MENGHADIRKAN KEPRIBADIAN DAN SIFAT KETUHANAN DALAM DIRI PENDIDIK MUSLIM


C. Sifat-sifat Pendidik Muslim

Tugas sebagai pendidik merupakan tugas yang mulia dan luhur. Selain itu juga merupakan tugas yang berat. Ia merupakan model manusia etik, betapapun ia harus bisa ditiru (digugu lan ditiru). Jika terpaksa melakukan kesalahan, ia harus tetap bisa ditiru, ia harus berani minta maaf, memperbaiki dirinya.

Pendidik merupakan spiritual father atau bapak rohani bagi peserta didiknya. Ia juga merupakan pemimpin bagi peserta didiknya, menjadi idola sekaligus merupakan kepercayaan peserta didiknya. Bahkan bagi peserta didik yang masih muda usianya, pendidik merupakan sumber kebenaran yang tidak pernah berbuat salah.

Kepribadiannya memiliki pengaruh yang besar bagi pembentukan akal dan jiwa peserta didiknya. Dalam konteks ini, ‘Uqbah bin Abī Sufyān berkata kepada pendidik anaknya, sebagai berikut:

“Hendaknya yang pertama-tama kau lakukan sebelum memperbaiki (mendidik) anakku adalah, perbaikilah dirimu. Karena sesungguhnya mata mereka senantiasa tertuju pada matamu. Maka yang baik di sisi mereka adalah apa yang engkau anggap baik, sedang yang jelek di sisi mereka adalah apa yang engkau anggap jelek.

 

Oleh sebab itu, bagi seorang pendidik dituntut agar memiliki sifat-sifat tertentu yang merupakan syarat baginya sebelum menjadi pendidik.

Sebenarnya, telah banyak para ahli yang merumuskan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik muslim, misalnya sebagai berikut:

1. Muhammad Atiyah al Abrasyī, merumuskan sebagai berikut:

  1. Zuhud tidak mengutamakan materi dan melakukannya karena Allah SWT. Seorang pendidik dalam pendidikan Islam, hendaknya tidak memiliki sifat materialistis, tidak rakus terhadap dunia dan tidak mengukur segala sesuatu dengan materi. Meskipun demikian tidak berarti tidak mau dan tidak menerima kekayaan dunia dari pekerjaannya.
  2. Kebersihan diri. Seorang pendidik harus bersih, baik pisik maupun psikisnya.
  3. Ikhlas dalam pekerjaan. Seorang pendidik harus memiliki keikhlasan, sebab keikhlasan merupakan jalan menuju sukses. Termasuk ikhlas adalah kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Melakukan apa-apa yang dikatakan dan tidak malu mengatakan tidak tahu, bila ada yang tidak diketahuinya.
  4. Suka pemaaf. Seorang pendidik harus bersifat pemaaf terhadap peserta didiknya, ia sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati dan jangan pemarah karena hal-hal yang kecil.
  5. Seorang pendidik merupakan seorang bapak sebelum menjadi pendidik. Seorang pendidik harus mencintai peserta didiknya seperti mencintai anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti memikirkan keadaan anak kandungnya sendiri.
  6. Harus mengetahui tabiat peserta didik. Seorang pendidik harus mengetahui perbedaan masing-masing peserta didiknya, agar tidak tersesat dalam menjalankan tugasnya.
  7. Harus menguasai mata pelajaran. Seorang pendidik harus sanggup menguasai mata pelajaran yang diajarkannya dan terus menerus mendalaminya dengan memperluas pengetahuannya.

