Dalil-Dalil Bahwa Khidr as. Sudah Meninggal


Sebagaimana dengan dasar mengenai hidupnya Khidr as. di atas, kini ada juga mengenai dasar kematian Khidr as. Mereka yang meyakini bahwa Khidr as. sudah meninggal dunia mendasarkan keyakinannya kepada dalil-dalil berikut.

Seluruh hadis yang mengatakan bahwa Khidr as. masih hidup adalah tidak sah, berdasarkan kesepakatan ahl al naql. Tidak ada keterangan yang dapat dipercaya bahwa Khidr pernah berjumpa atau bersama orang dari para nabi dan selainnya kecuali Nabi Mûsâ  as. sebagaimana telah dijelaskan di dalam al Qur’ân surat  al Kahfi ayat 60 – 82. Riwayat-riwayat tentang hidupnya Khidr hanyalah disebut oleh sebagian periwayatnya dengan tanpa menyebutkan kelemahan riwayat tersebut. Adakalanya dikarenakan ketidakmengertian periwayat atau karena sudah jelas bagi ahli hadis. Begitulah penuturan Abû al Khaţţâb ibn Dihyah. Hal ini senada dengan perkataan Abû al Husain ibn al Mubârak ketika ia menelusuri riwayat-riwayat tentang Khidr hidup kekal atau tidak, bahwa hadis-hadis marfû yang menjelaskan tentangnya semuanya adalah wâhiyah (lemah) dan sanad (riwayat) ahl al kitâb adalah gugur karena ketidak- šiqqah-an mereka.

Abû al Khaţţâb juga menambahkan, pengakuan para ulama bahwa mereka pernah bertemu dengan Khidr adalah suatu keganjilan yang cukup serius. Apakah seseorang yang berakal dapat berjumpa dengan seseorang yang tak dikenal dan berkata kepadanya, “Saya Fulân” kemudian ia membenarkannya?[1]

Di antara para ulama yang berpendapat ketidakkekalan Khidr as. adalah Imam  al Bukhârî, Ibrâhîm al Harbî, Abû Ja‘far ibn al Munâdî, Abû Ya‘lâ ibn al Farrâ’, Abû Ţâhir al ‘Abbadî, Abû Bakr ibn al ‘Arabî, Ţâ’ifah, dan lain-lain.[2] Mereka mendasarkan pendapatnya kepada hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda di akhir hayatnya:

صَلَّى بِنَا الَّنِبيُّ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  اْلِعشَاءَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتُكُمْ لَيْلَتُكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ   مِائَةِ سَنَةٍ  مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلىَ ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ  –اللفظ عن البخاري [3

Rasulullah  shalat ‘Isyâ’ bersama kami di akhir hayatnya. Ketika beliau telah salam, beliau berdiri lalu bersabda, “Apakah kalian tahu malam kalian ini? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang masih hidup di muka bumi ini sampai seratus tahun ke depan”, (Lafaz hadis dari al Bukhârî).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al Bukhârî, Imam Muslim, Imam al Tizmizi, Imam Abû Dâwud dan Imam Ahmad dalam masing-masing kitab hadisnya melalui jalur periwayatan yang sangat banyak dan bermuara kepada dua orang sahabat, yakni Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, serta keduanya langsung mendengarnya dari Nabi Muhammad saw., yang artinya ini merupakan hadis marfû. Para ulama ahli hadis telah sepakat mengenai ke-şahîh-an hadis ini termasuk Imam  al Tirmîzî.[4]

Selain berpegang kepada hadis di atas, mereka yang meyakini bahwa Khidr sudah meninggal dunia, mendasarkan kepada firman Allah  dalam al Qur’ân surat  al Anbiyâ’ ayat 34:

وما جعلنا لبشر من قبلك الخلد أفإن مت فهم الخالدون

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyâ’: 34).

Dengan demikian, jelas Khidr as. sudah meninggal dan ini tidak dapat terbantahkan lagi. Dan kalaupun dia masih hidup dan benar-benar anak kandung Nabi Âdam as. dan Siti Hawâ, pasti ada seorang nabi yang ditemuinya selain Nabi Mûsâ  as., sedangkan tidak ada satu pun riwayat şahîh yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan nabi selain Mûsâ  as. Dan apabila ia hidup kekal pasti ia akan menemui masa Nabi Muhammad saw. serta wajib bertemu dengan beliau untuk berbai‘at dan menjadi umat Muhammad saw., karena hal demikian merupakan perjanjian antara Allah  dan para nabi yang diutus-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين

“Dan (ingatlah), ketika Allah  mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasûl yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah  berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah  berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Âli ‘Imrân: 81).

