Konsep Kesimbangan Beribadah


Term ibadah dalam Islam dipersepsikan sebagai amalan suci dalam bentuk ritus-ritus agama. Amalan jenis ini sengaja diproyeksikan sebagai simbol identitas kehambaan seorang manusia di hadapan sang pencipta. Kalau pengertian ini mau diperlonggar, apa yang disebut ibadah sebenarnya bukan hanya terbatas pada amalan vertikal menyangkut hubungan hamba dengan Tuhannya. Sebaliknya, pengertian ibadah dapat menjangkau pula jenis-jenis amalan horisontal sesama hambanya sejauh amalan tersebut ditransendenkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebijakan dengan niat yang manusiawi dan bijak pula.

Dalam sebuah kata hikmah disebutkan:

“Acap kali perbuatan yang berdimensi duniawi, namun karena baiknya niat yang dimiliki maka ia menjadi perbuatan akhirat. Sebaliknya, banyak perbuatan yang berdimensi ukhrawi, namun karena niatnya yang jelek maka berbalik menjadi perbuatan duniawi”.

Ibadah dalam Islam tidak diarahkan pada pembentukan hidup rahbaniyyah, yakni kehidupan kaum paderi dalam agama Kristen yang cenderung mengabsolutkan aspek ibadah tanpa pantulan nilai-nilai sosial kemanusiaan. Sebaliknya, ibadah dalam Islam difungsikan untuk mengingat kebesaran Tuhan setelah manusia bergelimang dengan pergulatan hidup sehari-hari. Anjuran untuk berkreasi dan berbudi daya adalah suatu hal yang niscaya bagi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tetapi kepuasan memburu materi bukanlah suatu jaminan kebahagiaan setiap manusia. Dalam kaitan ini, pemantulan nilai-nilai spiritualisme dalam wujud, misalnya, bermeditasi dan berkontemplasi, merenung tanda-tanda kebesaran Allah, menjadi sesuatu yang sangat besar maknanya. Oleh karena itu, Islam mensyariatkan jenis-jenis pelaksanaan ibadah harian, seperti shalat lima waktu (ash-shalawat al-mafrudhah) yang dalam QS. Al-Ankabut [29]: 45 dinyatakan mempunyai fungsi mencegah perbuatan mungkar; ibadah tahunan semisal puasa Ramadhan yang amat efektif untuk peningkatan kualitas iman dan takwa (QS. Al-Baqarah [2]: 183); pembayaran zakat demi menyangga tegaknya keadilan ekonomi di tengah ketimpangan sosial akibat tersumbatnya pemerataan sistem distribusi; serta sejumlah praktik ritual keagamaan lain, baik yang bersifat wajib maupun sunnah.

Contoh lebih gamblang mengenai bentuk keseimbangan Islam antara aspek ibadah dan segi-segi lain yang mesti dijalankan umat manusia sebagai makhluk sosial tertuang secara lugas dan tegas dalam QS. Al-Jumu’ah [62]: 9-10:

“Wahai orang-orang yang beriman apabila datang panggilan shalat Jum’at maka bersegeralah kalian untuk mengingat Allah dan tinggalkan jual beli, yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya. Kemudian setelah shalat selesai ditunaikan maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah keutamaan Allah dan sering-seringlah mengingat Allah agar kalian beruntung”.

—————

Diambil dari Buku “Islam Akomodatif” karangan Dr. H. Abu Yasid, LL.M halaman 44-48.

This entry was posted in filsafat, Hadis, Pemikiran, Resensi Buku, Tafsir and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s