Mengupas Bidadari Surga Menurut Ali Al-Shabuni


bidadariPenciptaan Bidadari

Dalam masalah penciptaan bidadari, al-Sābūnī tidak membahasnya secara luas, dan juga tidak menyampaikan pemikirannya secara rinci, kecuali sedikit yang diambil dari riwayat Ibn Abbas dan hadīs Ummu Salāmah, sehingga penjelasan al-Sābūnī dalam hal ini, tidak bisa betul-betul menjawab bagaimana proses bidadari diciptakan. Oleh karenanya, dalam hal ini penulis akan membandingkan sedikit penafsiran al-Sābūnī tentang ayat yang terkait dengan penciptaan bidadari dengan pendapat Ibn Qayyim.

Hanya saja yang perlu digarsibawahi dari pendapat al-S{ābūnī mengenai penciptaan bidadari di surga adalah, bahwa al-S{ābūnī mengakomodasi pendapat yang menyatakan bahwa sebagian bidadari berasal dari wanita mukminat di dunia, bahkan dijadikan lebih cantik.[1]

Al-Sābūnī menjelaskan penciptaan bidadari ini ketika memberikan tafsīr atas Qs. Al-Wāqi’ah:35-38.[2] Al-S{ābūnī menyatakan bahwa maksud firman “innā ansya’nāhunna insyā’” adalah bahwa “Aku jadikan wanita-wanita surga itu sosok yang baru, yang pembuatannya sangat mengherankan.”[3] Sifat menta’ajubkan ini terjadi karena –sebagaimana telah dipaparkan di atas- proses penciptaan maupun jenis makhluk yang diciptakan bersifat “baru”, sehingga masih asing bagi makhluk yang berasal dari dunia.

Al-Sābūnī dengan mengutip Ibnu Jazi dalam kitabnya al-Tashil fi ‘Ulūm al-Tanzīl menyatakan bahwa makna insya’ al-nisa yaitu Allāh menciptakan mereka sebagai makhluk baru yang sangat cantik tidak seperti di dunianya. Di surga nanti, walau ketika di dunia telah menjadi seorang nenek-nenek, ia akan kembali menjadi muda, serta tidak memiliki cacat dalam rupanya, ia akan berubah menjadi gadis yang cantik mempesona.[4] Dengan mengutip Ibnu Abbas dari Tafsīr al-Khāzin, al-Sābūnī mempertegas pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa nenek-nenek yang sudah lanjut usia, ompong dan kempot (tidak punya gigi lagi) akan dijadikan oleh Allāh kembali perawan sebagai makhluk yang sama sekali sudah lain.[5]

Demikian pula, perempuan yang di dunia sudah dijima’ oleh suaminya, oleh Allāh akan dijadikan perawan, hanya kembali mencintai suaminya, serta sangat menggairahkan, dan usianya sepadan dengan suaminya, yang rata-rata 33 tahun.[6] Nampak di sini bahwa al-Sābūnī meletakkan konsep bidadari yang berasal dari perempuan mukminat di dunia, sehingga dalam hal penciptaan bidadari ini, al-Sābūnī hanya membahas bidadari yang berasal dari wanita sālihat di dunia, tidak membahas bidadari yang khusus diciptakan di akhirat. Sehingga penafsiran al-Sābūnī pada ayat-ayat ini dan yang seperti ini, tidak bisa dikaitkan dengan penafsirannya yang memberikan makna r secara netral kelamin.

Terkait dengan ayat tersebut, al-Sābūnī juga mengutip hadīs terkenal yang berasal dari Ummu Salāmah, bahwa ketika Nabi ditanya mengenai bidadari surga, Nabi menjawab, “mereka adalah wanita-wanita dunia yang di saat kematiannya mereka dalam keadaan lanjut usia, kempot, ompong dan bungkuk, yang dijadikan Allāh kembali dalam usia yang sama.”[7]

Al-Sābūnī juga meriwayatkan hadīs yang menginformasikan tangisan seorang wanita tua, ketika Rasūlullāh menyatakan bahwa orang yang sudah tua tidak bisa masuk surga. Wanita tersebut memangis karena merasa peluangnya masuk surga tidak ada karena usianya yang sudah tua. Lalu nabi pun memberitahukan bahwa ia nanti akan masuk surga bukan dalam keadaan lanjut usia, karena Allāh telah berjanji bahwa para wanita akan dijadikan kembali perawan dan berusia muda.[8]

Jadi jelas bahwa penjelasan al-Sābūnī mengenai penciptaan bidadari hanya menyangkut bidadari yang berasal dari wanita sālihah dunia, tidak termasuk bidadari yang khusus dicipta di surga. Memang sejauh informasi al-Qur`ān, tidak terdapat ayat yang mengetengahkan atau mengisyaratkan tentang bagaimana bidadari surga diciptakan.

Berbeda dengan al-Sābūnī, Ibnu Qayyim menggali banyak riwayat mengenai penciptaan bidadari yang tidak berasal dari wanita dunia. Dengan mengumpulkan berbagai informasi ‘ulamā’ dan hadīs Nabi, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa bidadari surga diciptakan dari za’faran, khususnya yang diperuntukkan bagi para wali Allāh, yang disediakan pengantin yang tidak pernah dilahirkan oleh Adam dan Hawwa’.[9] Sehinga karena bahan baku dari za’faran tersebut, maka bidadari surga memancarkan cahaya dan sinar gemerlap yang mempesona siapapun yang melihatnya. Sementara mereka semua telah bersiap menunggu suami-suaminya di pintu surga.[10] Demikian menurut Ibn Qayyim.

Tentu sampai di sini justru diketemukan kelebihan dari al-Sābūnī dalam memberikan tafsīran atas ayat-ayat Tuhan. Al-Sābūnī hanya menggunakan riwayat-riwayat yang jelas dan mutawātir, dan tidak mau menggunakan riwayat yang bersifat dugaan, cerita, mitos, tidak mutawātir, serta mengundang polemik. Nampak bahwa al-Sābūnī ingin membiarkan al-Qur`ān bercerita mengenai isi dirinya sendiri.

Perbedaan antara Pelayan Surga dan Bidadari

Al-Qur`ān dalam Qs. Al-Rahmān secara jelas membedakan antara pelayan surga dengan bidadari. Bidadari bukanlah pelayan surga, namun ia merupakan makhluk khusus yang memiliki jenis pelayanan surgawi yang khusus pula.

Penyebutan pelayan-pelayan surga juga dibedakan secara tersendiri dengan bidadari surga. Dalam al-Qur`ān, terdapat dua ayat pokok mengenai pelayan surga, satu ayat disebutkan secara mandiri, tidak memiliki rangkaian ayat dengan penyebutan bidadari, dan satu ayat lainnya disebutkan dengan berangkaian dengan ayat-ayat tentang bidadari.

Istilah yang dipakai al-Qur`ān mengenai masalah pelayan surga adalah “wildānun mukhalladūn”. Wildānun berarti anak-anak muda. Berdasarkan akar katanya, mukhalladūn memiliki dua arti, namun tetap mempunyai muara makna yang sama. Pertama berasal dari kata al-khuld yang artinya baka atau abadi, kekal, tidak mati selama-lamanya.[11] Dan kedua dari kata al-khildah dengan jamak khilādun berarti orang yang mengenakan anting dan gelang. Ini merupakan simbol bagi pelayan-pelayan abadi. Dalam istilah Arab julukan (laqab) “mukhalladūn” dikenakan bagi orang yang lanjut usia tetapi tidak beruban, giginya terjaga, tidak rontok.[12] Jadi wildānun mukhalladūn diterjemahkan sebagai pelayan-pelayan muda yang tetap dalam kemudaannya.[13]

Ayat tentang pelayan surga yang berdiri sendiri adalah Qs. Al-Insan:19:

Ayat bidadari 1“Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.” (Qs. Al-Insan:19).

Sedangkan ayat yang berangkai dengan ayat-ayat tentang bidadari adalah Qs. Al-Wāqi’ah:17-18:

Ayat bidadari 2“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (Qs. Al-Wāqi’ah:17-18).

Terhadap ayat tersebut al-Sābūnī menafsirkannya “terhadap mereka selalu didampingi pelayan yang berkhidmat yang terdiri atas anak-anak muda di sekelilingnya, mereka tidak pernah mati dan tidak pernah berubah.”[14] Sifat utama para pelayan surga itu adalah: terdiri atas anak-anak muda, selalu berkhidmat terhadap penghuni surga, selalu siap memberikan pelayan sesuai keinginan penghuni surga (mengelilingi para penghuni surga), tidak berubah keadaan kemudaannya, belum pernah terjamah atau tersentuh oleh apa dan siapapun (maknūn), sangat rupawan, tidak mati,[15] selalu dalam pekerjaan pelayanan yang ditunjukkan dengan ayat bahwa mereka selalu berhiaskan gelas minuman, beserta cerek dan slokinya. Diberikannya pelayan-pelayan tersebut, menurut al-S{ābūnī memang dikhususkan bagi orang beriman dikarenakan perilaku al-abrārnya sewaktu di dunia.[16]

Sedangkan sifat para pelayan surga yang diibaratkan sebagai mutiara yang bertaburan mengisyaratkan bahwa para pelayan tersebut memiliki kebeningan kulit yang memukau dan kebagusan wajah yang mempesona. Mengutip al-Rāzī, al-Sābūnī menyatakan bahwa pernyataan itu mengandung tasybīh al-‘ajīb, dengan mutiara yang bertebaran itu, maka keindahan dan keistimewaan mutiara semakin nampak kian nyata.[17]

Penafsiran al-Sābūnī tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim, bahwa ada dua hikmah besar mengapa pelayan surga dibuat bertebaran di mana-mana: pertama, menunjukkan bahwa para pelayan surga tidak pernah menganggur. Mereka mondar-mandir di surga dalam rangka berkhidmah kepada penghuni surga dan memenuhi keperluan mereka. Kedua, bahwa mutiara yang disebar di atas permadani dari emas dan sutra itu lebih indah di mata daripada dikumpulkan di satu tempat.[18]

Al-Sābūnī dalam tafsīrnya tidak menyebutkan bagaimana para pelayan surga diciptakan. Sedangkan Ibnu Qayyim menginformasikan bahwa dalam masalah ini, terdapat dua pendapat: pertama, bahwa para pelayan surga diciptakan dari anak-anak muslim dunia yang meninggal dalam keadaan tidak memiliki kebaikan dan keburukan. Mereka menjadi pelayan surga karena di surga tidak ada proses kelahiran. Selain itu juga berasal dari anak-anak yang meninggal dunia di masa kecil. Pendapat kedua adalah, bahwa para pelayan surga diciptakan khusus di surga sebagaimana juga bidadari yang diciptakan khusus di surga. Inilah yang dipegangi oleh Ibnu Qayyim.[19]