2. Abdurrahman an Nahlawī, menyebutkan sebagai berikut:

  1. Hendaknya tujuan, tingkah laku dan pola pikir pendidik bersifat rabbani. Seorang pendidik harus menjadikan Tuhan sebagai tempat berangkat dan kembalinya segala aktivitasnya.
  2. Memiliki sifat ikhlas. Seorang pendidik dengan keluasan ilmunya, hendaknya berniat hanya untuk mendapatkan keridaan Allah SWT.
  3. Hendaknya memiliki sifat sabar. Seorang pendidik harus bersabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didiknya.
  4. Hendaknya memiliki sifat jujur. Seorang pendidik harus jujur dalam menyampaikan apa yang diajarkannya. Jangan menyembunyikan ketidaktahuannya, jika memang tidak tahu. Ia harus terus menerus konsekwen dan komitmen kepada kejujuran.
  5. Hendaknya senantiasa membekali diri dengan ilmu. Seorang pendidik harus senantiasa memperdalam pengetahuannya, agar senantiasa dapat dengan mudah dan leluasa menyampaikan ilmunya.
  6. Hendaknya mampu menggunakan beberapa metode me-ngajar. Seorang pendidik akan dapat dengan mudah menyampaikan ilmu, nilai, norma, dan kecakapan, jika ia dapat menggunakan metode dengan tepat.
  7. Hendaknya mampu mengelola peserta didiknya. Seorang pendidik harus dapat memperlakukan peserta didiknya secara tepat dan proporsional. Dengan demikian pendidik tidak akan bersikap keras dalam kondisi yang semestinya bersikap lunak, begitu pula sebaliknya.
  8. Hendaknya mengetahui keadaan psikis peserta didiknya. Pengetahuan seorang pendidik terhadap kejiwaan peserta didiknya akan memudahkan kegiatan belajar mengajar. Sebab dengan demikian ia dapat dengan mudah memperlakukan peserta didiknya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
  9. Hendaknya memiliki kepekaan dalam mengantisipasi perkem-bangan yang terjadi. Seorang pendidik harus mengantisipasi setiap perkembangan, gejolak yang terjadi, baik pada peserta didiknya maupun dilingkungannya. Menganalisis, memberikan pemecahan dan jalan keluar.
  10. Hendaknya memiliki sifat adil. Seorang pendidik harus memperlakukan sama terhadap peserta didiknya. Jangan memilah-milah peserta didik kepada perlakuan istimewa dan tidak istimewa. Semua kebijaksanaan dan tindakannya ditempuh dengan jalan yang benar dan dengan memperhatikan setiap peserta didiknya.

3. Al Gazalī, menyebutkan sifat-sifat pendidik muslim sebagai berikut:

  1. Memiliki sifat kasih sayang kepada peserta didik. Seorang pendidik muslim, harus berbelas kasih kepada peserta didiknya, seperti ia berbelas kasih kepada anak kandungnya sendiri.
  2. Mengikuti sahabat syara’, yaitu Rasullah SAW. Seorang pendidik tidak mencari ganjaran atau gaji atau terima kasih dengan perbuatannya. Tetapi melakukannya semata karena Allah dalam rangka mencari kedekatan denganNya.
  3. Tidak meninggalkan nasehat kepada peserta didik, dengan melarang mempelajari sesuatu tingkat, sebelum berhak kepada tingkat itu. Seorang pendidik harus membimbing peserta didiknya dari ilmu yang mudah ke yang sulit.
  4. Tidak berlaku kasar kepada peserta didik. Seorang pendidik harus memperlakukan peserta didiknya dengan lunak, tidak membentak, menyindirnya dengan halus bila berbuat salah.
  5. Tidak menjelek-jelekkan ilmu yang lain dihadapan peserta didik. Seorang pendidik tidak menghina atau melecehkan ilmu yang bukan bidangnya. Pendidik dalam bidang bahasa, tidak boleh melecehkan ilmu fiqh dan seterusnya.
  6. Tidak mengajarkan sesuatu di luar kemampuan peserta didik. Seorang pendidik tidak memaksakan suatu ilmu kepada peserta didiknya di luar kemampuannya. Seperti peserta didik sekolah dasar, jangan diajar mata pelajaran sekolah menengah.
  7. Memberikan atau mengajarkan pelajaran yang jelas dan tidak mengatakan, bahwa di balik yang diterangkan terdapat pengetahuan atau pembahasan yang lebih dalam. Seorang pendidik hendaklah menerangkan kepada peserta didiknya suatu pembahasan yang jelas. Jangan dikatakan kepada mereka, bahwa dibalik yang telah diterangkan ada pembahasan lagi yang lebih dalam. Sebab dengan demikian akan mengakibatkan berkurangnya minat, untuk memperdalam pelajaran atau ilmu yang telah dipelajari.
  8. Hendaknya pendidik itu mengamalkan ilmunya. Seorang pendidik harus menyesuaikan antara ilmu dengan tindakannya. Mengamalkan apa yang diketahuinya, karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal perbuatan dilihat dengan mata kepala.

