GELIAT KEBANGKITAN PEMIKIRAN ISLAMI


Judul buku        : Bagaimana Berpikir Islami

Penulis                : Abu Azmi Azizah

Penerbit             : Era Intermedia, Solo

Tahun Terbit    : 2002

Tebal                    : 139 halaman

Kemunduran umat dan kejumudannya masih dapat dirasakan hingga kini dan entah sampai kapan lagi. Bersamaan dengan itu, dunia Barat yang telah mengalami pencerahan , melesat dengan dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi modern yang dibangunnya di atas falsafah materialistik dan sekularistik. Bersamaan dengan dua realitas pradoksal itu, al ghazwu al-fikri (invasi pemikiran) semakin gencar dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

Umat Islam, karenanya, mengidap problem besar:krisis ilmu pengetahuan dan krisis ,pemikiran. Kecenderungan modernitas telah menghantarkan umat dalam kebimbangan dan persepsi yang paradoks antara konsep Islam dengan konsep Barat, tentang ilmu pengetahuan dan pemikiran.

Pemikiran yang dibentuk oleh akidah jahiliyah, ideologi ateisme dan materialisme yang diusung oleh hawa nafsu hanya akan melahirkan teori, konsep atau sistem yang sifatnya spekulatif, dangkal dan menyesatkan. Sebagai contoh adalah teori Libido Sigmund Freud, bahwa yang menjadi motiovasi segala perilaku manusia adalah seks (syahwat); teori kekuasaan Machiavelli, bahwa demi kekuasaan dapat melakukan apa saja atau menghalalkan segala cara. Semua aplikasi dari sitem, konsep atau teori-teori tersebut ternyata hanya membuahkan kesengsaraan dan kenestapaan bagi manusia.

Sebaliknya, sistem, konsep atau teori yang lahir dari akidah Islamiah dan hati nurani yang bersih akan membawa manfaat besar dan membahagiakan manusia, misalnya, sistem khilafah Islam yang merupakan amanah dan pelayanan untuk menjaga kehidupan dan memakmurkan bumi dapat menghilangkan ketakutan dan menggantinya dengan rasa aman.

Muhammad Iqbal menyerukan kepada kita untuk “Membina kembali pikiran agama dalam Islam” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam). Ia mengatakan, “Tugas seorang muslim modern adalah meikirkan kembali keseluruhan sistem Islma tanpa sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lampau.” Namun, harus disadari bahwa solusi seperti ini membutuhkan waktu dan ketekunan. Ini hanya bisa berlangsung manakala ada harakah Islamiyah (gerakan Islam) yang memelopori dan mengusungnya. Setidaknya IIIT, sebuah Lembaga Pemikiran Islam Internasional di Amerika Serikat telah memulainya dengan berbagai seminar dan penerbitan. Geliat kebangkitan Islam ini sudah dapat dirasakan sejak awal abad ke-15 hingga sekarang.

Sesungguhnya, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak mempunyai keyakinan, kepercayaan, iman atau akidah. Keyakina tersebut berpengaruh besar dalam pemikiran dan keilmuan seseorang. Perwujudan dari keyakinan itu akan tampak dalam sikap, tutur kata dan perbuatan seseorang dan secara khusus akan terlihat dalam pemikirannya.

Islam menuntut agar semua pemeluknya meyakini penuh kebenaran wahyu (al Qur’an dan Sunah). Mereka harus yakin akan kecukupan wahyu sebagai sember ilmu dan pemikiran. Menurut Thoha Jabir Alwani, sumber ilmu dan pemikiran ada dua, yakni wahyu (al Qur’an dan Sunah) dan alam semesta (wujud atau universum). Hal ini sangat berbeda dengan pemikiran ilmiah ala Barat yang hanya mengandalkan satu sumber, yakni alam, dan dalam memahaminya pun hanya mengandalkan kemampuan indra dan akal yang jelas kemampuannya sangat terbatas sehingga hasilnya pun tentu juga sangat terbatas.

Buku ini sangat baik dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Disamping penyajiannya dengan bahasa yang mudah dimengerti, lugas dan sederhana, ia juga dapat menggugah kesadaran umat yang sedang mengalami krisis ilmu pengetahuan dan pemikiran. Ia juga menawarkan solusi dan menjelaskan etika serta metodologi berpikir secara Islami yang kemudian ditutup dengan Suplemen: Ulul Albab dan Memahami Ghazwulfikri.

Dengan menelaah buku ini, mudah-mudahan tumbuh keyakinan pada pembaca bahwa berpikir Islami dalam arti sebenarnya pastilah berpikir ilmiah. Sedangkan berpikir ilmiah (dalam pengertian umum) belum tentu berpikir Islami.

“Tidaklah Allah swt. Memuliakan ciptaan-Nya melebihi akal.” (HR. Tirmizi).

* * *

This entry was posted in Pemikiran, Resensi Buku and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to GELIAT KEBANGKITAN PEMIKIRAN ISLAMI

  1. gmcvenus says:

    lam kenal.. pertamax

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s