Dari uraian tersebut jelas, bahwa al-Sābūnī membedakan antara bidadari dengan pelayan surga. Pelayan surga adalah terdiri atas anak-anak muda yang diciptakan di surga yang berfungsi bagi pelayan penghuni surga, termasuk melayani bidadari yang menjadi pasangan penghuni surga. Sementara bidadari adalah pasangan penghuni surga, dengan tugas menjadi tambahan kenikmatan bagi mereka. Kesamaannya dengan bidadari adalah bahwa mereka diciptakan khusus di surga, dan belum pernah tersentuh oleh apa dan siapapun.

ainul_mardiah-bidadari surgaCiri-ciri Bidadari di Surga

Dalam menjelaskan sifat-sifat atau ciri-ciri bidadari di surga, al-Sābūnī dalam penafsirannya tidak melebihi apa-apa yang diinformasikan olah al-Qur`ān. Ia hanya bersifat lebih memperjelas mengenai sifat bidadari menurut al-Qur`ān. Secara terperinci, sifat-sifat bidadari menurut al-Sābūnī adalah sebagai berikut:

  1. Sosok pasangan yang suci. Menurut al-Sābūnī, bidadari di surga disucikan dari kotoran hissiyah maupun maknawiyah. Dalam hal ini, al-Sābūnī juga mengutip ‘ulamā’ lain yang menyebutkan bahwa bidadari disucikan dari kotoran haid, nifas, buang air maupun dahak. Namun al-Sābūnī menyambungnya dengan pernyataan bahwa wanita dunia mukminah di hari akhir lebih cantik dibanding bidadari.[20] Sehingga yang dimaksud suci dari haid, nifas dan kotoran kewanitaan lain adalah bidadari yang berasal dari wanita mukminah dunia. Secara tidak langsung, al-Sābūnī menekankan bahwa ada dua jenis bidadari di surga, yaitu: bidadari yang berasal dari dunia, yang menjadi pasangan suaminya dari dunia juga, jika sama-sama beriman; dan bidadari dan bidadara yang khusus diciptakan di surga.
  2. Diciptakan abadi. Keabadian menjadi ciri yang menyatu bagi bidadari, sebagaimana keabadian alam akhirat. Menurut al-Sābūnī, keabadian inilah yang menjadi salah satu kunci kebahagiaan yang sempurna. Karena penghuni surga bersama pasangannya berada dalam tempat yang aman dan bersanding hidup dengan pasangan-pasangannya dalam buaian keabadian yang tiada pernah putus.[21] Dengan begitu keabadian akhirat menurut al-S{ābūnī, karena tiada putus, merupakan keabadian yang mutlak, tanpa batas waktu lagi, atau tiada dimensi ruang dan waktu yang membatasinya lagi.
  3. Dipingit di dalam kemah mutiara. Al-Sābūnī berpendapat, bahwa maksud dari maqsūt fī al-khiyām, adalah bahwa bidadari di surga hanya berjalan-jalan keliling di sekitar kemah, bahkan lebih banyak berdiam di dalamnya, tidak keluar karena kehormatan dan kemuliaannya, dalam kemah yang terbuat dari mutiara yang memang disediakan untuk mereka. Mereka membatasi diri hanya dalam ruangan yang terbuat dari mutiara itu.[22]
  4. Memiliki adab atau akhlak mulia. Bidadari di surga menurut al-Sābūnī, merupakan wanita-wanita sālihah yang memiliki akhlak yang sangat mulia di samping rupanya yang sangat cantik.[23] Jadi makna khairātun hisān, memiliki dua dimenasi; wajah yang jelita dan akhlak yang mulia.
  5. Hanya untuk pasangannya sendiri saja. Bidadari di surga, menurut al-Sābūnī, memiliki sifat hanya membatasi pandangan matanya kepada pasangannya saja, dan tidak memandang yang lain, seperti keadaan wanita-wanita pencinta dan penyayang.[24] Jadi kekhususan pasangan menjadi ciri utama bagi bidadari surga.
  6. Belum pernah tersentuh, terjamah, dan tersenggamai oleh siapapun. Salah satu sifat utama bidadari menurut al-Sābūnī adalah keperawanannya yang sejati. Belum pernah ada seseorangpun yang pernah manjamah dan menyenggamainya kecuali pasangannya di surga itu, baik dari manusia maupun jin. Mereka betul-betul perawan yang sejati (ting-ting).[25] Hanya saja nampaknya sifat ini dikenakan pada bidadari yang dicipta khusus di surga, menilik pernyataan bahwa belum pernah tersentuh oleh makhluk. Jika wanita mukminah di dunia, pasti sudah mengalami persentuhan dengan pasangannya di dunia, walaupun di akhirat dijadikan perawan sejati kembali. Namun kalimat al-S{ābūnī jelas menunjukkan kebelum-pernah disentuhnya bidadari itu sebelum di surga. Mengutip pendapat dari kitab al-Tashil, al-Sābūnī mengemukakan bahwa penyebutan kalimat lam yatmishunna insun walā jānn sebanyak dua kali dalam Qs. Al-Rahmān ini, pertama ditujukan bagi kelompok al-sābiqūn, dan yang kedua bagi kelompok ashāb al-yamīn. Jadi penggambaran sifat-sifat surga untuk masing-masing kelompok orang beriman memiliki perbedaan dan kekhususan sendiri-sendiri, surga bagi kelompok pertama lebih tinggi dibanding bagi kelompok yang berikutnya.[26] Sehingga menurut al-Sābūnī, tingkatan bidadari yang diberikan pun berbeda untuk masing-masing kelompok orang beriman.
  7. Menyerupai mutiara yang paling mulia. Bahwa bidadari di surga, menurut al-Sābūnī menyerupai yāqūt  dan marjān dalam kebeningan dan kemerah-merahannya (bersih dan sangat mulus) sampai-sampai tembus pandang.[27] Mengutip Qatadah, al-Sābūnī mengemukakan bahwa dalam bersih dan beningnya menyerupai yāqūt, sedang kemerah-merah-jambuannya (kecantikan yang tiada tara) menyerupai marjān. Segala sesuatu yang dimasukkan dalam yāqūt , pasti akan dapat dilihat dari semua sisi.[28]
  8. Berada di tempat yang tinggi. Menurut al-Sābūnī, bidadari di surga berada di atas dipan atau ranjang yang tinggi, empuk, dan nyaman. Hal ini didasarkan pada hadīs riwayat Hakim yang menyatakan bahwa tingginya dipan itu seperti tingginya langit dengan bumi yang untuk mencapainya membutuhkan waktu selama limaratus tahun.[29] Namun bukan berati bahwa untuk mencapainya sulit. Mengutip al-Alūsi, al-Sābūnī menyatakan bahwa jika seseorang ingin naik turun dipan, maka dengan sendirinya dipan tersebut akan menyesuaikan diri. Jika seorang mukmin ingin naik, maka dipan tersebut akan turun, kemudian setelah orang tersebut naik, maka dipan itu akan mengangkatnya.[30]
  9. Diciptakan sebagai makhluk yang sama sekali baru. Bidadari merupakan makhluk yang diciptakan khusus di surga, yakni berupa makhluk yang sama sekali baru dalam penciptaan, lagipula bersifat unik. Sehingga ia menjadi makhluk yang mampu mendatangkan keta’juban luar biasa. Keelokan dan keanehan penciptaan itu terjadi, karena memang berbeda sama sekali dengan segakla jenis ciptaan di dunia.[31]
  10. Selalu dalam keadaan perawan. Sifat abkāra, oleh al-Sābūnī diberi makna tafsīr sebagai perawan ting-ting sepanjang masa. Setiap kali pasangannya mendatanginya, setelahnya langsung kembali perawan lagi.[32]
  11. Memiliki kecintaan dan kerinduan menggebu kepada pasangannya. Para bidadari di surga memiliki semangat kecintaan serta kerinduan yang menggebu-gebu. Mengutip Mujahid, al-Sābūnī mengatakan bahwa salah satu sifat bidadari adalah agresif terhadap pasangannya, dalam hal bermain cinta.[33]
  12. Berusia rata-rata muda. Menurut al-Sābūnī, bidadari di surga memiliki usia yang rata-rata muda, dan sama dengan pasangannya, yaitu berusia 33 tahun,[34] sebuah usia puncak kedewasaan dan usia yang sangat agresif dalam hal percintaan.
  13. Kecantikannya dan kesuciannya tidak ada yang menyamai. Bahwa bidadari di surga memiliki kecantikan dan keelokan tiada tara, kebeningan yang sangat, demikian pula seperti mutiara yang tersimpan, kesuciannya yang belum pernah tersentuh.[35] al-Sābūnī mengutip hadīs Ummu Salāmah yang menggambarkan bahwa kejernihan run ‘īn ibarat mutiara yang tersimpan di tengah lautan yang belum pernah tersentuh oleh tangan.[36]
  14. Memiliki fisik yang sempurna. Bidadari di surga memiliki bentuk fisik yang paling sempurna, yang ditunjukkan dengan gairah yang tinggi dari keperawanannya, serta bentuk payudara yang menyembul keluar. al-Sābūnī memperkuat tafsīrnya ini dengan mengutip al-Tashil, bahwa kata al-kawā’ib merupakan bentuk jamak dari ka’ib yang memiliki arti dasar gadis perawan yang menonjol (keluar tegak) bentuk payudaranya.[37]
  15. Usianya sama dengan suaminya. Sebagaimana dijelaskan pada poin sebelumnya (poin l) bahwa usia bidadari di surga setara dengan pasangannya. Tidak lebih dan tidak kurang.[38]
  16. Selalu bersenang-senang dengan sumianya. Dijelaskan oleh al-Sābūnī bahwa orang-orang beriman akan masuk ke surga bersama pasangan-pasangan wanitanya (isterinya) yang beriman. Kemudian di dalam surga mereka berni’mat-ni’mat, bersenang-senang (istisrār), sehingga kebahagiaan itu memancar dari wajah-wajah mereka.[39] Sifat ini –sebagaimana diberikan tafsīrnya oleh al-Sābūnī – mengarah pada dua hal; bahwa bidadari dalam ayat ini adalah bidadari yang berasal dari wanita mukmin di dunia, yang bersama suaminya yang beriman bersama-sama masuk surga. Dan di dalam surga, mereka bersenang-senang sebagai suami isteri, di mana kata tuhbarūn, bermakna istimtā’ (hubungan badan).
  17. Keanggunan yang sempurna. Bidadari di surga, baik yang dari wanita mukminah di dunia, maupun yang khusus diciptakan di surga, semuanya memiliki keanggunan yang tiada tara, (sehingga digelari run ‘īn), sebagai deskripsi puncak tentang sosok yang rupawan dan dipenuhi segala kesempurnaan, demi memenuhi kebahagiaan para penghuni surga.[40] Kembali lagi di sini ditekankan oleh al-Sābūnī, bahwa julukan run ‘īn adalah bersifat netral kelamin.