Sebenarnya apa yang telah dirumuskan oleh para ahli, tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh setiap pendidik muslim, memiliki dua keadaan dalam proses pendidikan. Pertama adalah, pendidik dalam keadaan tidak berhadapan dengan peserta didik. Maksudnya, pendidik mendidik dirinya sendiri. Pada tahap ini setiap Muslim yang mukallaf (dibebani hukum) wajib mendidik diri sendiri. Sifat-sifat seperti: Zuhud, rabbani, sabar, ‘alim (berilmu), adil, jujur, ikhlas dan sebagainya, merupakan sifat yang harus dimiliki dalam rangka mendidik diri sendiri.

Kedua adalah pendidik dalam keadaan berhadapan secara langsung (face to face) dengan peserta didiknya. Pada tahap ini, sifat-sifat yang harus dimiliki sebagai syarat bagi setiap pendidik Muslim adalah sebagai berikut:

1. Sifat-sifat yang berkaitan dengan persyaratan fisik, meliputi:

  1. Berakal sehat. Bermodalkan akal yang sehat, seseorang dapat melakukan perbuatan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab. Oleh sebab itu, Islam menafikan sangsi hukum bagi mereka yang tidak berakal, seperti: gila, lupa dan tertidur. Komunikasi antara pendidik dengan peserta didik akan berjalan dengan baik, apabila masing-masing pihak memiliki dan menggunakan akal yang sehat. Oleh sebab itu, berakal sehat merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap pendidik.
  2. Kebersihan. Kebersihan, baik jasmani, pakaian maupun yang lain, akan mempengaruhi perhatian peserta didik dalam proses belajar mengajar. Pendidik yang kurang memperhatikan kebersihannya, akan menjadi perhatian peserta didiknya. Dengan demikian akan mengganggu perhatian dan konsentrasi peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan kepadanya.

