Pluralisme dalam Al-Qur’an (Bag. 1)


Pluralisme

Pendahuluan

Pada setiap zaman hanya terdapat satu agama yang benar. Pada setiap zaman datang seorang nabi yang membawa syariat Allah dan manusia diwajibkan untuk mengikuti dan mengamalkanya, hingga berakhir pada periode penutup para nabi. Di zaman Rasulullah saw. ini, jika seseorang ingin menemukan jalanya menuju Allah, maka orang tersebut harus mengikuti perintah-perintah agama yang dibawanya. (Murtadha Muthahari)

Saat ini terdapat enam agama dan lima kepercayaan besar di dunia yaitu, Hinduisme, Budhisme, kristianitas, Islam, Yahudi, Sikhisme, Konfusianisme, taoisme, Zoroastrianisme, Shintoisme, dan Kepercayaan Baaha’i, di luar kepercayaan lain yang dianut oleh ribuan suku bangsa di berbagai pelosok bumi.

Meskipun nilai-nilai yang ditawarkan kepada setiap umatnya adalah kebenaran, keselamatan dan kedamaian, baik dalam menjalani kehidupan di dunia maupun di akhirat, perbedaan dalam hidup beragama di masyarakat selalu memiliki potensi terjadinya konflik satu sama lain. Konflik antar umat beragama sering terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap agama lain, selain yang dianutnya. Padahal sikap terbuka terhadap perbedaan atau kenyataan hidup beragama merupakan modal terciptanya perdamaian dunia. Untuk itulah paham pluralisme kemudian muncul sebagai jawaban agar konflik antar agama bisa terselesaikan. Namun apakah umat Islam mau menerima gagasan pluralisme?

Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Dengan kata lain, apakah orang yang beragama selain Islam, sepeti Kristen, Hindu Budha akan memperoleh keselamatan  di sisi Allah? Apakah non-muslim juga menerima amal shalihnya? Lantas kenapa Tuhan menciptakan agama yang bermacam-macam? Kenapa Allah tidak menjadikan agama-agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan itu? (Jalaluddin Rakhmat)

Ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu pluralitas agama dan pluralisme agama. Pluralitas agama adalah kondisi dimana berbagai macam agama hadir secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau negara. Sedangkan pluralisme agama adalah suatu paham yang menjadi tema penting dalam disiplin sosiologi, teologi dan filsafat agama yang berkembang di barat dan juga agenda penting globalisasi yang mendeklarasikan pembenaran semua agama. Pluralisme lahir dibarat dan orang Islam yang mendukung paham ini mencari-cari akarnya dari kondisi masyarakat Islam dan ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits. Disinilah makna al-Qur’an direbutkan dan masing-masing pihak memaknainya secara berlainan.

Makna dan Sejarah Pluralisme

Kata pluralisme diadopsi dari bahasa inggris yaitu pluralism. Dalam kamus The Oxford English Dictionary, pluralism: the character of being plural; the condition of being a pluralist-1. the system or practice of more than one benefice being held at the same time by one person. 2. philos. a theory of system of thought wich recognize more than one ultimate principle: opposed to monism.[1]

Jalaludin Rahmat dalam wawancara dengan novriantoni yang dimuat dalam situs JIL menyatakan: “Isme itu adalah sebuah paham, pluralisme itu bisa berupa paham tapi bisa juga berupa orientasi keberagaman”.

Nurkholis Madjid mengatakan: “pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majmuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan bangsa, yang justru malah menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak bisa dipahami sebagai kebaikan negatif (negative good) hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme (to keep fanatisme at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bond of civility). Bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan perimbangan yang dihasilkannya.”[2]

Budhy Munawar Rahman dalam pengantar terhadap buku Islam, Pluralisme dan toleransi keagamaan mengutip Muhammad Fathi Usman tentang makna pluralisme: “Pluralisme adalah bentuk kelembagaan dimana penerimaan terhadap keragaman meliputi masyarakat tertentu dan dunia secara keseluruhan. Maknanya lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif.[3]

Ada dua aliran yang berbeda mengenai paham pluralisme yang berkembang di Barat, yaitu paham teologi global (global theology) dan paham kesatuan transendental agama-agama. Menurut John Hirck, penggagas teologi global mengatakan bahwa yang menjadi motif penting dari pluralisme adalah karena tuntutan modernisasi dan globalisasi. Karena pentingnya agama di era global ini, maka hubungan antara agama dan globalisasi menjadi tema sentral yang banyak dibicarakan. Teologi global menawarkan konsep dunia tanpa batas generasi kultural, ideologis, teologis, kepercayaan dan sebagainya. Artinya, identitas kultural, kepercayaan dan agama harus dilebur atau disesuaikan dengan zaman modern. Kelompok ini yakin bahwa agama-agama itu berevolusi dan nanti akan saling mendekat yang pada akhirnya tidak ada lagi perbedaan antara satu agama dengan agama lainya. Agama-agama ini kemudian akan lebur menjadi satu. Itulah pluralisme agama yang menurut gagasan Hirck disebut sebagai global theology.