Bidadari dan Amal Perbuatan Manusia

Dalam al-Qur`ān tidak semua informasi yang menyangkut surga selalu disertai dengan adanya bidadari di dalamnya. Informasi tentang surga yang disertai informasi adanya bidadari di dalamnya hanyalah menyangkut pada beberapa tempat, yang sekaligus mencantumkan informasi jenis sifat dan amal s}ālih tertentu dari orang beriman.

Sebelum membahas pendapat al-Sābūnī tentang hubungan bidadari dan amal perbuatan manusia, ada baiknya jika penulis kemukakan gambaran umum mengenai surga dari dalam al-Qur`ān. Dalam al-Qur`ān, jumlah ayat yang berkaitan dengan surga berjumlah 174, adapun yang berkaitan dengan kata dasar jannah berjumlah 159.

Istilah surga sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta suwarga yang bermakna tempat kebahagiaan puncak.[41] Sedang istilah tersebut digunakan oleh umat Islām untuk menerjemahkan kata jannah dalam bahasa Arab, yang arti harfiahnya adalah kebun, atau taman yang penuh keindahan,[42] sebagai tempat bagi orang-orang yang menemukan kebahagiaan kekal di akhirat.

Dalam Qs. Ali Imran3;15 Allāh melukiskan, bahwa surga terdiri dari sungai-sungai yang indah, kekal, bagi penghuninya tersediakan pasangan hidup (suami atau isteri) yang disucikan dan diridhai Allāh. Sifat keindahannya melebihi segala kenikmatan yang ada di dunia, walaupun itu mencakup keindahan hiasan wanita, anak-anak, harta dari emas maupun perak, kendaraan pilihan, binatang ternak maupun segala hewan piaraan serta sawah dan ladang.

Sehingga diingatkan bahwa surga itulah yang merupakan tempat kembali manusia yang terbaik. Bagi penghuninya disediakan mata air banyak yang mengalir serta menyejukkan penghuninya, dan setiap memasuki pintu-pintunya selalu disambut dengan ucapan “masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dari semua kesalahan lagi aman dari kematian serta dari hilangnya keni’matan,” dilenyapkan segala dendam maupun perasaan buruk, selalu merasa bersaudara dengan saling mencintai dan saling memuliakan, tidak ada lagi kelelahan, dan kebahagiannya bersifat abadi karena memang surga berwatak suci dan bahagia selamanya.[43]

Mereka semua mengenakan perhiasan dari gelang-gelang emas serta mutiara, di samping mengenakan sutra, dikarenakan dahulu di dunia mereka mematuhinya untuk tidak bermegah-megahan. Dan ini adalah sebagai penghargaan atas iman dan amal sālih} mereka (Qs. Al-Hajj 22;23).

Rumah-rumah mereka berupa edung-gedung bertingkat yang di bawahnya banyak mengalir sungai yang beraneka warna (Qs.Al-Zumar39;20). Sungai-sungai tersebut tidak pernah mengalami perubahan baik rasa dan baunya. Jenisnya sangat variatif, ada sungai-sungai air susu, sungai arak yang lezat dan tidak beralkohol, sungai-sungai madu yang disaring, dan juga disediakan segala kebutuhan dan keinginan akan buah-buahan sebagaimana pula disediakan segala ampunan (Qs. Muhammad 27;15).

Adapun penghuni surga adalah orang yang beriman dan beramal sālih}, yang tidak pernah tersentuh oleh neraka,[44] yang disebut sebagai kelompok al-su’adā’, orang-orang yang menemukan kebahagiaan (Qs. Hud11:108), yang berbahagia karena kebajikan-kebajikannya.[45]

penghuni-surga

Para penghuni surga itu disucikan dari segala dosa, segala keinginan terpenuhi, dimuliakan dengan segala kenikmatan, masing-masing orang memiliki tahta beserta hiasannya, dengan pelayanan minum-minuman yang sedap rasanya sesuai keinginan surgawi dalam piala-piala yang indah yang dibawakan oleh para bidadari yang “jinak” (Qs. Al-Sāffāt37; 40-49, 60-62). Di sinilah kaum mukmin memperoleh segala yang dikehendakinya (Qs. Qaaf50;35). Orang-orang beriman ini akan berkumpul kembali dengan keluargannya atau yang dikasihinnya di dunia dulu, jika memang sama-sama beriman, dan masing-masing tak ada yang pahalanya berkurang (walaupun mungkin di dunia dulunya sebagian amal dan do’anya, pahala diperuntukkan bagi keluarganya yang lain –Qs. Al-Tūr52;21). Dan tentu saja kebahagiaan tertinggi adalah diberikannya mereka wajah yang berseri-seri dan dengan wajah itulah mereka “melihat Tuhan” [ru’yah] (Qs. Al-Qiyamah75;22-23).

Surga diciptakan oleh Allāh tidak hanya satu jenis. Sejauh pernyataan harfiyah al-Qur`ān, surga berjumlah empat. Empat surga itu pun oleh Allāh diklasifikasikan dalam dua gambaran. Pertama, surga yang terdiri dari pohon-pohonan serta buah-buahan, memiliki dua mata air, segala buah dan makanan yang diinginkan berdatangan sendiri, penghuninya duduk dalam permadani sutra di bawah rerimbunan pepohonan dengan didampingi oleh bidadari yang belum/tidak pernah tersentuh, seperti permata yakut dan marjān. Di sinilah segala bentuk kebaikan dibalas (Qs. Al-Rahmān55;46-63).[46]

Kedua, surga berwarna hijau yang memiliki dua mata air yang memancar, penuh dengan buah-buahan terutama kurma dan delima, juga dihiasi dengan bidadari yang baik dan cantik jelita yang dipingit dalam ruang-ruang khusus, serta belum pernah tersentuh, dengan kesucian abadi, mereka bercengkerama dan duduk-duduk dalam tahta hijau berpermadani indah. Semua ini tidak lain adalah menunjukkan keagungan Allāh (Qs. Al-Rahmān55; 64-78). Nampaknya surga kedua inilah yang lebih realistis, dan inilah surganya para Nabi, syuhadā’, shiddīqin, dan lihīn. Di bawah yang berwarna hijau, masih ada yang berwarna kuning, merah, putih dan hitam sesuai dengan derajat penghuninya.[47]

Surga tersebut hanyalah disediakan bagi orang yang bertaqwa, dan mereka senantiasa selalu berusaha dan berdoa. Dalam Qs. Ali Imran3;15-17 dicantumkan sebagian ahli-ahli surga yakni yang melakukan;

  1. Berdo’a rabbanā innanā āmannā fagfirlanā żunūbanā waqinā ‘ażāb al-nār,
  2. Shabar,
  3. Qānitāt [ketaatan yang tidak pernah luntur],
  4. Menafkahkan hartanya dijalan Allāh,
  5. Selalu meminta ampun di waktu sahur (sebelum fajar mendekati subuh).

Jadi surga merupakan alat tukar yang diberikan Allāh hanya kepada orang-orang yang memberikan jiwa dan hartanya demi jihad Islām,[48] bertaubat, beribadat, selalu memuji Allāh, melawat untuk mencari ilmu dan berjihad serta berpuasa, selalu ruku’ dan sujud, mengerjakan ‘amar ma’rūf nahi munkar secara aktif serta selalu memelihara hukum-hukum Allāh (Qs. Al-Taubah9;111-112). Mereka itulah yang disebut sebagai golongan kanan yang paling dulu beriman (Qs. Al-Wāqi’ah56;8-10), yang sebagian besarnya adalah ummat terdahulu sebelum Rasūlullāh, dan sebagian kecil adalah umat Rasūlullāh Muhammad (ayat 13-14).

Bagi mereka akan diberi pahala; (1) tahta dari emas, (2) selalu akrab antara satu dengan yang lain, (3) selalu muda, (4) disediakan segala macam minuman yang tidak memabukkan dan tidak membosankan, (5) tersedia segala aneka buah-buahan yang tiada henti, (6) daging-daging segala hewan, (7) bidadari yang seperti mutiara tersimpan, (8) tidak ada perkataan buruk sama sekali kecuali ucapan salām dan dikelilingi pohon-pohon bidara tanpa duri serta pisang-pisang yang indah dan lebat, (9) diberi naungan yang luas dan indah, (10) air yang senantiasa tercurah, (11) kasur-kasur tebal dengan bidadari yang tetap perawan, sebaya serta penuh cinta dan kasih-sayang.

Allāh juga membuat tamsilan surga itu sebagai tempat bagi orang yang bertaqwa yang sungai-sungainya mengalir terus menerus, buah-buahannya tumbuh tanpa henti, dan kerindangannya menaungi dengan teduh (Qs. Al-Ra’d13:35). Sedangkan sungai-sungai itu tidak pernah rusak, sungai susunya tidak pernah berubah cita rasanya, sungai-sungai minuman yang lezat, sungai madu yang murni-bersih, segala macam, buah-buahan, dan disertai dengan penuhnya ampunan Allāh. Dan ini berkebalikan dengan kondisi neraka yang disiapkan konsumsinya dengan air yang mendidih dan api menggelegak (Qs. Muhammad 47:15).

Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa janji surga yang diiringi dengan janji adanya bidadari di surga hanya menyangkut amal-amal tertentu, walaupun secara umum disebutkan bahwa hal itu teruntuk bagi orang beriman dan beramal sālih}.

al-S{ābūnī menyebutkan bahwa kabar gembira dengan surga yang teriring dengan janji pasangan bidadari diperuntukkan bagi orang beriman yang bertaqwa, menegakkan keimanan dan ketaqwaannya dengan perilaku sehari-hari,[49] dan di dunia termasuk orang yang muhsinun, yang merupakan hasil terkumpulnya watak keimanan dan amal sālih},[50] mengutamakan kebajikan dalam segala segi (al-abrār) dan mengataskan keataatan kepada Allāh,[51] yang dengan al-abrār serta al-‘amal al- sālih} itulah di akhirat wajah mereka akan diputihkan oleh Allāh.[52]

Keimanan mereka adalah suatu sikap pembenaran total atas ayat-ayat Allāh, yang dengan itu ia benar-benar berserah diri atas hukum-hukum Allāh serta semua perintah-Nya, dan berislām atas-Nya dengan menekadkan dalam hatinya untuk selalu mentaati-Nya.[53]

Bagi mereka, menurut al-Sābūnī, selain mendapatkan balasan berkumpul dengan keluarga, yakni isteri/suami (syarikahum) dan anak-anaknya, juga mendapatkan balasan bidadari sebagai pasangan dan pendampingntya.[54] Jadi, di sini secara jelas, al-Sābūnī membedakan antara isteri/suami bagi ahli surga dengan bidadari. Ini berarti al-Sābūnī memegang pendapat yang menyatakan bahwa bidadari khusus diciptakan di surga.

