METODOLOGI PENELITIAN (SEBUAH PENGANTAR) Bag. 1


PENDAHULUAN

Penelitian adalah pekerjaan ilmiah yang bermaksud mengungkapkan rahasia ilmu secara objektif dengan dibantengi bukti-bukti yang lengkap dan kokoh. Banyak faktor yang mempengaruhi kegiatan penelitian untuk melaksanakan suatu penelitian, terutama yang objeknya manusia. Ilmu yang objeknya dipengaruhi manusia atau beberapa diantaranya yang objeknya manusia itu disebut dengan penelitian sosial. Diantaranya adalah penelitian di bidang ilmu ekonomi, hukum, sosiologi, psikologi, politik, pendidikan, dan lain-lain.

Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian yang akan lebih proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan.

Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.

Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi peristilahan para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama.

 

PENGANTAR METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai “a method of study by which, trought the careful and exhausitive of all acertainable vaidance bearing upon a definable problem, we reach a solution to the problem”. Sejalan dengan itu dikemukakan oleh Sutrisno Hadi bahwa, research dapat didefinisikan sebagai usaha menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha di mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu yang memperbincangkan tentang metode ilmiah dalam menggali pengetahuan disebut metode penelitian.

Membicarakan metodologi sebagai sistem berpikir pada umumnya sebenarnya sama dengan membicarakan eksklusivitas potensi ruhaniah manusia sendiri. Oleh karena itu persoalan metodologi menjadi menarik dan memperoleh status signifikansinya justru terkait dengan prinsip-prinsip umum regularitas kognisi manusia. Ini berarti dalam konstitusi ruhani manusia terdapat norma-norma epistemis yang harus ditaati oleh manusia sendiri demi memenuhi kodratnya sebagai makhluk yang memegang amanah historis.

Tentu tanpa kesukaran sebenarnya memasukkan pembahasan metodologis ke dalam peta kognisi manusia. Namun, ketika perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia tidak lagi sekedar memproyeksikan kebutuhan epistemis yang alamiah, persoalan metodologis menjadi tuntutan baik normatif maupun historisitasnya. Sebab ketika evolusi kesadaran manusia (terutama dengan bentuk sains-teknologis)  telah mencapai status hegemonis baik terhadap alam dan lebih-lebih terhadap dirinya sendiri, persoalan metodologis menjadi wilayah advokasi (justice area) yang menentukan ketepatan dan kebenaran suatu pemikiran.

Metodologi, Aspek-Aspek, dan Urgensitasnya

Metodologi secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari tentang metode-metode. Sedangkan metode sendiri secara umum dapat diartikan sebagai cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Sehingga dengan menggunakan metode suatu tindakan atau kegiatan dapat terlaksana secara rasional dan terarah, serta hasilnya dapat tercapai secara optimal. Barangkali implementasi metode ini terdapat dalam prinsip manajemen klasik model POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, and Evaluation).

Adapun secara teknis istilah metode sering dikaitkan dengan tindakan ilmiah yang berarti sistem aturan yang menentukan jalan untuk mencapai pengertian baru pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Dengan demikian metodologi dapat diartikan sebagai analisa dan penyusunan asas-asas dan jalan-jalan yang mengatur penelitian ilmiah pada umumnya serta pelaksanaanya dalam ilmu-ilmu khusus.

Sebagai disiplin ilmu yang mandiri, metodologi dalam orientasi kerjanya mengadakan generalisasi dari fakta-fakta metodis yang terdapat dalam ilmu-ilmu khusus, serta menempatkan kekhususan metodis suatu ilmu dalam kekhasan obyek atau bidangnya. Dengan demikian kerangka kerja metodologi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dari metode-metode keilmuan yang ada. Kajian terhadap metode-metode dapat dilaksanakan pada tingkat operasionalitas metodis (aspek metodis) yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu khusus. Dari kajian ini diperoleh manfaat dapat menentukan hubungan  di antara ilmu-ilmu yang ada, serta dapat menguji dan membersihkan metode-metode khusus, atau mungkin dapat menggolongkan secara tipikal ilmu-ilmu yang ada berdasarkan beberapa metode yang pokok. Kajian terhadap metode-metode ini dapat juga dilaksanakan pada tingkat konseptualitas (aspek logis). Pada tingkat ini metode-metode dipahami sebagai prosedur penalaran yang mendasari setiap konsep atau teori-teori yang dibangun oleh suatu disiplin ilmu tertentu.

