Beberapa Catatan terhadap Pluralisme Agama di Indonesia


Oleh : Ahmad Nur Kholid, S.Th.I

Indonesia dan Resistensi Beda Agama

Adalah sebuah kenyataan bahwa kita hidup berdampingan dengan non muslim dalam bingkai NKRI. Artinya NKRI lahir dari kesepakatan antar pemeluk agama sebagai sebuah lembaga yang dapat mengakomodasi kepentingan internal kelompok-kelompok dan menciptakan rumah lindung bersama dari acaman bersama, karena demikianlah lazimnya fungsi negara. Itulah mengapa Indonesia menjadi pilihan para pendiri bangsa kita dan bukan Negara Islam ataupun Republik Islam seperti yang diinginkan sebagian muslim saat ini, pun sebagian orang pada waktu itu. Untuk kasus Indonesia ini, sebenarnya hampir mirip dengan kasus piagam Madinah yang merupakan perjanjian antar umat beragama, hanya saja usia piagam Madinah tidak lama karena adanya penghianatan dari Yahudi.

Jelasnya bahwa kesepakatan tersebut adalah sebuah ikatan bersama antar pemeluk agama yang tentunya aneh jika seorang muslim mengingkari kesepakatan yang ketika di Madinah dilakukan oleh kaum Yahudi. Namun demikian ternyata masalahnya tidak berhenti disitu-dalam beberapa hal yang bersifat praktis di masyarakat terdapat sejumlah resistensi. Misalnya pada oktober 2004 terjadi konflik pada yayasan Sang Timur di daerah Karang Tengah Ciledug. Yayasan ini oleh warga setempat ditengarai melakukan kegiatan ibadah di gedung yang didaftarkan sebagai gedung sekolah. Saat itu warga melakukan blokade dengan menutup akses jalan masuk menuju gedung dan mengancam hendak melakukan pembakaran. Sementara dari pihak gereja, Dewan Paroki Santa Barnadeth serta pengurus yayasan melaporkan sekurang-kurangnya ada 8975 warga di enam kecamatan disekitar Ciledug yang memanfaatkan gedung tersebut sebagai tempat ibadah. Penulis yang kebetulan sedikit terlibat advokasi konflik tersebut melihat celah, bahwa kondisi yang dialami warga kristen sehingga menggunakan gedung sekolah sebagai tempat ibadah disebabkan susahnya mereka mendirikan tempat ibadah yang diatur dalam SP3 menteri dalam hal kuota.

Hal yang hampir sama juga terjadi dalam empat bulan yang lalu di kawasan perumahan yang baru dibangun di daerah Bantar Gebang. Empat warga kristen hendak mendirikan gereja di area kosong di perumahan tersebut. Warga memprotes dengan dalih tidak memenuhi kuota, meskipun pada sisi lain di tiap blok perumahan tersebut dibangun masjid-terdapat sekitar lima masjid. Hal-hal yang lebih ekstrim dapat kita saksikan dalam sejumlah kasus di Indonesia. Ini semua merupakan bentuk resistensi yang timbul karena perbedaan agama tersebut di tingkat grass root dan dalam kebijakan yang lebih praktis.

Bentuk-bentuk resistensi semacam inilah yang kemudian menyebabkan mantan menteri Agama RI Alamsyah Ratu prawira negara menetapkan Tri Kerukunan umat beragama sebagai sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi.

Sementara itu ada sejumlah kelompok yang mengusung isu pluralisme. Penulis sendiri merasa tidak begitu mendalami gagasan yang kemudian muncul dengan istilah pluralisme tersebut. Dalam asumsi penulis, perkembangan kenyataan plural inilah yang telah mendorong sebagian sarjana muslim melakukan kajian mendalam terhadap pluralitas tersebut dan menawarkan landasan teologisnya. Namun demikian Fatwa haram terhadap pluralisme oleh MUI sepertinya membuat kita perlu untuk tidak apriori terhadap sesuatu sebelum menelitinya meskipun pada akhirnya sebagai insan akademis harus menentukan kesimpulannya.

Memahami pluralisme

Kata pluralisme diadopsi dari bahasa inggris yaitu pluralism. Dalam kamus The Oxford English Dictionary, pluralism: the character of being plural; the condition of being a pluralist-1. the system or practice of more than one benefice being held at the same time by one person. 2. philos. a theory of system of thought wich recognize more than one ultimate principle: opposed to monism.[1]

Jalaludin Rahmat dalam wawancara dengan novriantoni yang dimuat dalam situs JIL menyatakan: “Isme itu adalah sebuah paham, pluralisme itu bisa berupa paham tapi bisa juga berupa orientasi keberagaman”.