Karakter lain yang disebut al-Sābūnī, bagi hamba yang mendapatkan nikmat tambahan bidadari adalah seorang hamba yang di saat berdiri menyembah Tuhannya selalu merasa takut karena ia menghisab dirinya atas amalnya sendiri.[55] Sifat khāfa ini tentunya adalah sebagai efek ketaqwaan yang mendalam dalam diri seorang mukmin, yang disebut sebagai selalu berhati-hati dalam menjaga dan mensucikan kerimanannya,[56] sehingga keadaannya mendatangkan kekaguman dari Allāh dan penghuni langit.[57]

Dari hisabnya itulah, kemudian seorang beriman selalu berbuat kebajikan dengan penuh keikhlasan. al-Sābūnī juga menyatakan bahwa hamba yang mendapat karunia surga beserta bidadarinya adalah orang beriman yang dalam beribadahnya dihiasi dengan keikhlasan meng-Esakan Allāh (ikhlas tauhīd). Sehingga bukan karena dorongan takut akan ‘ażāb. Ia tidak pernah kendor dalam hisab pribadinya, tidak pernah bertambah kejelekannya, justru amal kebaikannya yang selalu meningkat.[58]

al-Sābūnī juga menyebutkan karakter; seseorang yang selalu menjadi pelopor atas kebaikan (al-khairāt) dan keadaban (al-hasanāt), baik dari kalangan umat era Nabi maupun dalam masa akhir, selalu mendekatkan diri kepada Allāh, di dalam kesendirian dunia, dalam naungan ‘arsy, dan di tempat ibadah yang dimuliakan,[59] atau tegasnya orang yang dalam ketaqwaannya berada dalam kepengikutan pola Rasūlullāh.[60] Merekalah penghuni tetap surga selamanya.[61] Sebab memang surga disediakan oleh Allāh bagi pemilik sifat di atas –disertai dengan jihad dan bertaubat- yang nikmat-nikmatnya tidak akan berakhir, kebahagiaan penduduknya tidak pernah surut dan segala apa yang diterima mereka tidak bisa dikira-kirakan, apalagi dihitung.[62] Sehingga penggambarannya hanya dapat dilakukan dengan simbol-simbol yang gampang dimengerti manusia.

Jadi terhadap pertanyaan, apakah semua orang beriman yang masuk surga pasti mendapatkan balasan bidadari? Maka dalam hal ini memang dalam tafsīr Safwah -nya, al-Sābūnī tidak pernah menyatakan secara tegas, namun melihat klasifikasi yang disebutkan di atas, nampaknya, jawabannya tidak semua yang masuk surga pasti mendapatkan bidadari. Hanya yang memiliki karakter amal sālihdi atas yang mendapatkan kelengkapan bidadari, sehingga inilah jawaban atas pertanyaan mengapa pahala bidadari disebut sebagai nikmat tambahan.

Klasifikasi tersebut juga mengisyaratkan bahwa yang terpenting bukanlah mendapatkan bidadarinya, akan tetapi jenis amal perbuatan yang menyebabkan seseorang mendapatkan kesempurnaan balasan dengan simbol bidadari itulah yang menjadi tujuan simbol tersebut.

Simbolitas ini semakin nampak, jika ditilik dari segi sastra. al-Sābūnī mengungkapkan bahwa balasan Allāh berupa bidadari yang elok dan belum pernah tersentuh, jelas merupakan bentuk penggambaran yang tidak menyebutkan sisi penggambarannya, oleh karena kata bantu penggambarannya tidak disebutkan pula maka dalam disiplin ilmu sastra arab disebut tasybīh-mursal-mujmal.[63]

Dengan simbolitas-simbolitas itulah, kesenangan manusia yang terpendam dalam dirinya diusik agar berubah menjadi motivasi positif bagi kehidupan keagamaannya. Maka pertanyaan Allāh yang diulang-ulang dalam Qs. Al-Rahmān menjadi sangat relevan, “ni’mat Tuhan yang mana yang bisa kamu dustakan?”. Menurut al-Sābūnī, pertanyaan ini mengandung teguran keras dan celaan,[64] karena tidak ada nikmat yang bisa didustakan, namun dalam prakteknya manusia banyak yang tidak mengaplikasikan. Jadi ruh ayat-ayat simbol tersebut bukan pada bentuk simbolnya, akan tetapi ruhnya adalah kata “ni’mat” sebagai balasan amal kebajikan di surga.[65]


[1] M. Ali al-Sabuni, Safwah al-Tafāsīr, jl. I, hlm. 36.

[2] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Qs. Al-Wāqi’ah 35-38).

[3] Safwah al-Tafāsīr , jl. III, hlm. 291.

[4] Ibid., hlm. 291.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid. Bandingkan dengan Tafsīr al- Qurtubī jl. 17, hlm. 210.

[8] Safwah al-Tafāsīr , jl. III, hlm. 291-292.

[9] Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Tamasya ke Surga, Terj. Fadhli Bahri, Lc, (Jakarta: Darul Falah, cetakan ketujuh, 1424). hlm. 339-340.

[10] Ibid., hlm. 343-345.

[11] Firuzabadī, Op. Cit., hlm. 376.

[12] Ibnu Qayyim, Op. Cit. hlm. 308.

[13] Mushţafa Bisyri, al-Ubairiz fī Tafsīr Garāib al-Qur’ān al-‘Azīz, Pustaka Progresif, Surabaya, 2000. hlm. 313.

[14] M. Ali al-Sabuni, Op, Cit, jl. III, hlm. 289.

[15] Bandingkan dengan Ibid., hlm. 470.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Ibnu Qayyim, Op. Cit., hlm. 309.

[19] Ibid., hlm. 310-311.

[20] M. Ali al-Sabuni, Op, Cit, jl. I, h.36.

[21] Ibid., hlm.36.

[22] Ibid., jl. III, hlm. 283.

[23] Ibid.

[24] Ibid., hlm. 282.

[25] Ibid.

[26] Ibid., hlm. 283-284.

[27] Ibid.

[28] Ibid.

[29] Ibid., hlm. 291.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

[32] Ibid.

[33] Ibid.

[34] Ibid.

[35] Ibid., hlm. 290.

[36] Ibid.

[37] Ibid., hlm. 485.

[38] Ibid., hlm. 291.

[39] Ibid., hlm. 153.

[40] Ibid., hlm. 246.

[41] Muhammad Sholikhin. Berwisata ke Alam Akhirat, (Semarang: Risalah Pengajian Paguyuban ‘Arafah), 2001, hlm. 152.

[42] al-Marbawī, Qāmus Idrīs al-Marbawī ‘Arabī-Malayū, Dār Ihyā’al-Kutub al-‘Arabiyyah Indūnisia, t.t. hlm. 110.

[43] Qs. Al-Hijr15;43-48; lihat Muhammad ‘Alī al-Sābūnī. Safwah al-Tafāsīr  Tafsīr al-Qur`ān al-‘Adzim, (Jakarta: Dār al-Kutub al-Islāmiyah, 1999/1420), jl. II, h.112.

[44] Ibid., jl. I, hlm. 63.

[45] Ibid., jl. II, hlm. 35.

[46] Muhammad Sholikhin, Op. Cit., hlm. 154-155.

[47] Ibid.

[48] M. Ali al-Sabuni, Op, Cit, jl. I, hlm. 525-526.

[49] Ibid., jl. III, hlm. 165.; lihat juga jl. I, 172.

[50] Ibid., hlm. 36.

[51] Ibid., jl. III, hlm. 485.

[52] Ibid., jl. I, hlm. 202.

[53] Ibid., jl. III, hlm. 153.

[54] Ibid., hlm. 246.

[55] Ibid., hlm. 281.

[56] Ibid., hlm. 288.

[57] Ibid., juga hlm. 290.

[58] Ibid., hlm. 29.

[59] Ibid., hlm. 289.

[60] Ibid., hlm. 56.

[61] Ibid., jl. I, hlm. 232.

[62] Ibid., jl. I, hlm. 525; juga lihat Sayid Sabiq, al-‘Aqā’id al-Islāmiyah, Dār al-Fikr, Beirut, 1992, hlm. 302.

[63] Ibid., jl. III, hlm. 298; juga Ali al-Jarimi dan Mushtafa Amin, al- Balagah al-Wadihah, hlm. 25.

[64] Ibid., jl. III, h.288.

[65] lihat misalnya Ibid., h.31 dan 282. Nampak bahwa pensifatan atas bidadari sebenarnya bukan mengacu kepada bidadarinya itu sendiri, tetapi justru ditujukan kepada ni’mat yang diterima oleh penghuni surga.

 

———-

Disarikan dari Skripsi berjudul Bidadari Surga Menurut Ali Al-Shabuni karangan Ali Murtadzo.

Download Ebook lengkapnya:

BIDADARI SURGA MENURUT ALI AL-SHABUNI

This entry was posted in Informasi, Pemikiran, Penelitian, Skripsi, Tafsir and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

47 Responses to Mengupas Bidadari Surga Menurut Ali Al-Shabuni

  1. anonim says:

    kasihan juga saya membacanya….Kasihan kepada para muslimah maksudnya…..

    Sudah di katakan sebagai penghuni neraka terbanyak, ketika masuk surga pun melihat :”neraka batin” ….. menonton suaminya tercinta ngesek dengan 72 bidadari….

    Muslimah dapat apa di surga?? 72 Bidadari laki2??

    Surga kok persis lebih parah dari tempat pelacuran sih??