2. Sifat-sifat yang berkaitan dengan persyaratan psikis, meliputi:

  1. Rabbani. Sifat rabbani bagi seorang pendidik akan memudah-kan dalam mengantarkan peserta didiknya kepada terbentuknya manusia berkepribadian muslim, sebab pendidik selalu menjadikan Tuhan sebagai referensinya. Tujuan, tingkah laku dan pola pikirnya, selalu berpijak dari Tuhan dan untuk Tuhan. Dengan sifat rabbani ini, seorang pendidik mengabsahkan dirinya sebagai wakil Tuhan untuk mendidik yang lain.
  2. Zuhud. Zuhud tidak berarti menolak materi, tetapi juga tidak mengukur segala sesuatu dengan materi. Kekayaan materi hanya merupakan sarana bagi pendidik Muslim untuk mencapai tujuan hidup. Mendidik manusia lain (peserta didik) bukan karena keinginan mengumpulkan materi kekayaan, melainkan karena keterpanggilan untuk menyampaikan risalah Tuhan.
  3. Ikhlas. Seorang pendidik Muslim dalam melaksanakan tugas mengajar bukan karena keterpaksaan. Sifat ikhlas akan melahirkan pendidik yang penuh idealisme untuk membina pribadi dan masyarakat dengan benar. Ia mendidik dan mengajar manusia, semata-mata untuk mencari rida Allah. Bukan karena ingin dipuji, mendapatkan materi, jasa maupun yang lain. Dalam konteks ini, tidak berarti ia tidak boleh menerima imbalan jasa (materi) dari manusia yang dididik dan dari apa yang diajarkannya.
  4. Pemaaf. Sifat pemaaf bagi seorang pendidik merupakan kendali dalam melaksanakan tugas kependidikan. Berhadapan dengan peserta didik yang nakal, ia tidak cepat naik pitam, bahkan memaafkannya. Justru dengan sifat pemaaf itulah ia akan dihormati dan disenangi oleh peserta didiknya. Oleh sebab itu, setiap pendidik Muslim hendaknya memiliki sifat pemaaf, agar kegiatan pendidikannya dapat berhasil sebagaimana Rasul dalam mendidik ummatnya.
  5. Jujur. Seorang pendidik hendaknya berkata dan bertindak sesuai dengan apa yang diketahuinya. Seorang pendidik Muslim hendaknya berani berkata tidak tahu, jika memang tidak tahu. Sifat jujur akan meningkatkan wibawa bagi pendidik, sebab dengan kejujuran itu, ia mengajar dan mendidik orang lain dengan apa adanya.
  6. Adil. Keadilan pendidik harus tercermin dan dimanifestasikan dalam sikap dan tindakannya, baik berupa pujian, hukuman, penilaian, perintah maupun larangan terhadap peserta didiknya. Memperlakukan peserta didiknya dengan tidak pilih kasih. Siapa yang bersalah harus dihukum dan yang benar harus dipuji. Sifat adil dimaksudkan memperlakukan peserta didiknya secara bijak sesuai dengan proporsinya masing-masing. Keadilan adalah salah satu sifat Tuhan dan Al-Qur’ān menekankan agar menjadikan keadilan itu sebagai ideal moral. Oleh sebab itu, setiap pendidik muslim hendaknya memiliki sifat adil ini.
  7. Cinta. Kecintaan seorang pendidik Muslim kepada peserta didiknya, seperti kecintaannya kepada anak kandungnya sendiri. Dengan memiliki sifat kasih sayang ini, seorang pendidik akan memperlakukan peserta didiknya dengan lemah-lembut. Namun demikian tidak berarti, bahwa seorang pendidik tidak berbuat tegas kepada peserta didiknya. Sifat tegas tetap diperlukan, sebatas kewibawaan yang ada padanya. Sifat-sifat yang berkaitan dengan persyaratan psikis, sebagaimana disebutkan di atas, tidak berarti bahwa hanya itu saja. Tetapi dengan menyebutkan tujuh sifat itu, dimaksudkan dapat mewakili sifat-sifat yang lain, seperti: memiliki sifat keteladanan, stabil dalam emosi, sabar, tidak mencela peserta didik dan sebagainya.

 

3. Sifat-sifat yang berkaitan dengan persyaratan didaktis, meliputi:

  1. Mengetahui berbagai metode pengajaran dan dapat menggu-nakannya. Kemampuan menggunakan metode pengajaran atau metode pendidikan akan memudahkan tercapainya tujuan yang diinginkan. Metode dan tujuan pendidikan, merupakan hubungan sebab akibat. Artinya, ketepatan menggunakan metode pendidikan, akan memudahkan tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Oleh sebab itu, seorang pendidik muslim hendaknya memiliki pengetahuan tentang metode pendidikan.
  2. Kemampuan mengelola peserta didik. Seorang pendidik hendaknya mengetahui cara menempatkan peserta didiknya ke dalam situasi belajar mengajar. Dengan demikian akan mudah baginya kapan pelajaran bisa dimulai dan kapan harus diakhiri. Mengutip buku Teori Mengajar, yang ditulis oleh Agus Mirwan, dapat ditambahkan sifat-sifat berupa kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap pendidik, sebagai persyaratan didaktis, meliputi:

1)      Mampu memeragakan pengajaran

2)      Mampu memberi kesempatan kepada peserta didiknya untuk selalu giat atau aktif, baik jasmani maupun rohani

3)      Mampu menarik perhatian

4)      Mampu mendasarkan pelajaran kepada apa yang telah diketahui oleh peserta didik

5)      Mampu menghubungkan pelajaran sesuai dengan pemba-waan dan kemampuan peserta didik

6)      Mampu menghubungkan pelajaran yang satu dengan yang lain (korelasi dan konsentrasi)

7)      Mampu mengulang-ulang pelajaran, agar peserta didiknya senantiasa ingat materi yang telah diajarkan.

