) adanya pengenalan fungsi tertentu dan nama tertentu suatu benda.

Komoditi

Pertukaran komoditi atau perdagangan juga dapat dipertimbangkan sebagai gejala semiotik. perdagangan bukan sekedar pertukaran benda, tetapi juga mengandung nilai kegunaan yang dapat diubah menjadi nilai tukar. Di sini proses signifikasi atau simbolisasi terjadi, kemudian disempurnakan melalui bentuk uang, dan bentuk itu berlaku untuk sesuatu yang lain.

Wanita

Seperti juga komoditi, wanita pun cukup menarik untuk dipertimbangkan sebagai proses simbolik. Dalam proses ini akan tampak wanita sebagai objek fisik yang digunakan untu kegiatan fisiologis.

Budaya sebagai Fenomena Semiotika

Semiotika menjadi teori umum tentang kebudayaan dan semiotika mungkin akan menggantikan antropologi budaya. Komunikasi dan signifikasi ternyata lebih gamblang bila dilihat dari sudut pandang semiotik. dalam hal ini, hipotesis yang moderat pun perlu dikemukakan, yakni bahwa setiap aspek kebudayaan menjadi sebuah unit semantik. Di dalam kebudayaan, setiap entitas dapat menjadi gejala semiotik. hukum-hukum signifikasi adalah hukum-hukum kebudayaan. Kebudayaan dapat dikaji dengan sempurna secara semiotik.

9. Batas Epistemologis

Ada tiga jenis ambang batas yang salah satunya adalah batas epistimologis, yang merupakan jenis yang ketiga. Batas epistimologis tidak bergantung pada definisi objek semiotika, tetapi lebih bergantung pada definisi kemurnian teoritis disiplin ilmu itu sendiri.

Penelitian semiotik harus memperhitungkan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Pendekatan tidak boleh bersifat netral karena setiap peneliti, menurut Eco, pasti dimotivasi oleh tujuan-tujuan tertentu.

This entry was posted in Informasi, makalah, Penelitian and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s