    • ahmad fahry says:

      kamu jangan mau masuk syurga ya…sebagai pertanggung jawaban fikiranmu yang kotor…

    • nandadang suryana says:

      Yaa memamg betul ,kalau anda berpikiran gitu mungkin karena anda biasa pergi ke tempat ” Pelacuran” . bedanya kalau di Surga kan Legal serta ada ijin yang punya dan gadisnya suci tidak ada penyakit seperti yang biasa anda pakai ,bahkan bukan ijin lagi tapi itu sebagian hadiah bagi orang yang beriman di dunia yaitu melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya . di alam akhir /akhirat khususnya yang menempati surgaalloh tidak ada pekerjaan seperti dibayangkan/ sebagai mana didunia. jadi intinya kesibukan disurga hanya disibukkan dengan istri istri / bidadari-bidadarinya gak ada kerjaan lain, habis kalau gak disibukkan dengan itu mau ngapain? mau ngelamun?
      adapun gadis gadisnya disurga mereka gak ada pikiran sebagaimana pikiran perempuan/Istri-Istri di dunia ada cemburu dan sakit hati tipi , gadis gadis Surga hanya berpikir positif dan fokus hanya kepada satu lelaki /Suami bukan seperti halnya wanita di dunia/ wanita yang anda biasa Pakai

      • Dede says:

        Penjelasanya saya suka banget tuh sob…krna mnurut ane bca sbagial ulasan..di syurga kelak Allah SWT mncabut amarah,dendam,dengki ataupun iri hati..semua bersaudara saling memuliakan,,smua krna balasan yg Allah SWT berikan kpd hamba-Nya yg shalih..

    • wallahu a’lam

      mingkin saja bidadari disurga itu klo didunia kupu2 malam/lacuran
      jadi klo laki2 didunia paling cuma dapet kekuatan utk 1 atau 2 wanita doang ,perjam misalkn,,
      tapi kalau disurga dapet kekuatan utk beberapa bidadari atw puluhan bidadari, pr jam msalkn..tidak ada kata loyo selama nafsumu masih ada

      atau mungkin saja disurga ada yg namanya gigolo/pelayan pria seperti halnya dizaman sekarang..
      jadi kalo perempuan bersuami yg merasa bosan tinggal kesitu aja,,,, bereskan?
      atau perempuan yg belum bersuami merasa kesepian tinggal kesitu aja,,,… bereskan?

      disurga apa saja terlaksana…
      tidak ada larangan apapun
      apa saja boleh ko…

      emangnya disurga ada kata dosa atau haram gitu…?
      kalau ada kata dosa atau haram berarti ada DUNIA LAIN lagi dong…wk wk wk

      klo kamu disurga mau pake kata dosa / haram, balik lagi ajalah kamu keBUMI ga usah hidup diSURGA!!!
      kalu engga mau keBUMI, hidup aja kamu diNERAKA,, Beres kan!!!!

      WALLAHU A’LAM BISHOWAB
      Allah lebih mengetahui dengan sebenar2nya

  2. wong jogja says:

    hm…..gambaran syuuurga yang aneh….btw…..yang ngasih gambaran seperti itu siapa, Tuhan atau jin atau…….?

  3. Assalamualaikum..bagus banget artikelnya, ijin copas yah..sekalian saya masukkan sebagai “Read source di blog saya..Jazakillah (Blog ini yang menginspirasi untuk penamaan blog saya🙂

    • Miftah says:

      Waalikumsalam. Alhamdulillah bila ada inspirasi & hikmah yang bisa didapat dari blog ini. Silahkan dicopas, tapi jangan lupa cantumkan link aslinya ya. Syukron.

  4. kafir13 says:

    Kurang lengkap sumbernya tuh.

    Coba di tambahin dengan sumber buku-buku islami.

    Persetubuhan dengan 72 bidadari syurga.

  5. Maxgrosir says:

    ya sebagai manusia biasa hanya berharap yang terbaik aja gan,😀

  6. dian ancak says:

    Ya,allah..izinkn hamba mndampingi suami hamba d surga kelak…amin

  7. yaya says:

    Hahahahaha

    slimah selamat menikmati di madu dunia akhirat dah hahahaha

  8. RR2 says:

    http://islamdalamfakta.blogspot.com/2013/04/persetubuhan-dengan-bidadari.html
    Kekuatan Seorang Muslim dalam Menggauli Istrinya di Surga
    Tirmidzi rahimahullah men-takhrij hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; ucap beliau:
    “Seorang Mukmin di surga akan diberi kekuatan ini dan itu dalam bersebadan. ” Beliau ditanya, “Apakan dia kuat wahai Rasulullan?” Jawab Rasulullah, “la diberi kekuatan seratus Kali lipat. ” Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan shahih. Lihat Shahihul-Jami’ nomor 1627.

    Darimi rahimahullah dalam Musnad-nya menyebutkan satu riwayat dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu; ia menuturkan bahwa Rasu lullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    ‘Laki-laki penghuni surga akan diberi KEKUATAN SERATUS LELAKI dalam makan, minum, BERSEBADAN, dan MEMENUHI SELERA NAFSU. ” Seorang pria Yahudi berkata: “Yang makan dan yang minum tentu buang hajat.” Rasulullah bersabda: “Kemudian Keluarlah keringat dari Kulitnya sehingga perutnya mengecil. ” Shahihui-Jamf, nomor 1627.

    Al-Bazzar rahimahullah dalam Musnad-nya men-takhrij hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; ia bercerita:
    “Rasulullah ditanya: wahai Rasulullah, apakah kita akan mendatangi istri kita di surga? Jawab beliau: ‘Ya, demi Dzat Yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya seorang laki-laki dalam satu hari mendatanginya hingga SERATUS GADIS’. Silsiiatiil-Ahadits ash-Shiahihah. nomor 367, 375.

    Maka Mahasuci Allah Yang Mahakuat, Yang menganugerahi segala apa yang diingini-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

    MELIHAT INDAHNYA SURGA
    Melihat Indahnya Surga.
    Gambaran Lengkap tentang Surga dan kenikmatannya

    Anda akan dibuat takjub membaca buku ini. Betapa tidak, istana abadi yang merupakan kado terindah yang dianugerahkan oleh Dzat Yang Maha Indah kepada para hamba-Nya yang mampu merealisasikan keindahan taqwa dalam hidupnya, dibeberkan secara detail dalam buku ini. Siapa saja yang diceritakan surga kepadanya, hatinya pasti membuncah, perasaannya menjadi rindu menggebu-gebu ingin segera memasukinya. Sebuah keindahan tiada tara yang belum pernah terlihat oleh mata pandang manusia, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbesit dalam hati semua insan di alam semesta ini.
    Buku yang ada dihadapan Anda ini mengupas secara gamblang berbagai kenikmatan surga yang akan diberikan Allah kepada para penghuninya. Semuanya dibeberkan oleh penulis buku ini dengan gaya bercerita, sehingga dijamin jiwa Anda pasti tergugah, seakan-akan Anda diajak bertamasya mengelilingi surga dan menikmati keindahan abadi di dalamnya. Pesona surga, memang sungguh luar biasa.
    Selamat membaca. Dan dapatkan ‘kepuasan’ ruhiyah bertamasya ke surga melalui buku ini.

    NGESEK SETIAP SAAT DENGAN 100 BIDADARI

    SURGA PELACURAN HHAHHAHAHHAA

  9. RR2 says:

    5.Persetubuhan dengan Bidadari.
    Wahai para wali Allah! Anda akan bertemu dengan seorang wanita yang lebih cantik daripada rembulan. Dikumpulkan untukmu segala faktor yang menyebabkan Anda bergairah untuk bersetubuh. Bersamaan dengan itu pula, Anda akan diberi kekuatan seratus orang laki-laki dalam bersetubuh.

    Para bidadari itu adalah wanita yang suci lagi disucikan, dan Anda pun juga laki-laki yang suci lagi disucikan. Tidak pernah tertimpa suatu penyakit, musibah, kelemahan, impoten, meskipun Anda telah MENYETUBUHINYA SEBANYAK MILAYARAN KALI..

    Persetubuhan itu SUNGGUH suatu persetubuhan yang NIKMAT, MENYENANGKAN, MEMUASKAN, dan tidak ada efek negatif dari setiap sisi. KETIKA ITU NAFSU SYAHWAT ANDA meluap-luap, TIDAK PERNAH TERPUTUS SELAMANYA, tidak ada mani, tidak akan mati, tidak ada dosa dan tidak pula membosankan.

    Ini adalah suatu kenikmatan yang membuat si pelakunya merasa disibukkan.PENYALURAN SYAHWAT INILAH YANG MENJADI PEKERJAAN RUTIN, begitu pula dengan keinginan-keinginan Anda yang lain serta kenikmatan-kenikmatan yang akan selalu tersedia.

    “Sesungguhnya para penghuni jannah pada hari itu berada dalam kesibukan, mereka saling bersendau gurau, mereka dan para istri-istri mereka berada dalam naungan yaitu mereka sama bertelekan di atas sofa-sofa. ” Benar! Kesibukan mereka adalah menikmati para perawan.

    Bagaimana Anda tidak melupakan segala rasa sedih, duka, bencana, malapetaka, siksa para penduduk neraka dan segala macam azab pedih yang menimpa mereka, jika Anda telah diberi banyak sarana mewah lagi nikmat, dan selamanya Anda akan dijauhkan dari kebinasaan, kekurangan, kemalangan, kebosanan dan keletihan.

    Bagaimana pula Anda tidak disibukkan dengan menyetubuhi bidadari, jika di dalam diri Anda selalu terkumpul segala faktor yang mendorong untuk melakukan persetubuhan itu, lapang dada, ketentraman hati, ketenangan pikiran, kekuatan badan, ketinggian postur tubuh, dibarengi dengan kekuatan seratus laki-laki dalam bersetubuh.

    Demikian pula nafsu syahwat mengalir di dalam tubuh Anda selama tujuh puluh tahun.
    Maka Anda pun akan menyetubuhinya dengan penuh gairah dan terus bergairah. Jika Anda telah selesai melakukannya, maka bidadari itu akan kembali suci dan menjadi perawan.

    Bagaimana engkau tidak disibukkan dengan kenikmatan jima’ bersama para bidadari itu, tidakkah Anda menyadari siapa dia yang Anda setubuhi itu? Siapakah dia yang memiliki kecantikan itu? Yang sekiranya telapak tangannya dijulurkan ke dunia, niscaya para makhluk akan terpesona lantaran keelokkannya.

    Seandainya permata paling kecil yang ia kenakan ditampakkan ke dunia, niscaya ia akan menyinari ruangan yang ada di antara langit dan bumi. Dan seandainya ia sendiri (bidadari) muncul di dunia, pastilah ia akan memenuhi dunia dengan bau harum. Dan engkau pun dapat melihat putihnya sumsum tulang betisnya dari luar tujuh puluh pakaian. Sesungguhnya mereka itu adalah para bidadari yang sangat cantik, putih dan mempesona.

