Pluralisme dalam Al-Qur’an (Bag. 2)


Pluralisme

Perbuatan Baik Non-Muslim

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (al-Baqarah: 62)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (al-Maidah: 69)

Menururt Sayyid Hussen Fadhlullah, ayat di atas menegasakan bahwa keselamatan pada hari kiamat akan dicapai oleh semua kelompok agama dengan syarat: iman kepada Allah, hari akhir dan beramal shalih[1]. Ayat ini dalam tafsir At-Thabari yang diririwayatkan dari Ibnu Abbas telah dihapus dengan QS. Ali-Imran: 85.

… من مات على دين عيسى ومات على الإسلام قبل أن يسمع بي فهوعلى خير ؟ ومن سمع بي اليوم ولم يؤمن بي فقد هلك وقال ابن عباس بما : حدثني المثنى قال حدثنا أبو صالح قال حدثني معاوية بن صالح عن ابن أبي طلحة عن ابن عباس قوله : { إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى والصابئين } إلى قوله : { ولا هم يحزنون } فأنزل الله تعالى بعد هذا { ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين } ( ا ل عمران : 85 ) وهذا الخبريدل على أن ابن عباس كان يرى أن الله جل ثناؤه كان قد وعد من عمل صالحا من اليهود والنصارى والصابئين على عمله في الآخرة الجنة ثم نسخ ذلك بقوله :  ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه [2

Menurut Fadhlullah makna Islam pada Al-imran: 85 adalah Islam yang “umum” yang meliputi semua risalah langit, bukan Islam dalam arti “istilah” bukan Islam dalam Arti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. menurutnya bahwa dalam al-qur’an semua agama itu adalah Islam (Ali-imran; 19) [3] jadi QS. Ali-Imran: 19 tidak menaskh Ali-Imran: 85.

Dalam hal membalas kebaikan dengan kebaikan dan kejahatan dengan kejahatan, Allah tidak mengistimewakan seseorang. Kaum Yahudi misalnya, karena menganggap diistimewakan Tuhan, ditentang dan diancam oleh al-qur’an. Kaum Yahudii mengatakan bahwa darah-darah Israel itu dicintai Allah dengann mengatakan”..kami adalah putra-putra Allah  dan kekasih-kekasih-Nya..” dan ´andaikan kami dimasukan ke neraka, maka itu pun tidak akan lama, karena Tuhan akan memaafkan dan mengeluarkan kam”(QS. Al-baqarah; 80-81 dan 111-112)

Al-Qur’an mengecam seluruh pikiran sesat dari siapa pun. Kadang-kadang kaum muslimin terpengaruh oleh pikiran-pikiran ahl al-kitab, mereka menganggap bahwa mereka mulia tanpa sebab, sebagaimana anggapan orang-orang sebelum mereka. Al-qur’an menentang mereka dengan menjawab;

“Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. (An-nissa: 123)

Ayat-ayat ini menjadi bukti akan diterimanya amal-amalan shalih baik yang dilakukan oleh kaum muslimin maupun kaum non-muslim. Dalam surat al-zalzalah Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Al-Zalzalah: 7-8)

Di surat lain Allah berfirman,

“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik”. (Al-Kahfi: 30)

Menurut Gamal al-Banna, orang yang mengaggap bahwa hanya diri dan agamanya sajalah yang benar serta diterima amal shalehnya, diibaratkan sebagai orang yang merasa memegang dan memiliki pembendaharaan rahmat Tuhan. Dalam hal ini Allah berfirman,

“Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, Karena takut membelanjakannya”. dan adalah manusia itu sangat kikir. (al-Isra: 100)

Di dalam al-qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang tidak akan diterimanya perbuatan orang kafir. Dalam surat Ibrahim, Allah menyamakan perbuatan orang kafir dengan debu yang ditiup angin hingga tidak tersisa sedikitpun.

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang Telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (Ibrahim: 18)

Dalam surat an-Nur, Allah menyamakan perbuatan orang kafir dengan fatamorgana yang seakan-akan dari jauh tampak seperti air, akan tetapi jika kita mendekati, kita tidak mendapati yang sebenarnya.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. (an-Nuur: 39)

Ayat di atas maksudnya adalah sumbangan-sumbangan agung yang menakjubkan penglihatan dan yang dianggap oleh sebagian orang awam lebih agung dari pada sumbangan para nabi sekalipun, apabila tidak disertai dengan iman kepada Allah, akan sia-sia dan tidak akan berarti apa-apa dan keagunganya hanya imajinasi laksana fatamorgana. Demikianlah perbuatan-perbuatan baik mereka.dan bencana bagi mereka dikarenakan perbuatan-perbuatan buruk, seperti dijelaskan oleh al-Qur’an berikut ini,

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. (An-Nuur: 40)

Mengapa Banyak Agama

Kalau semua agama itu valid, kenapa Tuhan repot-repot bikin agama yang bermacam-macam. Kenapa Allah tidak menjadikan agama-agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? (Jalal: 2006,32) Al-qur’an menjawabnya dengan indah,

“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu”. (al-Maidah: 48)

Menurut Kang Jalal, dari ayat ini kita bisa menyimpulkanbeberapa hal:[4]

  1. Agama-agama itu berbeda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan pandangan hidup (aqidah). Karena itu, pluralisme sama sekali tidak berarti semua agama itu sama. Perbedaan sudah menjadi kenyataan.
  2. Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang tunggal. Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua. Ujianya adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada umat manusia. Setiap agama disuruh bersaing dengan agama yang lain dalam memberikan kontribusi kepada kemanusiaan (khairat).
  3. Semua agama itu kembali kepada Allah, Hindu, Budha, yahudi, Kristen, Islam, semuanya kembali kepada Allah. Adalah tugas dan wewenag Allah untuk menyelesaika perbedan agama dengan cara apa pun.

