Memiliki Jiwa Beradab


Sebelum jiwa dan kita tercipta Tuhan telah menciptakan cinta. Awalnya Tuhan ingin dikenal, maka Dia berkarya. Dengan karyanya itulah Dia abadi dan kita tercipta sebagai manusia, makhluk Tuhan yang paling sempurna. Jiwa, ruh dan jasad adalah bagian dari diri kita. Semuanya mempunyai peradaban, proses pemekaran dan kode rahasianya. Jiwa punya peradaban dan sejarahnya yang disebut dengan The History of The Soul Civilization (sejarah peradaban jiwa), begitu pula dengan ruh dan jasad.

Setiap orang mempunya jiwa yang berbeda sesuai dengan sejarah dan peradabanya. Sejarah dan peradaban jiwa adalah lingkungan dimana kita berinteraksi, belajar, dan diarahkan. Keluarga, tetangga, teman dan sekolah itulah dunia peradaban kita sekaligus sejarah terbentuknya jiwa kita masing-masing.

Tidak ada yang bisa mematahkan jiwa kita kecuali cinta. Jiwa tergantung pada apa yang kita cintai. Kekuatan cinta itulah yang akan membungkus jiwa. Tuhan telah menciptakan cinta sebelum jiwa diciptakan. Cinta harus diarahkan dan di proses secara matang, karena jiwa akan menderita manakala kita salah mencinta.

Karena cinta Tuhan menghidupkan kita, dengan cinta orang tua membesarkan kita dan karena cinta pulalah kita bebuat baik pada sesama. Cinta itulah ruh bagi jiwa kita. Dan cara kita mencintai sesuatu itu selaras dengan sejarah dan peradabannya masing-masing.

Ingatkah kita bahwa Tuhan pernah berkata, jadikanlah Aku cinta pertamamu, karena kamu cinta pertama-Ku juga. Matahari, Bulan, Bumi, Samudra, Gunung, Tumbuh-tumbuhan, hewan dan semua isi alam Tuhan persembahkan untuk kita.

Ruh jiwa adalah cinta. Cinta pertamanya adalah Sang Pencipta. Namun ketika jiwa lahir ke dunia sebagai manusia ia menghianati cinta pertamanya. Perselingkuhanya dengan dunia mengubah segalanya. Jiwa tergoda oleh dunia padahal dunia tidak menerimanya. Dunia menolak kita karena ia hanya mencintai Sang Pencipta. Jiwa menjadi malu dan akhirnya menderita. Ia jatuh sakit dan tak seorang pun dapat menyembuhkanya. Ia malu karena menghianati cinta pertamanya. Ia menderita karena berpisah dengan cinta pertamanya. Saat itulah ia benar-benar sadar dan mengerti siapa yang harus dicintai dan bagaimana mencintai.

Kode kebahagiaan jiwa adalah mencintai Sang Pencipta. Itulah kunci agar jiwa tidak menderita. Namun walaupun bagaimana lingkungan sebagai The History of The Soul Civilization mempunyai andil besar untuk bisa mencintai sekaligus tidak mencintai Sang Pencipta. Inilah sejarah peradaban jiwa sebagai penentu derita dan bahagia.

This entry was posted in filsafat, mistis, Pemikiran and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s