    Bagaimana pula para bidadari tidak tersibukkan dengan Anda, sedangkan Anda adalah laki-laki yang memiliki ketampanan seperti Yusuf, sangat muda dan hitam matanya, kemudaan Anda tidak pernah habis, pakaian Anda tidak pernah usang, memiliki hati nabi Ayyub, berpostur seperti nabi Adam, yaitu enam puluh hasta menjulang ke langit, dan berumur tiga puluh tiga tahun.

    Akan kembali kepadamu para bidadari yang suci janabat najis baik yang kecil maupun besar, suci dari kencing dan berak suci dari haid dan nifas, suci dari mani, madzi dan wadi, suci dari ingus, ludah dan dahak, suci dari melihat kepada selainmu, bersih dari perkataan keji, dan kekejian, perkataan kotor, melaknat, mencaci, bersih dari akhlak-akhlak buruk, sifat-sifat yang tercela dan bebas dari segala rasa penyakit dan kotoran.

    Demi Dzat yang mengutus nabi-Nya dengan haq, penduduk surga itu lebih mengetahui pasangan dan tempat tinggalnya di surga daripada kalian mengetahui pasangan dan tempat tinggal kalian di dunia. Karena kalian, wahai hamba Allah, akan menyetubuhi tujuh puluh dua istri yang diciptakan Allah secara langsung dan dua istri dari keturunan Adam. Keduanya memiliki kelebihan dibandingkan istri-istri yang langsung diciptakan Allah, karena ibadah mereka kepada-Nya ketika di dunia.
    Bila berada di sisinya, Anda takkan merasa bosan dan dia pun takkan merasa bosan kepada Anda. Bila menyetubuhinya, maka dia akan menjadi perawan lagi. Kemaluanmu tidak akan pernah loyo dan vaginanya pun juga tidak akan pernah merasa sakit. (note : ck ck ck ck. Gue ga bisa bayangin klo ada pendeta yg nulis buku seperti ini : )

    Dia akan memanggilmu, “Sungguh, kami telah mengetahui bahwa engkau tidak akan merasa bosan dan dibosani”. Tidak mengeluarkan mani dan merasakan mati. Di samping itu, Anda juga memiliki istri-istri lain selain dirinya. Kemudian, Anda akan pergi kepada mereka dan menggilirnya satu per satu. Setiap kali Anda mendatangi seorang dari mereka, dia berkata, “Demi Allah, di surga tidak ada yang lebih tampan daripada dirimu dan tidak ada yang lebih aku cintai selain dirimu”.
    Wahai wali Allah, apakah telah datang kepada Anda kabar tentang syahwat yang Anda miliki? Sungguh, syahwat itu akan mengalir di tubuh Anda selama tujuh puluh tahun waktu akhirat. Anda akan mendapatkan kenikmatan tanpa harus mandi janabat; Anda tidak akan merasa lemah, impotensi, letih dan kesusahan.

    Bahkan sebaliknya, persetubuhan yang Anda lakukan adalah persetubuhan penuh kelezatan dan kenikmatan tanpa gangguan. Tahukah engkau bahwa syahwat Anda takkan terputus selamanya ketika bertemu dengan kekasih Anda?Anda akan menyetubuhinya dengan kemaluan yang takkan pernah melemah dan syahwat yang takkan pernah berhenti. Anda akan selalu bergairah dan terus bergairah tanpa mengeluarkan mani dan merasakan mati.
    Duhai, betapa indah rayuan dan kelembutannya ketika jima’. Duhai, betapa indah kerinduan dan ketaatannya kepada suaminya. Duhai, betapa cantik wajahnya dan betapa indah pergaulannya kepada suaminya. Duhai, betapa manis cinta dan kegenitannya kepada suaminya.

    ADUHAI TIPUAN IBLIS DENGAN SYUUUUUUURGA PELACURAN HAHHAHAHAHA

  10. RR2 says:

    Bab 6
    Istri Penghuni Surga

    Wahai wali Allah! Tidak ada seorang pun yang dimasukkan oleh Allah ke surga kecuali ia pasti memiliki 72 (tujuh puluh dua) istri; yakni 2 (dua) istri dari kalangan bidadari yang bermata jeli dan 70 (tujuh puluh) istri yang diwarisi dari para penghuni neraka (maksud kalimat, “yang diwarisinya dari para penghuni neraka”, yakni para lelaki yang masuk neraka, sehingga para penghuni surga pun mewarisi istri-istri mereka, sebagaimana istri Fir’aun juga akan diwarisi). Note : masya aulohhhhhh..pantesan muslimers selalu ngedoain kafirers masuk neraka, ternyata supaya mereka bisa dapetin istri2 para kafirers..astafiruloh.Aku berlindung dari godaan SETAN ini .

    Tahukah Anda tentang bidadari? Ya, mereka adalah para istri yang suci yang akan mendatangi Anda. Mata mereka genit menggoda. Mereka menghiasi dirinya dengan ikat pinggang yang amat menawan. Menyelimuti dirinya dengan minyak wangi kasturi. Bola mata mereka sangat hitam, dan pandangan mata mereka tertunduk malu, dan seluruh bagian tubuh mereka dihiasi dengan mutiara dan permata yakut. Mereka selalu memanggil dengan suara-suara yang genit, merdu lagi enak didengar. Mereka mengatakan :

    Kami adalah wanita-wanita yang abadi dan tidak akan pernah mati selama-lamanya.
    Kami adalah wanita-wanita yang genit dan tidak akan pernah berbuat jahat selama-lamanya.
    Kami adalah wanita-wanita yang bermukim dan tidak akan pernah bepergian selama-lamanya.
    Kami adalah wanita-wanita yang selalu ridha dan tidak akan pernah marah selama-lamanya.
    Kami adalah bidadari yang jelita bagi para suami dari orang-orang yang mulia.
    Kami adalah gadis-gadis yang berakhlak mulia bagi para hamba yang beriman.
    Maka berbahagialah bagi siapa saja yang menjadi milik kami dan kami menjadi miliknya.

    Allah telah menciptakan mereka (bidadari-bidadari) secara langsung, dan menjadikan mereka gadis-gadis perawan, sangat mencintai suami-suami mereka, sebaya dalam umur, cantik jelita laksana mutiara yang tersimpan baik. Sesungguhnya para bidadari itu seperti mutiara dan marjan, jalannya adalah berlari-lari kecil (harwalah}, simponi (nyanyian tanpa kata-kata)nya amat mengenakkan lagi menawan serta mempesona, sangat mencintai suaminya, hanya terpingit untuk suaminya, dan tertutupi terhadap selainnya, pandangannya tidak terumbar kepada semua laki-laki, sehingga ia pun tidak melihat kepada selain suaminya.

    Bidadari tersebut belum pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. SETIAP KALI IA SELESAI DIGAULI OLEH SUAMINYA, maka sang suami mendapatinya MENJADI GADIS PERAWAN KEMBALI. la mengenakan 70 (tujuh puluh) pakaian yang aksesoris dan warnanya bervariasi. Bagi dirinya, membawa semua pakaian tersebut sangatlah mudah dan lebih ringan daripada rambutnya sendiri.

    Di antara para istri tersebut, tidak ada satupun melainkan pasti MEMILIKI VAGINA(qubul) yang begitu MENGGIURKAN, dan ia pun (si penghuni surga itu) juga akan memiliki PENIS (dzakar) yang TIDAK AKAN PERNAH BENGKOK (impoten).

    AJARAN MESUM ASLI DARI IBLIS ARAB HAHAHA

    • IKRQ says:

      SELAIN SUKA NEROCOS GAK JELAS, KAYAKNYA LU LEBIH PAHAM SOAL SEKS DEH. TRUS KALO MUSLIMAH PUNYA SURGA, LU PUNYA APA? KALO UDAH WAKTUNYA TUA GAMPANG KOK FIRR..LU TINGGAL MODARRR AJA. GO TO HELL WAAKAKAKAKAKAKAKAKKKK
      TRUS KALO KITA MAU PATUH SAMA TUHAN KITA EMANG KENAPA? LU NGIRRRIIII??
      IYALAAAAH NGIRRIIIII.. DI DUNIA AJA ELU GAK LAKU PALAGI DI AKHIRAT…GKGKGKGKGKGK…….LU NGIRI SAMA KITA ORANG KARNA LU GAK PUNYA SURGA. MAU TAU KENAPA LU GAK MASUK SORGA KARNA LU UDAH TERLANJUR IMPOTEN ….EH MUNGKIN UDAH DIKEBIRI DARI LAHIR HUUUAAAAHAHAHAHAHAHAHAHAH NGENEESSSS IDUP LOOOOEH

      • RR2 says:

        ngiri?idih ga deh slemot, jijik iya gue ngebaca janji sesat setan arab hahaha

        syuuuurga lendir buat oranh idiot penyembah setan arab hahaha

  11. RR2 says:

    NGOMONG NGOMONG….SELAIN MENJADI PENONTON SUAMINYA NGESEK DENGAN 100 BIDADARI (katanya yang bener sih 72), MUSLIMAH DAPAT APAAN DI SYURGA??

    DAPAT PENIS SISA BIDADARI LAIN?? kocak dah

    • emang lu pikir syurga tempat apaan?
      disyurga tidak seperti dibumi

    • wallahu a’lam

      mingkin saja bidadari disurga itu klo didunia kupu2 malam/lacuran
      jadi klo laki2 didunia paling cuma dapet kekuatan utk 1 atau 2 wanita doang ,perjam misalkn,,
      tapi kalau disurga dapet kekuatan utk beberapa bidadari atw puluhan bidadari, pr jam msalkn..tidak ada kata loyo selama nafsumu masih ada

      atau mungkin saja disurga ada yg namanya gigolo/pelayan pria seperti halnya dizaman sekarang..
      jadi kalo perempuan bersuami yg merasa bosan tinggal kesitu aja,,,, bereskan?
      atau perempuan yg belum bersuami merasa kesepian tinggal kesitu aja,,,… bereskan?

      disurga apa saja terlaksana…
      tidak ada larangan apapun
      apa saja boleh ko…

      emangnya disurga ada kata dosa atau haram gitu…?
      kalau ada kata dosa atau haram berarti ada DUNIA LAIN lagi dong…wk wk wk

      klo kamu disurga mau pake kata dosa / haram, balik lagi ajalah kamu keBUMI ga usah hidup diSURGA!!!
      kalu engga mau keBUMI, hidup aja kamu diNERAKA,, Beres kan!!!!