Dari tiga simpulan yang dibuat Kang Jalal di atas, kita bisa mengetahui bahwa munculnya berbagai macam agama tidak lain hanya sebatas mediator dimana kita dituntut untuk saling berlomba dalam hal kebaikan. Siapa yang paling banyak memberi kontribusi kebaikan, maka dialah yang terbaik. Adapun soal perbedaan agama hanya Tuhan yang tahu dan kita tidak bisa mengklaim bahwa hanya agama kitalah yang paling benar dan yang lain salah. Ini adalah kehendak Tuhan.

Lalu bagaimana dengan firman Allah yang berbunyi,

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (Ali-Imran: 19)

Agama disisi Allah adalah Islam dan orang-orang yang menganutnya adalah muslim. Islam dalam hubungan manusia dengan allah bermakna tunduk dan berserah diri kepada Allah. Muslim adalah orang yang tunduk dan berserah diri kepada petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah Allah. Ayat-ayat al-qur’an yang menunjukan predikat muslim ternyata tidak hanya tertuju kepada Nabi Muhammad saw. dan pengikut-pengikutnya saja.

Al-Qur’an menceritakan kata-kata Nabi Nuh: “saya diperintahkan (oleh allah) agar termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah)” (QS. 10: 72)

Ketika Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, usai membangun ka’bah, beliau berdo’a: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua muslim-muslim kepada-mu, dan jadikan pula dari anak keturunan kami umat muslimat kepada-Mu” (QS. A-Baqarah: 128).

Ketika kaum yahudi mengaku bahwa ibrahim adalah penganut agama Yahudi, dan kaum Nasrani mengaku bahwa nabi ibrahim adalah penganut agama nasrani, tetapi al-Qur’an dengan tegas menyatakan:”Ibrahim bukan seorang yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus (hanif), lagi seorang muslim, dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik”  (QS. Ali-imran; 67).

Nabi ya’kub pernah berpesan pada putra-putranya: “Sesungguhnya allah telah memilih agama untuk kamu, maka jangan sekali-kali kamu meninggal melainkan dalam keadaan muslimun’ (QS. Al-Baqarah 132).

Tentang kitab Taurat, al-qur’an menyebutkan: “dengan taurat nabi-nabi yang ber-islam itu memutuskan perkara” (QS. Al-Maidah: 44).

Al-Qur’an juga menceritakan pesan nbi Musa kepada umatnya:”Musa berkata:” hai kaumku jika kamu beriman kepada Allah, maka hanya kepada-Nya lah hendaknya bertawakal, jka kamu memang muslim“. (Yunus; 84).

Tukang-tukang sihir Fir’aun setelah dikalahkan oleh nabi Musa, kemudian mereka beriman kepada Nabi Musa, dan akhirnya mereka harus menghadapi siksaan-siksaan fir’aun, maka doa mereka yang dipanjatkan kepada Allah sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-qur’an: “ya tuhan kami, curahkanlah kesabaran kepada kami, dan matikanlah kami dalam keadaan muslim“. ((QS. Al-A’raf; 126).

Ratu saba’ ketika tiba di istna Sulaiman dan dipersilahkan masuk, serta mengagumi istana Sulaiman kemudian masuk Islam: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diriku, dan aku ber-islam bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam’. (QS. An-Naml; 44).

Dari beberapa kutipan ayat al-Qur’an tersebut, dapat kita peroleh kesimpulan bahwa islam adalah agama allah Yang diwahyukan kepada semua Rasul yang pernah diutusnya sejak nabi Adam hingga nabi Muhammad saw. yahudi dan nasrani bukanlah nama dari agama tuhan yang berasal dari agama wahyu-Nya. Nama-nama itu muncul dalam perjalanan sejarah. Agama yahudi dalam bahasa Inggris disebut Judaism. Juda, adayahudza atau yehuda, putra keempat nabi Ya’kub yang menjadi salah satu asal-usulsuku bangsa Israel. Sedang nasrani adalah nama yang dinisbatkan kepada nama kota nasyirah atau nazaret, tempat tinggal nabi Isa waktu masih kanak-kanak[5]

Semua agama boleh jadi baik, namun yang diridha’i oleh Allah hanya agama Islam.(Ali-Imran; 19). Bila saja setiap orang memfungsikan akal dan kalbunya secara obyektif, niscaya kebenara islam tidak terbantahkan.

Apakah Tuhan orang Muslim sama dengan non-Muslim

Menurut al-Qur’an Allah itu sama dengan apa yang diyakini oleh ahl- al-kitab bahkan orang musrik.

“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (al-Ankabuut: 61)

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali-Imran; 64)

Wallahu a’lam bi al-shawab.



[1] . Dikutip dari buku Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan, (jakarta: Serambi, 2006), hal. 23

[2] . Ibnu Jarir At-Thabari, Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, (Al-Maktabah As-Syamilah) jil. I, hal. 357

[3] . Rakhmat, Op. Cit. Hal. 24

[4] . Jalaluddin Rahmat, Op. Cit. 34

[5] . Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas persoalan Keislaman: Seputar Filsafat, Hukum,Politik dan Ekonomi, Bandung: 1994), hal. 210

—————————————————–

Baca Sebelumnya : Pluralisme dalam Al-Qur’an (Bag. 1)

This entry was posted in makalah, Penelitian, Tafsir and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s