 

Dengan menampilkan paham Asy’ariyah dalam teologi Islam, tentang pengakuan bahwa Tuhan memiliki sifat karena perbuatanNya, wajib bagi setiap pendidik Muslim memiliki sifat-sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan yang dimaksud adalah yang termasuk dalam kelompok sifat Ma’ani, yaitu al Qudrah, al Iradah, al Ilmu, al Hayah, as Sama’, al Basar dan al Kalam.

Subtansi sifat Tuhan, berbeda dengan subtansi sifat manusia (pendidik), karena memang Tuhan berbeda dengan manusia. Tetapi aktualisasi dari sifat-sifat itu, terdapat garis singgung persamaan, di balik adanya perbedaan. Kuasa (al Qudrah) bagi manusia, tentu berbeda dengan kuasa Tuhan. Berkehendaknya manusia akan berbeda dengan kehendak Tuhan. Ilmu manusia akan berbeda dengan ilmu Tuhan dan seterusnya.

Selanjutnya pendidik muslim, juga harus memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh para Rasul Allah, sebab pendidik—sebagai manusia yang berilmu—merupakan pewaris para Rasul. Sifat-sifat Rasul yang harus dimiliki oleh pendidik Muslim adalah: as Siddiq (benar dan jujur), al Amanah (dapat dipercaya), at Tablīg (menyampaikan), dan al Fatonah (cerdik dan bijaksana).

Pendidik muslim dalam kapasitasnya sebagai pewaris para Rasul, ia harus memiliki kebenaran atau kejujuran, kepercayaan, kemampuan menyampaikan dan kecerdikan serta kebijaksanaan seperti yang diwarisi, yakni para Rasul Allah. Dengan demikian kebersambungan tali hubungan antara Tuhan sebagai Yang Maha Pendidik dengan para Rasul sebagai utusanNya dan manusia (pendidik) akan terus terjalin secara utuh.

 

D. Kedudukan Pendidik

Dalam keseluruhan proses pendidikan, pendidik sebagai salah satu faktor yang paling berpengaruh atau mempengaruhi terhadap keberhasilan pendidikan. Ia tidak saja berperan dalam menumbuhkembangkan peserta didik, melainkan ia juga yang membawa peserta didik kepada tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, di tangan pendidiklah output dan outcome pendidikan itu bergantung.

Aktivitas paedagogis yang dilakukan oleh pendidik dengan jalan menumbuhkembangkan, membimbing, mengarahkan, memelihara potensi manusia (peserta didik), agar tetap condong dan sejalan dengan kehendak Tuhan, merupakan tugas yang luhur dan mulia. Oleh sebab itu, Islam sangat menghargai dan menghormati para pendidik.

Pendidik dalam kapasitasnya sebagai orang yang berilmu pengetahuan, ditempatkan oleh Tuhan dalam derajat yang lebih tinggi dari manusia yang lain, walaupun sama-sama beriman. Allah berfirman dalam kitab suciNya, surah al-Mujadilah (58) : 11 sebagai berikut:

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah: 11).

 

Salah satu asbāb an nuzūl dari ayat di atas, adalah berkenaan dengan suasana di majlis ta’līm Rasul, di mana para sahabat berdesakan atau berebutan tempat untuk mendengarkan nasehat beliau. Akibatnya, sahabat yang datang terlambat tidak kebagian tempat. Maka Allah mendidik mereka, agar melonggarkan tempat bagi yang lain. Karena dengan demikian, Allah akan memperluas tempatnya di sorga.