      WALLAHU A’LAM BISHOWAB
      Allah lebih mengetahui dengan sebenar2nya

    • IKRQ says:

      KETIMBANG ELU NGGAK DAPET APA APA….MODARRRRR DIHAJAR MALAIKAT MAUT IYA
      MAU DIKETAWAIN GIMANAAAA COBAK KALO IDUPNYA KASIAN GINI HAHAHAHAHAHAHAHA

  12. RR2 says:

    slim2, segeralah anda mati jihad. 72 s/d 100 bidadari berdada montok, bermata jeli, vagina selalu perawan, menanti anda di syuuuuuuuuuuurga awloh tuh hahahah

  13. RR2 says:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , هَلْ نَصِلُ إِلَى نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ فِي الْيَوْمِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ»

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia berkata: diantara para sahabat ada yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan bertemu dengan istri kami kelak di surga?’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: “Seorang lelaki dalam sehari akan bertemu (baca:berjima’) dengan 100 bidadari” (HR. Al Bazzar dalam Musnad-nya 3525, Abu Nu’aim dalam Shifatul Jannah 169, Ath Thabrani dalam As Shaghir, 2/12)

    Dalam riwayat lain:

    قيل : يا رسول الله هل نفضي إلى نسائنا في الجنة ؟ قال : إن الرجل ليفضي في اليوم إلى مائة عذراء

    “Wahai Rasulullah, apakah kami akan berjima’ dengan istri-istri kami di surga kelak? Sungguh seorang lelaki dalam sehari akan berjima’ dengan 100 bidadari“

    Derajat Hadits

    Al Hafidz Ibnu Katsir men-shahih-kan hadits ini (Tafsir Ibni Katsir, 3/292). Al Maqdisi berkata: “Menurutku, semua perawinya tsiqah sesuai dengan syarat hadits shahih”. Al Albani berkata: “Aku sependapat dengan Al Hafidz Ibnu Katsir, dan itulah yang benar. Sanad hadits ini shahih dan kami tidak mengetahui adanya catat di dalamnya. Namun memang Abu Hatim dan Abu Zur’ah memiliki pandangan berbeda” (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/708)

    Faidah Hadits

    Adanya surga dan kenikmatan di dalamnya
    Adanya bidadari di surga
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengetahui sebagian perkara gaib, sebatas yang dikabarkan oleh Allah kepada beliau.
    Salah satu kenikmatan surga adalah seorang lelaki memiliki kekuatan menggauli 100 wanita dalam sehari. Sebagaimana dalam hadits lain:

    إن الرجل من أهل الجنة يعطى قوة مائة رجل في الأكل والشرب والشهوة والجماع

    “Sungguh seorang lelaki penduduk surga diberi kekuatan sebagaimana 100 orang lelaki, dalam hal makan, minum, syahwat dan jima’“(HR. Ahmad no.18509. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid 2230)
    Andai 100 wanita digauli dalam sehari maka tentu lelaki penghuni surga tersebut sangat sibuk. Demikianlah salah satu kesibukan penduduk surga. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

    إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ

    “Sungguh para penduduk surga itu dalam kesibukan yang menyenangkan” (QS. Yasin: 55)
    Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Musayyib, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Al A’masy, Sulaiman At Taimi, Al Auza’i semuanya menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mereka sibuk menggauli para perawan. (Tafsir Ibni Katsir, 6/582)
    Istri shalihah di dunia akan menjadi istri di surga kelak bagi lelaki shalih. Jika seorang lelaki pernah menikah beberapa kali atau ia berpoligami, maka semua istrinya di dunia akan menjadi istrinya di surga kelak. Sedangkan bila seorang wanita pernah menikah beberapa kali di dunia, maka lelaki yang menjadi suaminya adalah yang terakhir. Sebagaimana hadits:

    أن حذيفة قال لزوجته: إن شئت تكوني زوجتي في الجنة فلا تزوجي بعدي، فإن المرأة في الجنة لآخر أزواجها في الدنيا

    “Hudzaifah berkata kepada istrinya: ‘Kalau engkau ingin menjadi istriku di surga kelak, maka jangan menikah lagi sepeninggalku. Karena seorang wanita di surga akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir di dunia‘” (HR. Al Baihaqi, no.13421)
    Selain beristrikan wanita yang menjadi istrinya di dunia, lelaki penghuni surga juga akan beristrikan bidadari-bidadari surga. Sebagaimana firman Allah:

    كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

    “Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga” (QS. Ad Dukhan: 54)
    Para ulama mengatakan, hadits ini bukan menunjukkan bahwa jumlah istri penduduk surga adalah 100. Melainkan hanya menunjukkan kemampuan jima’ para lelaki penduduk surga, yaitu sebagaimana kekuatan 100 orang lelaki. Mengenai jumlah istri, kebanyakan penduduk surga memiliki dua istri:

    أول زمرة تلج الجنة صورتهم على صورة القمر ليلة البدر ، لا يبصقون فيها ولا يمتخطون ولا يتغوطون ، آنيتهم فيها الذهب ، أمشاطهم من الذهب والفضة ، ومجامرهم الألوة ، ورشحهم المسك ، ولكل واحد منهم زوجتان

    “Rombongan yang pertama kali masuk surga berbentuk rembulan di malam purnama. Mereka tidak akan meludah, tidak akan berdahak, dan tidak akan buang air di dalamnya. Bejana-bejana dan sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Tempat bara api mereka terbuat dari kayu wangi. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Setiap mereka memiliki dua istri..” (HR. Al-Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 5065)
    Adapun para syuhada, beristrikan 72 bidadari kelak di surga:

    للشهيد عند الله ست خصال : يغفر له في أول دفعة ويرى مقعده من الجنة ، ويجار من عذاب القبر ، ويأمن من الفزع الأكبر ، ويوضع على رأسه تاج الوقار ، الياقوتة منها خير من الدنيا وما فيها ، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين ، ويشفع في سبعين من أقاربه

    “Orang yang mati syahid di sisi Allah akan diberi enam keutamaan: Allah mengampuni dosanya ketika pertama kali darahnya keluar, ia dapat melihat tempat duduknya kelak di surga, ia dijauhkan dari adzab kubur, ia mendapat keamanan tatkala hari kebangkitan, di kepalanya ia memakai mahkota kehormatan berhias batu rubi yang lebih baik dari dunia dan seisinya, ia dinikahkan dengan 72 bidadari, ia dapat memberi syafa’at kepada 70 orang kerabatnya” (HR. At Tirmidzi no 1663, ia berkata: “Hasan Shahih Gharib”)
    Jika kita renungkan, sungguh betapa malangnya para pezina dan para pengumbar syahwat ke tempat yang tidak halal. Mereka menukar kenikmatan yang luar biasa dengan kenikmatan sesaat yang hina di dunia.
    Salah satu benteng pertahanan seorang lelaki muslim dari dosa zina adalah dengan mengingat-ingat kenikmatan syahwat di surga dan berusaha istiqamah untuk mendapatkannya.

    ………………………………………..

    Muslimin dapat 100 bidadari ngeseks setiap hari….MUSLIMAH DAPAT APA??

    selain DAPAT TONTONAN GRATIS SEKS ORGY??

  14. RR2 says:

    eh salah deh, slimah dapat suami yang kekuatan ngeseknya 100 pria hahahaha

    • wallahu a’lam

      mingkin saja bidadari disurga itu klo didunia kupu2 malam/lacuran
      jadi klo laki2 didunia paling cuma dapet kekuatan utk 1 atau 2 wanita doang ,perjam misalkn,,
      tapi kalau disurga dapet kekuatan utk beberapa bidadari atw puluhan bidadari, pr jam msalkn..tidak ada kata loyo selama nafsumu masih ada

      atau mungkin saja disurga ada yg namanya gigolo/pelayan pria seperti halnya dizaman sekarang..
      jadi kalo perempuan bersuami yg merasa bosan tinggal kesitu aja,,,, bereskan?
      atau perempuan yg belum bersuami merasa kesepian tinggal kesitu aja,,,… bereskan?

      disurga apa saja terlaksana…
      tidak ada larangan apapun
      apa saja boleh ko…

      emangnya disurga ada kata dosa atau haram gitu…?
      kalau ada kata dosa atau haram berarti ada DUNIA LAIN lagi dong…wk wk wk

      klo kamu disurga mau pake kata dosa / haram, balik lagi ajalah kamu keBUMI ga usah hidup diSURGA!!!
      kalu engga mau keBUMI, hidup aja kamu diNERAKA,, Beres kan!!!!

      WALLAHU A’LAM BISHOWAB
      Allah lebih mengetahui dengan sebenar2nya

      • RR2 says:

        Setan goa hira emang lebih mengetahui siap2 manusia idiot yang mau percaya akan iming2 syuuurga lendir hahaha

  15. RR2 says:

    IBLIS mengiming-imingi manusia dengan segala kenikmatan agar manusia tersebut menyembah dirinya.

    SAMA PERSIS dengan jin goa hira sesembahan muslim yang mengiming-imingi muslim yang berotak IDIOT untuk menyembahnya sampai-sampai disediain SYUUUUURGA LENDIR UNTUK MENUMPAHKAN SYAHWAT DUNIAWI DI SANA.

    SADARLAH SLEMOT, kalian itu sudah tertipu oleh janji-janji / iming-iming PALSU JIN GOA HIRA SANG BAPAK SEGALA DUSTA/MAHA PENDUSTA. Mahluk yang kalian sembah itu adalah IBLIS SEJATI.

    Masih tidak sadar juga?? wajar saja kalian masih IDIOT SIH.

  16. RR2 says:

    Jawaban untuk UMAT TERSESAT oleh IMING-IMING IBLIS GOA HIRA:

    Jawab Yesus kepada mereka: “ KAMU SESAT, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan HIDUP SEPERTI MALAIKAT DI SORGA.

    Masih ga sadar2 juga?? SELAMAT TERSESAT OLEH IBLIS SLEMOT hahaha

  17. Pingback: Anting Pria Menurut Islam - Fashion dan Belanja Jadi Satu

  18. Pingback: Model Gelang Perak Laki2 - Gelang Wanita Murah

  19. sigit susilo says:

    Artikel yg sangat bagus.

  20. Krisdarajat says:

    setelah aku baca artikel ini,aku sadar bahwa yang kulakukan kemarin adalah perbuatan dosa

  21. Ahmad Zamroni says:

    Kalau boleh tau, skripsi ini karangan siapa dan dari perguruan tinggi mana? terimakasih sebelumnya.

    • Miftah says:

      Tulisan tersebut Disarikan dari Skripsi berjudul *Bidadari Surga Menurut Ali Al-Shabuni* karangan Ali Murtadzo. Kalau tidak salah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terima kasih sudah berkunjung…

  22. Abi Madara says:

    panjang sekali artikelnya,, tapi sangat enak membacanya,,, seru sekali gan🙂

  23. Wiro says:

    Enak sekali kalau dapat surga? Masak ada Tuhan yang menjanjikan seperti ini di surga ya? Jadi manusia bumi berlomba2 untuk dpt ngesek dengan bidadari dong? Setahu saya surga itu tempat yang sudah terbebas dari nafsu dan hasrat duniawi, tidak ada lagi istilah seks bebas yg legal atau ilegal. Manusia yg disurga itu manusia yg berjiwa murni, tulus, tdk terikat unsur duniawi seperti seks, makan, minum apalagi minum arak.