Ringkasnya, jikalau Khidr as. hidup kekal maka ia terikat dengan perjanjian tersebut dan harus menemui Muhammad saw. untuk beriman kepadanya dan ikut serta dalam setiap perjuangannya mensyiarkan agama Islam. Akan tetapi—lagi-lagi—tidak ada satu pun riwayat sah yang menunjukkan bahwa Khidr pernah bertemu dengan Rasulullah  saw. Terlebih, Rasulullah  pernah bersabda,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ثُمَّ أَنَّ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَتىَ النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَبِ فَقَرَأَهُ الَّنبِيَّ  صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَغَضِبَ فَقَالَ أُمَتِّهُوْكُوْنَ فِيْهَا يَا بْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةَ لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتَصَدَّقُوْا بِهِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ  كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ  إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي   —  رواه أحمد [5

Dari Jâbir ibn ‘Abdullâh, sesungguhnya ‘Umar ibn al Khaţţâb datang kepada Nabi  saw. dengan kitab yang diberikan kepadanya dari sebagian ahl al kitâb. lalu ‘Umar membacakannya di hadapan Nabi saw. maka beliau marah dan bersabda, “Apakah kamu ragu padanya, wahai Ibn al Khaţţâb? Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih-jernih, maka janganlah kalian bertanya kepada mereka (ahl kitâb) tentang sesuatu apapun, maka mereka memberitahukan kebenaran kepada kalian, lalu kalian mendustakannya, atau mereka memberitahukan kebatilan kepada kalian, lalu kalian membenarkannya. Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya Mûsâ as. masih hidup, tidak ada keharusan kecuali ia harus mengikuti ajaranku”. (HR. Ahmad).

Hadis di atas, walaupun membicarakan Nabi Mûsâ  as. tetapi ia mengena kepada nabi-nabi lainnya, termasuk Khidr as. Apabila Khidr as. masih hidup maka ia harus bertemu dengan Rasulullah, mengaku beriman kepadanya, mengikuti şalat berjama‘ah dan berjihad bersamanya, sebagaimana Nabi ‘Îsâ as. mengakuinya dan şalat bersamanya sebagai ma’mûm ketika Rasulullah dalam perjalanan Isrâ’ dan Mi‘râj. Karenanya, Abû al Husain ibn al Munâdi mengatakan, banyak orang-orang yang keliru dan sesat dalam memahami hadis sehingga mengklaim bahwa Khidr as. itu hidup kekal sampai hari kiamat nanti.[6]

Untuk semakin memperkuat pendapat bahwa Khidr tidak hidup abadi, para ulama mengangkat hadis tentang perang Badar berikut:

حَدثَّنَا عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ نَبِيُّ اللهِ  صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِلَى الْمُشْرِكِيْنَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةُ عَشْرِ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  اْلِقبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ وَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اَلَّلهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ آتِنِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ إِنْ تُهْلِكَ   هَذِهِ الْعَصَابَةَ  مِنْ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ لاَ تَعْبُدُ فيِ اْلأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ مِنْ مَنْكَبَيْهِ فَآتاَهُ أَبُوْ بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاؤُهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكَبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ كَفَاكَ مِنَّاشِدَّتُكَ رَبُّكَ إِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ فَأَنْزَلَ الله إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ  — رواه الترمذي [7

Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al Khaţţâb, ia berkata, Nabi saw. melihat kaum Musyrikîn yang berjumlah 1000 orang sedangkan para sahabatnya hanya berjumlah 310 orang. Maka Nabi saw. menghadap kiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di bumi ini”. Beliau cukup lama memanjatkan doa kepada Tuhannya seraya mengangkat kedua tangannya sehingga sorbannya terjatuh dari kedua pundaknya. Maka Abû Bakr menghampiri beliau dan mengambil sorbannya kemudian meletakkannya kembali di kedua pundak nabi lalu memeluknya dari belakang seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu. Kemudian Allah  menurunkan ayat (yang artinya) “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. [QS. al Anfâl: 9]. (HR. Tirmîzî).

Melihat hadis di atas, apabila Khidr masih hidup tentu Rasulullah  saw. tidak akan berdoa seperti itu, karena saat itu Khidr tidak bersama pasukan Rasulullah . Jadi, seandainya pasukan Rasulullah  yang berjumlah 310 orang itu mati semua, tentu Rasûl tidak akan khawatir karena masih ada Khidr yang masih menyembah Allah  dan menyebarkan ajaran Islam.[8]

Rasulullah  saw. juga pernah bersabda seusai menceritakan kisah pertemuan antara Mûsâ  as. dan Khidr as.:

يَرْحَمُ الله ُمُوْسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتىَّ يَقُصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا — رواه البخاري [9

“Allah  merahmati Nabi Mûsâ , kita benar-benar menghendaki seandainya ia bisa bersabar sehingga dapat menceritakan kepada kita semua suatu perkara yang terjadi di antara mereka berdua”. (HR al Bukhârî).