Manfaat dari kajian ini ialah mengetahui ketepatan logis setiap antar konsep dan teori, serta dapat menentukan penggunaan model logika yang dipergunakan dalam setiap ilmu yang ada. Dan kajian terhadap metode-metode ini juga dapat dilaksanakan pada tingkat kefilsafatannya (aspek filosofis). Pada tingkat ini metode-metode dipahami sebagai karakteristik dari hakekat pengetahuan manusia atau epistemologis. Dalam kajian ini dibahas kategori-kategori umum dari pengetahuan manusia, mengelompokkan ilmu-ilmu khusus ke dalam jenjang bidang-bidang pengetahuan manusia, menganalisis setiap istilah teknis dan prosedur kerja metode-metode serta perkembangan teori-teori ilmu pengetahuan yang ada. Dari kajian ini manfaat yang diperoleh adalah dapat menentukan karakteristik epistemologis sebagai dasar bagi operasionalisasi metode-metode yang ada. Misalnya, metode matematika yang menggunakan dalil-dalil tautologis sebagai aksioma-aksioma dasarnya pada dasarnya menggunakan pengetahuan yang diperoleh secara deduktif-a priori yang bersifat rasional. (pure rational). Sehingga penggunaan analisis untuk mengkaji metode ilmu matematika dapat didasarkan pada asumsi-asumsi kaum rasionalisme. Metode ilmu pengetahuan alam menggunakan dasar-dasar induksi-aposteriori dalam metodenya yang pada dasarnya menggunakan asumsi-asumsi pengetahuan yang bersifat empiristis. Sehingga penggunaan analisis terhadap metode ilmu ini dapat dilakukan melalui asumsi-asumsi yang dipergunakan oleh kaum empirisme.

Demikian juga tentang ilmu keagamaan, misalnya yang menggunakan dasar-dasar pengetahuan deduktif-normatif  dapat dianalisis berdasarkan asumsi-asumsi fenomenologis dan lain sebagainya. Dari aspek ini dapat juga diperoleh manfaat dapat mengetahui penggunaan istilah/terminologis dari metode yang dipergunakan dari ilmu-ilmu yang ada. Misalnya, dalil tautologis dari matematika, induktif naif, induktif komplit, observasi, paradigma, postulasi, verifikasi, falsifikasi dan lain sebagainya dari ilmu pengetahuan alam. Dan manfaat yang besar dari kajian ini adalah diketahuinya proses perkembangan dari teori-teori atau paradigma pengetahuan yang ada, baik dalam skala evolusi hingga revolusi. Mengetahui hubungan ilmu dan ideologi dalam segi penerapannya dan lain sebagainya.  

Dengan tinjauan global tentang metodologi tersebut diatas tampaknya disiplin ini sangat perlu sekali dipelajari dan dihayati terutama dalam kaitannya dengan sikap kita sebagai bagian dari lingkup akademisi. Hal ini dapat dilacak dari tuntutan normatif metode-metode sendiri yang sangat terkait dengan operasionalitasnya. Artinya, metode dapat difungsikan secara optimal jika subyek peneliti memiliki sikap yang senantiasa skeptis, yakni selalu mempertanyakan dan mengkritisi setiap dimensi dari permasalahan (obyek); bersikap obyektif, yakni lebih mengedepankan kondisi obyek yang diteliti daripada pertimbangan-pertimbangan subyektifitas; bersikap rasional, yakni memiliki kesabaran intelektual dalam menyikapi setiap permasalahan meskipun terkait dengan situasi riil dirinya sendiri; bersikap lugas (transparan), yakni berani memberikan argumentasi atau pembuktian secara gamblang dan jelas; dan lain sebagainya.

Keseluruhan sikap ini jika dihayati sebagai bagian dari integritas diri tentu saja akan melahirkan sikap yang profesional dibidangnya (yakni keilmuan yang tengah didalamnya). Sebab kadangkala obyek yang obtainable dan metode yang compatible terpaksa tidak memberikan kualitas hasil pengetahuan yang valid dan reliable lebih dikarenakan kualitas subyek peneliti yang tidak memiliki profesionalitas yang cukup adekuat. Disinilah urgensitas membangun integritas diri sebagai akademisi dituntut.

This entry was posted in makalah, Penelitian and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to METODOLOGI PENELITIAN (SEBUAH PENGANTAR) Bag. 1

  1. Fauzil says:

    Minta izin copi bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s