Pacaran dan Ramadhan


Pacaran sudah menjadi kemaksiatan yang dirasa biasa oleh beberapa orang, bahkan mereka-mereka yang memiliki kualitas ibadah harian yang dapat dikategorikan baik. Banyak alasan yang digunakan adalah bahwa “kemaksiatan yang dianggap biasa” yang dilakukan itu karena hak asasi manusia. Wow! Alasan yang modern dan luar biasa.

Lalu pertanyaannya, di mana Hak Asasi Allah terhadapnya? Bukankah sudah jelas batas-batas yang Allah berikan? Atau kita menutup mata (hati)?
Sebenarnya tidak masalah melanggar hak-hak Allah selama kita memiliki kemampuan untuk, misalnya: menyembuhkan diri ketika sakit dengan kehendak sendiri, melapangkan dan memudahkan urusan dengan kehendak sendiri, atau mengembalikan ruh ketika sudah sampai di ujung ghargharah (tenggorokan) dengan kehendak sendiri. Tapi sayangnya, tidak bisa. Ada kehendak Allah di sana. Setiap fragmen partikel kita adalah milik-Nya, tempat kita hidup adalah milik-Nya, bahkan nafas-nafas itu sudah jelas perhitungannya di sisi-Nya.

Setiap manusia memiliki hak asasi, ya jelas! Akan tetapi, hak asasi itu tidak boleh berseberangan dengan hak Allah terhadap dirinya. Satu pemikiran sederhana yang terkadang terselimuti (atau sengaja diselimuti) kabut kebodohan, kelemahan atau bahkan pada porsi paling parah adalah kesombongan.

Kepengecutan Laki-laki

Pada dasarnya pacaran (atau hubungan-hubungan serupanya) itu masih bisa berlanjut dengan langgeng disebabkan kepengecutan mutlak sang pria yang bersembunyi di balik kelemahan perasaan sang wanita. Laki-laki itu tidak memiliki keberanian sama sekali untuk tegas dalam bersikap sehingga segala sesuatunya menggantung saja padahal hatinya sudah gundah tak karuan karena setiap hari Allah diabaikan begitu saja. Tetapi memang ada juga yang sudah tidak gundah sama sekali, kalau yang itu semoga Allah kembalikan kemurnian hatinya.

Alasan kedua adalah karena banyaknya orang tua yang dengan senang hati mempersilakan anak-anaknya untuk pacaran. Bahkan terkadang orang tuanyalah yang menelepon dan menanyakan mengapa tidak “bersilaturahim” lagi ke rumahnya. Bayangkan, di dalam rumahnya sendiri, kedua orang tuanya mengizinkan anaknya berduaan dengan yang bukan muhrim atau sangat senang ketika ada orang yang mau mengajak anaknya keluar jalan-jalan. Bayangkan, di depan matanya! Semua terjadi di depan matanya! Bukan backstreet (pacaran sembunyi-sembunyi) atau hal-hal semacamnya. Generasi macam apa yang ingin dicetak oleh orang tua-orang tua itu?

Pernahkah Rasulullah mengajarkan para pemuda dan pemudi muslim untuk pacaran? Lagi-lagi jawabannya hanya karena balutan kebodohan, kelemahan, dan dalam porsi terbesar kesombongan.

Akhiri Sekarang!

Langkah paling pertama untuk mengakhiri hubungan pacaran (HTS, TTM, dll serupanya) adalah dengan meletakkan kepercayaan (keimanan) sepenuh-penuhnya kepada Allah ‘azza wa jalla di dalam hati yang senantiasa berusaha dibersihkan dari berbagai pengotornya. Kepercayaan kepada Allah itu harus purna dengan sempurna tanpa ada satu pun keraguan dan kecongkakan yang tersisa karena pada dasarnya tidak penuhnya kepercayaan kita kepada Allah akan membuat hati mudah terombang-ambing dan dikalahkan oleh nafsu.