Jadi, jikalau Khidr as. masih hidup sampai sekarang, tentu Rasulullah  tidak akan berandai-andai seperti itu, sebab ia akan berada bersama Nabi saw. dan menunjukkan berbagai macam keajaiban-keajaiban kepada beliau.[10]

Golongan yang meyakini bahwa Khidr tidak hidup kekal, selain dalil-dalil berupa ayat al Qur’ân dan hadis-hadis di atas, mereka juga mengajukan argumentasi-argumentasi berupa asumsi-asumsi dari akal pikiran mereka. Misalnya, Ibn al Jauzî berkata, “Seandainya Khidr masih hidup, padahal seperti kita ketahui beliau hidup pada zaman Nabi Mûsâ, bahkan menurut satu cerita sudah hidup pada zaman sebelumnya, tentunya tubuhnya pun sama besar dengan tubuh manusia yang hidup pada zaman mereka, yaitu besar dan tinggi orangnya”.[11]

Berkata Abû al Hasan ibn al Munâdi bahwa Ibrâhîm pernah ditanya tentang Khidr, maka beliau menjawab, “Dia sudah lama mati”. Orang yang mengatakan Khidr masih hidup dan gaib berarti mereka tidak benar. Tentang Khidr yang datang memberi ta‘ziyah kepada para sahabat dan keluarga Rasulullah  ketika beliau wafat, sedangkan orang yang berta‘ziyah tidak nampak dan hanya terdengar suaranya, mungkin saja yang datang itu jin. Begitu juga cerita orang yang mengaku dirinya bertemu Khidr, mungkin saja yang datang itu jin atau syaiţân. Dan mengenai hadis Anas ra. yang mengatakan Khidr masih hidup, para ulama ahli hadis sepakat menolak hadis tersebut. Seandainya ia masih hidup, pasi ia akan datang menjumpai Rasulullah  dan ikut hijrah bersamanya.[12]


[1] Mubârak al Barrâk, al Da‘îf wa al Maudû‘ min Akhbâr al Fitan wa al Malâhim wa Asyrâţ al Sâ‘ah, (Dâr al Salâm, tth.), hal. 108. Lihat juga Labib MZ, Kisah Perjalanan Hidup Nabi Khidhir; Benarkah Nabi Khidhir itu Masih Hidup Ataukah Sudah Mati?, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2003), hal. 94.

[2] Al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536.

[3]Abû ‘Abdullâh Muhammad ibn Ismâ‘îl al Bukhârî, Şahîh al Bukhârî, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998),  hal. 55.

[4] Lebih jelas lihat BAB III pada sabda Nabi saw. menjelang akhir hayatnya.

[5] Abû ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, Musnad al Imâm al Hâfiz Abî ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), Juz 3, hal. 338. Hadis ini telah dijelaskan pada Bab III tentang sumpah Nabi saw.

[6] Muhammad Syams al Haq al ‘Azîm al Abadî Abû al Ţayyîb, ‘Aun al Ma‘bûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud, (Beirut: Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1415 H.), Juz 11, hal. 339.

[7] Muhammad ibn ‘Îsâ Abû ‘Îsâ al Tirmîzî, Sunan al Tirmîzî, (Beirut: Dâr Ihyâ’ al Turâš al ‘Arabî, tth.), Juz 5, hal. 269. Lihat penjelasan hadis ini pada Bab III tentang do‘a Nabi saw. ketika Perang Badar.

[8] Abû al ‘Alâ Muhammad ‘Abdurrahmân ibn ‘Abdurrahîm al Mubârakfûrî, Tuhfah al Ahwâzî bi Syarh Jâmi‘ al Tirmîzî, (Dâr al Fikr, tth.),  Juz 6, hal. 433.

[9] Teks hadis lengkap beserta penjelasannya lihat Bab III pada ucapan Nabi saw. di akhir cerita Mûsâ as. dan Khidr as.

[10] Al Mubârakfûrî, Tuhfah al Ahwâzî, Juz 6, hal. 433.

[11] Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 25.

[12] Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 28.

This entry was posted in Hadis, makalah, Pemikiran, Penelitian, Skripsi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s