  24. Toga Andang says:

    haduhh… kok surga jauh banget dari kesucian.. ini mah surganya bolis alias iblis alias lucifer.
    wahai sdr2ku jangan mau ditipu si pendusta ini. Lucifer mmg lihai sekali berpengalaman ribuan tahun menipu manusia. di surga TIDAK ADA hub sex. itu cuma ada di bumi dg maksud beranak cucu. ini surga yg penuh dosa perjinahan, surga yg sarat dg kenajisan yang dibungkus dg hub seks yg suci.. Ma’jan…bertobatlah dari pikiran kotor, dari penyerahan diri terhadap tipuan setan. Mumpung Isa Al Masih belum dtg untuk kedua kalinya (kalian sebut Imam Mahdi ya…)
    masih ada waktu unt bertobat dan menyucikan diri dari keinginan2 durjana…. ayo sdrku … jangan mau ditipu setan, jangan mau dicucuk hidungmu bak kerbau yang dibawa oleh iblis ke kubangan neraka. Yesus sangat mengasihimu semua.

  25. Toga Andang says:

    ayo, pakai logika…. coba pandang dari kacamata kesucian…. mana mungkin Allah yang Maha Suci menyediakan bidadari untuk pemuas nafsu lelaki…. Astaga…
    btw, kalau para perempuan benar mau jujur, mana ada sih yg rela juga suaminya kawin lagi dengan alasan apapun. Kalau alasannya cuma mau beramal mah…. ga usah dikawinin, kasih saja uang dan kebutuhan yg dia perlukan. Please be smart! Jangan mau dibodoh2 setan.

    • rachel says:

      kasian mereka jadi korban nabi palsu dan omongan@imaginasi sex oleh nabi palsu mereka. c pnulis smakan surga sperti dunia. Surga yg spatutnya yah tmpt dimana Tuhan bersemayam@disembah dijadikan tmpt pmuasan nafsu(nga puas kli nafsu dunia mahu bwa nya lgi pergi surga)waduhh..Kasian skali yah. Semoga mereka smua terpanggil dlm nama Tuhan Yesus Kristus..AMEN!

  26. Acep Cmi says:

    Mengapa Laki-laki Disiapkan Bidadari Sedangkan Wanita Tidak Disiapkan Bidadara?
    Pertanyaan:
    لماذا وعد الله الرجال في الجنة بالحور العين، ولم يعد النساء بشيء من ذلك؟ جزاكم الله خيرا
    Mengapa Allah menjanjikan bidadari kepada laki-laki di surga sedangkan wanita tidak disiapkan sebagaimana laki-laki (bidadara)
    Jawaban:
    الحكمة في ذلك -والله أعلم- أن الرجال هم القوامون على النساء، وأنهم إذا وعدوا بهذه الأشياء صار هذا أقرب إلى نشاطهم في طلب الآخرة، وحرصهم على طلب الآخرة، وعدم ركونهم إلى الدنيا الركون الذي يحول بينهم وبين المسابقة إلى الخيرات والنساء تابعات للرجال في الأغلب، فإذا رزق الرجل الحور العين في الجنة مع ما وعد الله به النساء المؤمنات من الخير العظيم والدرجات العالية في الجنة فلهن من الأجر ما يجعلهن زوجات للخيرين من الرجال في الجنة والرجل يعطى زيادة من الحور العين وليس في الجنة أذى ولا منافسة ولا ضرر كما يقع للضرات في الدنيا بل كل واحدة مع زوجها ولو معه آلاف النساء ما تتضرر بذلك ولا تندم من ذلك ولا تحزن من ذلك فالكل في خير وفي نعمة وفي راحة في أنس وطمأنينة اً.
    Hikmah dari hal tersebut – wallahu a’lam– karena laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Jika laki-laki dijanjikan semisal ini maka mereka akan lebih semangat dan berupaya dalam mencari akhirat dan tidak adanya kecondongan terhadap dunia karena bisa menghalangi mereka dengan berlomba-lomba menuju kebaikan.
    Wanita umumnya mengikuti laki-laki. Jika laki-laki (dijanjikan) diberikan bidadari di surga, bersamaan dengan itu, Allah juga menjanjikan bagi wanita yang beriman kebaikan yang besar dan kedudukan yang tinggi di surga (yaitu mereka jauh lebih cantik dari bidadari, sehingga terkadang bidadari tidak ditoleh oleh suaminya sedikitpun, pent). Bagi mereka pahala yang menjadikan mereka istri bagi suami mereka yang baik di surga (wanita di dunia akan mendapatkan suaminya di surga, menjadi suami-istri abadi, pent).
    Di surga tidak ada gangguan, perselisihan dan bahaya sebagaimana yang terjadi pada para madu (istri-istri) di dunia. Bahkan mereka bersatu (hatinya) bersama suami mereka. Walaupun bersama suaminya 1000 wanita, maka tidak membahayakan, tidak membuat menyesal dan bersedih. Semuanya berada dalam kebaikan, kenikmataan, kenyamanan dan ketenangan.[1]

    Catatan:
    -salah satu hikmahnya juga karena laki-laki bertugas mendidik wanita para istri mereka. Dan laki-laki akan diminta pertanggungjawaban terhadap istri mereka. Ketika si istri melakukan kemaksiatan, maka suami juga akan ditanya diakhirat, “mengapa engkau biarkan istrimu bermaksiat? Mengapa tidak kau didik?”. Dan umumnya wanita terkadang mengingkari kebaikan suami mereka (sebagaimana dalam hadits) dan bidadari adalah sebagai motivasi serta hiburan bagi para suami dan laki-laki (misalnya semangat berperang dalam jihad).
    Oleh karena itu jika si istri membangkang dan sulit dididik, maka para suami memiliki hiburan berupa bidadari. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا ؛ إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ ؛ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
    “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya di akhirat dari bidadari akan berkata, “Janganlah engkau mengganggunya, semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu (sebentar) di sisimu, sebentar lagi ia akan meninggalkanmu menuju kami” [2]
    -wanita juga mendapatkan kenikmatan laki-laki yang ganteng, tubuhnya atletis dan penampilan yang sangat menarik. Yaitu suami mereka di dunia (jika suaminya masuk surga). Para suami mereka akan diubah penampilannya menjadi sangat sempurna. Penduduk surga akan menyerupai bentuk bapak mereka nabi Adam ‘alahissalam . Dan Nabi Adam adalah manusia yang paling sempurna, paling ganteng dan paling sempurna penampilannya karena langsung diciptakan oleh tangan Allah Azza wa Jalla.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ آدَمَ
    “Semua yang masuk surga seperti bentuknya Nabi Adam“[3]
    Dalam riwayat yang lain,
    إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُوْلُوْنَ وَلاَ يَتَغَوَّطُوْنَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُوْنَ … وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِيْنُ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُوْرَةِ أَبِيْهِمْ آدَمَ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ
    “Sesungguhnya rombangan pertama yang masuk surga seperti rembulan yang bersinar di malam purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang di langit, mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak membuang ludah, tidak beringus….istri-istri mereka adalah para bidadari, mereka semua dalam satu perangai, rupa mereka semua seperti rupa ayah mereka Nabi Adam, yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit“[4]
    Sebagaimana laki-laki, wanita juga ingin mendapatkan pasangan yang paras dan penampilannya indah. Maka para wanita surga juga akan mendapatkan apa yang mereka inginkan di surga. Sebagaimana firman Allah,
    لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
    “Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik” (Az-Zumar : 34)
    لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
    “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qaaf : 35)

    -jika ada yang bertanya: “Nanti kalau berubah wajahnya, istrinya tidak kenal”?
    Jawabannya: Allah Maha Mampu, logikanya jika kita punya kenalan anak kecil (misalnya adik sepupu), parasnya kurang bagus, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kemudian kita bertemu sekarang dengan keadaan wajahnya yang ganteng. Tentu kita masih ingat si anak kecil tersebut sekarang sudah menjadi pemuda yang gagah.

    -jika ada yang bertanya: “Bagaimana jika wanita yang tidak punya suami di dunia, atau tidak sempat menikah atau suaminya masuk neraka”?
    Jawaban: mereka akan dipasangkan dengan laki-laki disurga (misalnya laki-laki yang belum sempat menikah di dunia, jika mereka ridha). Karena tidak ada yang membujang di surga.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
    “Tidak ada seorang yang membujang pun di surga”[5]

    -tidak ada rasa cemburu dan sakit hati serta perselisihan bagi para istri (laki-laki yang memiliki lebih dari satu istri, maka di surga ia juga dipasangkan dengan istri-istrinya).
    Allah Ta’ala berfirman,
    وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
    “Dan Kami lenyapkan/hilangkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Al-Hijr : 47)
    -semua wanita dunia yang masuk surga lebih tinggi kedudukannya daripada bidadari, mereka lebih cantik. Bahkan jika amal mereka baik, maka kecantikan mereka mengalahkan bidadari. Bisa jadi para bidadari yang sedemikian cantiknya dalam gambaran Al-Quran dan Sunnah, mereka hanya sebutir pasir di pantai, para bidadari tidak lagi ditoleh sedikitpun oleh suami wanita terebut disurga. Oleh karena itu para wanita bisa membuat cemburu bidadari disurga sesuai dengan amal dan kepatuhan mereka terhadap suami dalam perkara yang baik.

    Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

    Saya kutip kopas langsung dari Penyusun: dokter Raehanul Bahraen
    Artikel http://www.muslimafiyah.com
    ________________________________________
    [1] Fatwa syaikh Bin Baz rahimahullah Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/10391
    [2] HR At-Thirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 173
    [3] HR Al-Bukhari no 3326
    [4] HR Al-Bukhari no. 3327
    [5] Lihat As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani

  27. RR2 says:

    hikmahmya dari kisah diatas :

    1. Sesembahan slemot itu germo / muncikari kelas wahid alias tuhannya germo.
    2. Slimah klo ga dapat 72 bidadara, akan mendapatkan tontonan gratis orgy, kalau dapat 72 bidadara berarti jadi budak sex dan digangbang rame sampai selama-lamanya.
    3. Hanya orang idiit yang percaya dengan janji2 syuuuurga lendir versi setan goa hira.

    hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s