Berikutnya adalah keteguhan hati untuk tidak peduli akan cemoohan, sitiran, sindiran, bahkan ancaman dari sesama makhluk. Karena biasanya setelah seseorang memutuskan secara tegas untuk kembali kepada jalan yang benar, akan banyak respon yang diterimanya dari lingkungan sekitar, entah positif entah negatif. Respon negatif inilah yang senantiasa merongrong hati dan pikiran. Respon negatif juga tidak hanya datang dari lingkungan namun juga bisa datang dari diri sendiri. Cara paling efektif untuk melampaui cobaan gundah pasca “putus” adalah keteguhan hati. Di mana, keteguhan hati merupakan buah dari kepercayaan dan keimanan penuh kepada Allah swt.

Satu hal yang perlu diyakini bahwa Allah senantiasa menyiapkan balasan yang jauh lebih indah bagi mereka-mereka yang berjuang untuk kembali kepada-Nya. Untuk semakin bisa meneguhkan dan menguatkan hati, senantiasa berkumpullah dengan orang-orang yang menghadiri majelis-majelis dzikir, karena di sanalah Allah turunkan ketenangan dan keberkahan. Jangan bersembunyi di sudut kamar sendiri saja dan memikirkan berbagai was-was yang tidak beralasan, karena itu hanya semakin membuat diri gundah dan resah. Kecuali, kesendirian itu memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk bermuhasabah dan mengingat-ingat berbagai kesalahan dan kebodohan, serta mengingat-ingat berbagai nikmat Allah yang telah dengan sangat baiknya kita abaikan.

Mari kita sedikit belajar dari salah seorang sahabat, Umar RA. Saat masih musyrik dialah penentang terkeras Rasulullah. Namun, ketika keimanannya purna di hati, dialah penentang berbagai jenis kemusyrikan dan kejahiliyahan. Satu hal yang membuatnya seperti itu, karena ia yakin, melalui Islam, Allah menawarkan kemuliaan dan kebahagiaan yang mengabadi sedangkan kejahiliyahan hanya menawarkan berbagai kebusukan yang dipoles indah namun pada akhirnya berkhianat pada akhir ritual mesra mereka.

Seandainya jika “cover” pacaran kita buka dengan sebenar-benarnya, maka akan ditemukan sebuah kata yang tidak asing lagi bagi kita, bahkan kata ini biasanya menjadi sesuatu yang tabu untuk diungkapkan karena setiap manusia yang memiliki pikiran dan jiwa yang sehat akan senantiasa berusaha menjauhinya, dialah “zina”. Sehingga padanan kata “berpacaran” akan menjadi “berzina”. Wow! Terlalu vulgar memang, tetapi apatah, memang seperti itu kenyataannya.

Sekarang kasus yang menarik adalah, masih banyak pemuda-pemudi muslim yang masih melakukan “apa yang sudah saya paparkan sebelumnya” ketika Ramadhan tiba. Satu bulan penuh berpuasa sembari berjalan berdua dengan pacarnya. Satu bulan penuh tilawah hingga khatam dua tiga kali sembari menelpon dan ber-sms mesra dengan pacarnya, satu bulan penuh juga tarawihnya sembari janji bertemu di masjid atau buka puasa bersama.

Maka, diletakkan di mana Ramadhan yang mulia itu? Diletakkan di mana kesempatan yang Allah buka dengan luas dan lebar untuk menggapai ridha-Nya? Semuanya luntur hanya karena kemenangan nafsu di atas hati, kelemahan diri yang tidak berani berbuat tegas dalam hidupnya yang hanya satu kali, dan lagi-lagi yang paling parah adalah kesombongan yang menutupi kebenaran yang hakiki.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan selamat, “Selamat pacaran sambil Ramadhan” atau “Selamat Ramadhan sambil pacaran”. Manapun yang Anda pilih, toh itu hanyalah hubungan Anda dengan Allah ‘azza wa jalla karena saya pun memiliki urusan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan saya.

Sumber

 

 

 

This entry was posted in Artikel, Informasi, Pemikiran and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s