Menurut paham transcendent unity of religions yang digagas oleh Frithjof Schuon, bahwa pluralisme muncul karena pada dasarnya semua agama-agama itu pada tataran esoterisme akan kembali pada realitas yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Tinggi. Singkatnya menurut paham ini bahwa semua agama pada dasarnya adalah sama dan berbeda hanya dalam bentuknya saja (eksoterisme)[4]. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan dan jari-jarinya itu adalah jalan dari berbagai agama.

Menurut Adian Husaini, paham pluralisme berakar dari relativisme akal dan relativisme iman. Sedangkan di dalam Islam, paham pluralisme berasal dari proses libralisasi Islam. Secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran libralisasi yaitu:[5]

  1. Liberalisasi aqidah dengan penyebaran paham pluralisme agama
  2. Liberalisasi syariah dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad
  3. Liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Qur’an

Pluralisme dalam al-qur’an

Menurut Gamal al-Banna, sumber rujukan yang paling otentik bagi pluralisme adalah al-qur’an. Dengan kata lain, al-Qur’an adalah pondasi bagi pluralisme dalam Islam.[6] Yahudi, Kristen dan eksistensi agama-agama lainya diakui dalam Islam. Al-Qur’an tidak pernah menghendaki manusia menjadi umat yang satu dan diatur oleh satu konvesi atau satu gagasan. Sikap Islam terhadap pluralitas agama berdiri di atas prinsip-prinsip kesejajaran, toleransi dan saling melengkapi. Menurut Gamal al-Bana, sikap ini ada di dalam Islam karena dua alasan: alasan sejarah dan alasan obyektif.

Agama adalah sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat , paling tidak, tiga agama besar: Islam, Kristen dan Yahudi. Ayah mereka satu dan ibu mereka banyak. Secara historis-geografis mereka terikat oleh satu tempat dan waktu yang tidak berjauhan sampai agama itu menyebar ke seluruh dunia.[7] agama-agama itu hadir untuk saling melengkapi, Yahudi dengan tauhidnya yang ekstrim, Kristen dengan cinta kasihnya dan Islam dengan keadilanya. Semuanya saling melengkapi menuju kesempurnaan yang ideal.[8]

Adapun alasan obyektif bagi penegasan Islam akan pluralitas agama adalah kembali kepada cara pandang Islam terhadap konsep Tuhan sebagai pencipta alam raya dan sumber bagi nilai-nilai ideal. Dialah yang menurunkan semua agama sejak Nabi Adam as. Hingga Nabi Muhammad saw. sesuai dengan kebutuhan dan zaman yang berbeda-beda. Singkatnya semua agama adalah ciptaan Allah. Salah dan benar tidak bisa menjadi bingkai agama-agama. Setiap agama mewakili berbagai kebutuhan manusia. Perbedaan masing-masing agama terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan, era dan lingkungan.[9] Tujuanya agar kita berloba-lomba dalam berbuat kebaikan (QS Al-Maidah: 48). Al-Qur’an menggambarkan seluruh umat manusia akan kembali kepada Allah dan kelak Dialah yang akan menjelaskan mengapa ada berbagai perbedaan diantara manusia itu. Inilah dasar teologis untuk paham pluralisme yang sangat ditekankan oleh al-Qur’an.[10]


[1] The Oxford English Dictionary, pluralism, hal. 1026, Oxford: Claredon Press, 1978

[2] Nurkholis Madjid, “Masyarakat Madani dan Investasi Demokrasi: Tantangan dan Kemungkinan, Republika 10 Agustus 1999.

[3] Muhammad Fathi Usman, Islam, Pluralisme dan toleransi keagamaan (terj. The Children of Adam: an Islamic Perspective on Pluralism), hal. xii, Jakarta: PSIK Universitas Paramadina, 2006

[4] .Frithjof Schuon, Mencari titik temu agama-agama, terj. The Trancendent Unity Of Religions, (Jakarta:Pustaka firdaus, 1994), cet. Ii, hal. xi

[5] . Adian Husaini, Libralisasi Islam di Indonesia; Fakta Dan Data, (Jakarta: DDII, 2006), hal. 11

[6] . gamal Al-Banna, Doktrin Pluralisme Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Menara, 2006), hal. 33

[7] . ibid.

[8] ibid

[9] . ibid. 36

[10] . George B. Grose (ed), Tiga Agama Satu Yuhan, (Bandung: Mizan,1998), hal. xxiv

—————————————————–

Baca Selanjutnya : Pluralisme dalam Al-Qur’an (Bag. 2)

This entry was posted in makalah, Penelitian, Tafsir and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s