Al Gazali melukiskan kemuliaan para pendidik dengan perum-pamaan matahari yang menyinari jagad raya dan dirinya sendiri bercahaya. Mereka ibarat minyak kasturi yang harumnya dinikmati oleh yang lain, sedang ia sendiri harum. Merekalah yang disebut besar di kolong kerajaan langit.

Jika dilihat dari sisi peran pendidik dalam mendidik manusia agar menjadi baik, maka kedudukannya sama dengan kedudukan seorang Rasul. Tetapi juga harus diakui, bahwa seorang Rasul adalah manusia istimewa yang mendapatkan wahyu dari Tuhan.

Garis singgung persamaan antara pendidik dengan para Rasul/Nabi, disinyalir oleh Rasul SAW dalam salah satu sabdanya, bahwa “Ulama’ itu adalah pewaris para Nabi”. Ulama’ adalah termenologi ilahiyah yang hanya dapat dimengerti penjabarannya melalui informasi wahyu. Dalam surah al-Fātir (35): 28 disebutkan bahwa “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah para ulama”.

Ulama merupakan bentuk jama’ (plural) dari kata ‘ālim, yaitu orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dengan demikian sudah sepantasnya orang yang berilmu itu mewarisi para Nabi untuk mendidik manusia kepada jalan Allah.

 

E. Urutan Pendidik

Al Gazalī dalam al Qistas al Mustaqim, sebagaimana dikutip oleh Roihan Achwan, menyebutkan bahwa Allah sebagai pendidik pertama, Jibril sebagai pendidik kedua dan Rasulullah sebagai pendidik ketiga.

Allah sebagai Yang Maha Pendidik menduduki rangking pertama, karena Dialah yang mendidik semua makhluk. Malaikat Jibril mendidik Rasulullah dan Rasulullah mendidik umatnya. Dengan demikian, manusia biasa menduduki urutan keempat dalam konsep pendidikan Islam. Berdasarkan hirarkhi pendidik seperti di atas, nampaknya menjadi sebuah keharusan bagi manusia sebagai pendidik menghadirkan bayangan Tuhan dalam dirinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’ān al Karim

Abdurrahman an Nahlawī, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Usūl at Tarbiyah al Islāmiyah wa asālībuhā), terj. Herrỳ Noer Ali, CV Diponegoro, 1989.

Abu Tauhied Ms, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 1990.

Ahmad Fuad al Ahwānī, At Tarbiyah fī al Islām, Al Qahirah: Dār al Ma’arif, tt

Ahmad Muflih Saefuddin, “Kualitas Akademik Lulusan Tarbiyah” (Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional dan Sarasehan Mahasiswa Tarbiyah, Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UII, Yogyakarta, 22 – 23 Januari 1992)

Agus Mirwan, Teori Mengajar, Yogyakarta: Sumbangsih Offset, 1989.

Al Gazalī, Ihyā’ ‘Ulūm ad Dīn, Bairut: Dār al Fikri, 1989, Cet. ke-2.

At Tirmiżī, Sunan Tirmiżī Jāmi’ as Sahīh, ttp: Dār al Fikri, 1974

Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986, Cet. 5,

Ibnu Kaśīr, Tafsir al-Qur’ān al-Karīm, Al-Haramain: tanpa penerbit, tth.

Ibn Manzūr, Lisān al ‘Arab, Bairut : Dār Lisan al ‘Arab, tth.

Muhammad Jawad al-Magniyah, Tafsīr al-Kasyīf, Bairut: Dar al-Ilmi li al-Malayan, 1967.

Muzayin Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991

Saleh Muntasir, M, Mencari Evidensi Islam, Jakarta: Rajawali, 1985.

Syekh Ahmad Mustafa al-Maragī, Tafsir al-Maragī, Mesir: Mustafa al-Bani al-Halbi, 1974.

This entry was posted in makalah, Pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to MENGHADIRKAN KEPRIBADIAN DAN SIFAT KETUHANAN DALAM DIRI PENDIDIK MUSLIM

  1. eko says:

    nice blog…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s