Nurkholis Madjid mengatakan: “pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majmuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan bangsa, yaang justru malah menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak bisa dipahami sebagai kebaikan negatif (negative good) hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme (to keep fanatisme at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bond of civility). Bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan perimbangan yang dihasilkannya.”[2]

Budhy Munawar Rahman dalam pengantar terhadap buku Islam, Pluralisme dan toleransi keagamaan mengutip mengutip Muhammad Fathi Usman tentang makna pluralisme: “Pluralisme adalah bentuk kelembagaan dimana penerimaan terhadap keragaman meliputi masyarakat tertentu dan dunia secara keseluruhan. Maknanya lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif.[3]

Dari beberapa sumber diatas penulis berkesimpulan bahwa pluralisme adalah sebuah kata yang deterministik-memiliki pengertian khusus terkait dengan paham dan beberapa kelompok yang mengusungnya. Seperti kata qadariyah dan murjiah diambil dari akar kata qadar dan raja’ dengan arti ketentuan (takdir) dan harapan yang merujuk kepada kelompok atau paham yang deterministik. Kata pluralisme sebenarnya merujuk kepada makna luas seperti keterangan di kamus Oxford diatas, namun untuk konteks Indonesia pluralisme memiliki kecenderungan untuk lebih deterministik yaitu keterkaitan agama.

MUI dan Pluralisme

MUI pernah mengeluarkan fatwa bahwa pluralisme adalah haram karena kesimpulannya terhadap pluralisme yang sebagai paham yang menyamakan semua agama. Bagi para pengusung paham pluralisme yang disimpulkan oleh MUI ini jelas salah karena menurut mereka pluralisme bukanlah seperti itu.

Kang jalal dalam wawancaranya dengan Novriantoni yang dimuat dalam situs JIL pada 10 Oktober 2006 menyatakan: “Banyak orang yang menyangka pluralismse itu punya definisi macam-macam. Sebenarnya tidak! Di dalam dunia akademis sebenarnya, sudah ada kesepakatan dan batasan-batasan dalam definisinya. Misalnya ada penegasan bahwa pluralisme itu bukanlah sinkretisme. Pluralisme juga bukan menganggap semua agama sama. Bukan pula manganggap semua benar. Biasanya pluralisme dibicarakan dalam tiga bagian atau dalam posisi berhadapan dengan posisi lainnya, yaitu eksklusifme dan inklusifme. Kalau bicara soal pluralisme, please pembicaraan itu dipahami dalam konteks siapa yang akan selamat di akirat nanti saja. Bagi kaum eksklusif, hanya golongan dan agama mereka yang akan selamat. Menurut kaum inklusif, yang masuk surga hanya orang Islam dan orang-orang lain yang berakhlak Islami. Tapi bagi mereka, Islam tetap sebagai kreteria pertama. Nah kaum pluralis berpendapat siapa saja, apapun agamanya, selama memberi kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini.”

Nurkholis Madjid (1992) sebagaimana dikutip oleh Drs. Ahmad Amir Mag. dalam bukunya Neo Modernisme Islam di Indonesia berkata: “Disebabkan adanya prinsip-prinsip diatas, maka al-Quran mengajarkan paham kemajmukan keagamaan (religious plurality). Ajaran itu tidak perlu diartikan sebagai secara langsung pengakuan akan kebenaran semua agama dalam bentuknya yang nyata sehari-hari akan tetapi ajaran kemajmukan agama itu menandaskan pengertian dasar bahwa resiko yang akan ditanggung oleh pengikut agama masing-masing, baik secara pribadi atau secara kelompok. Sikap ini dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada yaitu karena pada mulanya semua agama pada mulanya menganut prinsip yang samakeharusan manusia berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka agama-agama itu baik karena dinamika internalnya sendiri atau karena persingguangannya satu sama lain akan secara berangsur-angsur menemukan kebenaran asalnya sehingga semuanya akan bertemu dalam satu titik pertemuan “commom platform” atau dalam istilah al-Qur’an kalimah sawa.”

Menurut Diana L. Eck (1999), pluralisme itu bukanlah sebuah paham bahwa agama itu semua sama. Menurutnya bahwa agama-agama itu tetap berbeda pada dataran simbol, namun pada dataran substansi memang stara. Jadi yang membedakan agama-agama hanyalah (jalan) atau syariat. Sedangkan secara substansial semuanya setara untuk menuju pada kebenaran yang transendental itu.[4]

Menurut pandangan penulis dari beberapa keterangan penganut pluralisme ini terhadap ambiguitas dan masalah teologis yang sangat dalam. Menurut pandangan para ulama ucapan seperti yang diucapkan jalaludin rahmat tersebut termasuk kekafiran-baik itu jika sekedar diucapkan atau dijadikan keyakinan. Namun kita tidak ingin membicarakan hal itu disini.

Mungkin cukuplah kita ketahui bahwa muara dari paham pluralisme adalah terbangunnya dialog tanpa saling curiga. Yang menurut penulis bahwa tujuan akhirnya sebenarnya bukan dialog, tetapi kerjasama antar pemeluk agama dan perlindungan dari kelompok kuat kepada yang lemah-mayoritas ke minoritas.


[1] The Oxford English Dictionary, pluralism, hal. 1026, Oxford: Claredon Press, 1978

[2] Nurkholis Madjid, “Masyarakat Madani dan Investasi Demokrasi: Tantangan dan Kemungkinan, Republika 10 Agustus 1999.

[3] Muhammad Fathi Usman, Islam, Pluralisme dan toleransi keagamaan (terj. The Children of Adam: an Islamic Perspective on Pluralism), hal. xii, Jakarta: PSIK Universitas Paramadina, 2006

[4] Syir’ah, hal. 43 Edisi No. 55/VI/Juli/2006

This entry was posted in Pemikiran, Penelitian and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s